5 Pesepak Bola Kelas Dunia yang Kini Kariernya Mulai Redup

Info Bola adalah story berita bola hari ini, jadwal terkini, tentang pemain, sepak bola Liga indonesia, Eropa, dan dunia.
Tulisan dari Info Bola tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa pemain muda berbakat berhasil terlepas dari kepompong itu menjadi seperti yang diharapkan: bintang dunia. Setelah menjadi salah satu yang terbaik sejagat, bukan perkara mudah untuk terus berada di performa tertinggi. Tentunya dibutuhkan mental yang hebat seperti semangat, daya juang, serta konsistensi tinggi.
Ada pemain yang digadang-gadang sebagai masa depan dunia sepak bola. Ada pula yang disebut layak menerima penghargaan Ballon d’Or. Namun, tidak semua bisa bertahan menjadi salah satu yang terbaik di posisinya. Beberapa nama yang sebelumnya merupakan bintang besar pun hilang. Pada akhirnya hanya jadi sekadar pemain 'bagus'.
Dengan karier yang cukup mentereng di masa lalu, sekarang performa mereka kerap menurun. Para fans sepak bola pun lupa seberapa hebat dulunya para bintang ini. Dirangkum dari Sportskeeda, berikut lima pemain kelas dunia yang karier sepak bolanya mulai meredup.
1. Arda Turan

Arda Turan saat mengikuti latihan Timnas Turki. (Foto: Bulent Kilic/AFP)
Arda Turan sempat menikmati masa emasnya bersama Atletico Madrid. Mereka berhasil memenangkan Liga Spanyol musim 2013-14, meruntuhkan dominasi Real Madrid dan Barcelona. Arda Turan juga sukses menjadi gelandang serang paling berbahaya. Pada 2013, dilansir The Guardian, gelandang Turki ini masuk peringkat ke-36 dari 50 pemain terbaik sepanjang masa, mengalahkan Alexis Sanchez dan Juan Mata saat itu.
Bermain sebagai playmaker, kemampuan Arda Turan begitu mumpuni dan punya ketenangan yang banyak dipuji ahli sepak bola. Hal tersebut membuatnya direkrut Barcelona dengan harapan bisa mendongkrak performa Blaugrana.
Namun, alih-alih menjadi pemain utama Barca, Arda Turan gagal 'nyetel' dengan gaya permainan tim asal Catalunya tersebut. Dalam tiga musim, hanya tampil 36 laga. Saat ini pun ia dipinjamkan ke klub asal turki, Istanbul Basaksehir. Tentunya, itu menjadi karier bagi gelandang timnas Turki tersebut.
2. Luis Nani

Nani kala berseragam Valencia (Foto: Twitter @LuisNani)
Bersama Manchester United, Luis Nani berada pada jenjang tertinggi karier persepak bolaannya. Nani dengan kemampuan umpan silang hebat serta insting gol yang baik sebagai pemain sayap membuatnya digadang-gadang sebagai 'The Next Ronaldo'. Bahkan, Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney mengakui kehebatan winger Portugal itu.
Nani bertabur prestasi bersama Setan Merah. Ia sukses mengangkat empat piala Liga Inggris, dua Piala Liga, dan satu Liga Champions. Kerap kali disetarakan dengan rekan timnya di negara, Cristiano Ronaldo, dari segi kecepatan, kelincahan, dan selebrasi membuatnya menjadi salah satu pemain terbaik di dunia.
Namun, Nani tak terhindar dari nasib apes. Cedera yang kerap menimpa Nani membuatnya kehilangan tempat di tim utama. Kariernya pun meredup meski usianya saat itu masih termasuk produktif. Pemain Portugal itu pun memutuskan melalang buana ke berbagai klub di Eropa, dari Fenerbahce, Valencia, Lazio sampai kembali ke tim asal, Sporting Lisbon.
3. Mario Gotze

Mario Goetze bersama Timnas Jerman (Foto: Getty Images)
Bermain impresif bersama Jerman, Gotze berhasil membawa 'Der Panzer' menjuarai Piala Dunia 2014. Bersama Borussia Dortmund, Gotze sukses menang dua musim beruntun dan membuktikan dirinya sebagai gelandang berbakat serba bisa. Ia pun digadang-gadang sebagai bakat terbesar Jerman saat itu.
Melihat prestasi Gotze, tak khayal jika manajer Bayern Munchen saat itu, Pep Guardiola, pun tertarik merekrut pemain bertinggi badan 176 sentimeter ini. Namun, dari sana lah titik turunnya karier gelandang muda Jerman tersebut sebagai pesepak bola. Bersama 'The Bavarians', Gotze gagal mendapat tempat reguler dalam taktik Pep.
Piala Dunia 2014 mungkin adalah puncak karier dari Mario Gotze. Sepulangnya kembali Gotze ke klub lamanya, Borussia Dortmund, pada tahun 2016 lalu gelandang serang yang sempat disebut Messi-nya Jerman ini gagal menunjukkan performa maksimalnya. Setelah tak pernah lagi dilirik timnas Jerman, beberapa mengatakan karier Gotze sudah habis. Namun, tidak ada yang tahu suatu saat pemain berusia 26 tahun ini akan kembali maksimal.
4. Angel Di Maria

Pemain sayap PSG, Angel Di Maria. (Foto: GEOFFROY VAN DER HASSELT/AFP)
Bersama Argentina pada Piala Dunia 2010, Di Maria mulai menunjukkan kelasnya kepada dunia. Digadang-gadang sebagai winger terbaik di dunia, Di Maria sering disejajarkan dengan bintang Bayern Munchen, Arjen Robben; dan legenda Barcelona, Romario. Pemain Argentina ini pun memutuskan bergabung bersama Real Madrid tahun 2010 lalu dan menikmati masa emas kariernya.
Kedatangan Gareth Bale yang menggusur posisi Di Maria di tim utama membuat kisahnya bersama 'Los Galacticos' berakhir. Dia memutuskan pindah ke Manchester United tahun 2014 demi kembali mendapat kesempatan main reguler. Namun, sulit beradaptasi dengan permainan di Liga Inggris membuat Di Maria tak bisa berada di top performanya. Gagal total di MU, Di Maria pun pindah ke PSG.
Bersama raksasa Prancis, Paris Saint Germain, karier Di Maria membaik dari pada saat di Manchester United. Walau begitu, dengan adanya trisula Neymar, Cavani dan Mbappe yang selalu tampil maksimal, sulit baginya untuk kembali jadi andalan seperti saat di Real Madrid. Dengan usianya yang sudah 30 tahun, tentunya akan sangat sulit membangkitkan kariernya kembali ke masa keemasan.
5. Mesut Ozil

Mesut Oezil di laga Newcastle United vs Arsenal. (Foto: Reuters/Lee Smith )
Tidak diragukan lagi, Mesut Ozil adalah salah satu 'nomor 10' terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Maestro lapangan tengah ini punya fleksibilitas dan kemampuan teknis yang begitu mumpuni, bahkan sering disamakan dengan legenda Arsenal, Dennis Bergkamp. Tiga musim bersama Real Madrid, Ozil menjadi andalan dengan torehan gol dan assist fantastisnya. Masing-masing satu Liga Spanyol dan Piala Raja dipersembahkan Ozil untuk Madrid.
Meski tampil hebat bersama El Real, Secara mengejutkan Ozil pindah ke Arsenal pada musim 2013-14. 50 juta euro dana yang dikeluarkan serasa layak dengan performa gelandang serang asal Jerman itu yang langsung jadi andalan 'The Gunners'. Menyumbang empat Piala FA adalah pencapaian tertinggi selama bersama manajer Arsene Wenger.
Namun, performa Ozil tiap musimnya kian menurun. Liga Inggris musim 2015-16, 6 gol dan 19 assist; musim 2016-17, 8 gol dan 9 assist; terakhir musim lalu ia hanya mencatat 4 gol dan 8 umpan matang. Terlebih performanya di Piala Dunia 2018 buruk dan penuh kritikan. Tampaknya, karier Ozil sebagai playmaker terbaik di dunia akan segera berakhir. Pensiun dari timnas, Ozil sekarang bisa lebih fokus untuk memperbaiki karier sepak bolanya yang menurun.
