5 Pesepak Bola yang Jadi Korban Rasisme, 2 di Antaranya Hengkang

Info Bola adalah story berita bola hari ini, jadwal terkini, tentang pemain, sepak bola Liga indonesia, Eropa, dan dunia.
Tulisan dari Info Bola tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mesut Oezil tertunduk usai Jerman kalah pada Euro 2012. (Reuters/Thomas Bohlen)
Persoalan Rasisme menjadi masalah yang kerap terjadi di dunia, termasuk sepak bola. Banyak pesepak bola yang menjadi korban nyinyiran bernada rasis yang semestinya tidak boleh dilakukan. Meskipun, pada setiap laga sudah disuarakan kampanye “Say No To Racism” untuk menangkal hal-hal yang berbau rasis, fans masih saja mem-bully para pemain dengan nada rasis.
Nyinyiran fans menjadi hal yang sudah biasa bagi pemain sepak bola. Sayangnya, fans sering kali meluapkan kekesalan mereka terhadap pemain dengan nyanyian atau teriakan berbentuk rasis.
Berikut 5 pemain yang pernah mendapat perlakuan berbau rasisme.
1. Mesut Oezil

Mesut Oezil berduel dengan pemain Austria.(Reuters/Dominic Ebenbichler)
Timnas Jerman secara mengejutkan gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 2018 setelah takluk oleh Korea Selatan, 2-0. Mesut Oezil menjadi sasaran para fans, termasuk para petinggi sepak bola Jerman.
“Di mata Grindel (Presiden DFB) dan pendukungnya, saya adalah orang Jerman ketika kami menang. Tetapi, saya adalah seorang imigran ketika kami kalah,” tulis Oezil pada cuitan Twitter-nya.
Mantan penggawa Real Madrid tersebut akhirnya memutuskan gantung sepatu dari Timnas Jerman. Hal tersebut Ia lampirkan dalam sebuah surat pernyataan.
"Dengan berat hati dan dengan pertimbangan yang mendalam terhadap peristiwa yang terjadi belakangan, saya (memutuskan) untuk tidak lagi memperkuat Timnas Jerman," terang Oezil dalam surat pernyataan yang ia unggah di Twitter.
2. Karim Benzema

Mesut Oezil berduel dengan pemain Austria. (Reuters/Dominic Ebenbichler)Charles Platiau)
Bermain apik saat berseragam Timnas Prancis, Karim Benzema justru tersandung kasus dengan rekan setimnya, Valbuena. Didier Deschamps pernah berkata pada sebuah konferensi pers, “Saya sangat ingin memasang Karim Benzema. Sayangnya, media yang memecatnya dari Timnas Prancis,” ucap Deschamps seperti dilansir So Foot Magazine.
Benzema pun sempat mendapat siulan rasisme dari para fans. “Saya orang Prancis saat Saya mencetak gol dan jika saya tidak mencetak gol atau sedang dalam masalah, saya orang Arab,” ujarnya.
3. Romelu Lukaku

Romelu Lukaku merayakan golnya saat melawan Swedia dalam ajang pertandingan persahabatan. (Reuters/Ints Kalnins)
Title pemain ganas di lini depan Belgia, tak membuat Lukaku terhindar dari serangan rasisme. Kekalahan Belgia melawan Prancis pada semifinal Piala Dunia 2018 dengan skor tipis 1-0, membuat Lukaku jadi salah satu sasaran para fans Belgia.
Hingga akhirnya pada satu kesempatan, Lukaku mengungkapkan kekecewaannya atas hinaan tersebut.
“Ketika semua berjalan lancar maka mereka (fans) memanggil saya Romelu Lukaku, penyerang Belgia. Namun ketika semua tidak berjalan baik, mereka semua memanggil saya sebagai penyerang Belgia keturunan Kongo,” ujar Lukaku seperti dilansir The Players Tribune.
4. Sardar Azmoun

Sardar Azmoun berduel dengan Cedric saat Iran menghadapi Portugal pada laga Fase Grup Piala Dunia 2018. (Reuters/Lucy Nicholson)
Usai tak lolos dari fase grup Piala Dunia 2018, penyerang muda Iran, Sardar Azmoun, memutuskan untuk gantung sepatu dari Timnas Iran. Keputusan ini mengejutkan dunia sepak bola karena usia Azmoun yang relatif muda, 23 tahun.
Seperti dilansir AP, Sardar Azmoun memutuskan pensiun setelah mempertimbangkan kondisi kesehatan sang Ibu. Azmoun menuturkan bahwa sang ibu telah lama jatuh sakit, namun sakitnya semakin parah setelah mengetahui putranya menerima hinaan dari banyak fans.
"Bermain di timnas merupakan sebuah kehormatan bagi saya dan saya akan selalu bangga dengan diri saya atas pencapaian ini hingga akhir hayat. Sayangnya, saya sampai pada keputusan untuk mengucap selamat tinggal pada timnas," ujar Azmoun melalui media sosial personalnya.
5. Edgar Davids

Edgar Davids saat berseragam Ajax Amsterdam.(Reuters/Michael Kooren)
Sebelum Piala Eropa 1996, Timnas Belanda dilanda isu dan konflik rasial antara kulit hitam melawan kulit putih. Puncaknya terjadi pada pertandingan pertama Grup A antara Belanda kontra Skotlandia.
Kubu Kulit Putih mendukung agar Guus Hiddink menurunkan Dennis Bergkamp, namun kubu hitam ingin sang manajer memasang Patrick Kluivert. Belanda takluk oleh Skotlandia setelah Hiddink memutuskan untuk memasang semua pemain berkulit putih.
Edgar Davids hanya salah satunya. Hal ini memicu emosi Edgar Davids. Ia melancarkan kritik pedas dengan bahasa yang kasar untuk sang manajer. Setelah itu, pemain legendaris Juventus tersebut didepak dari Timnas Belanda pada Euro 1996.
