Konten dari Pengguna

Bacary Sagna: Arsenal Kerap Minder Kalau Lawan Tim Besar

Info Bola

Info Bola

Info Bola adalah story berita bola hari ini, jadwal terkini, tentang pemain, sepak bola Liga indonesia, Eropa, dan dunia.

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Info Bola tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemain Arsenal berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Wolverhampton Wanderers di Emirates Stadium, London, Inggris, Sabtu (2/11/2019). Foto: REUTERS/Eddie Keogh
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Arsenal berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Wolverhampton Wanderers di Emirates Stadium, London, Inggris, Sabtu (2/11/2019). Foto: REUTERS/Eddie Keogh

Eks bek sayap Arsenal, Bacary Sagna, membuat pengakuan mengejutkan. Ia menyebut bahwa salah satu faktor yang menghambat The Gunners generasinya dulu untuk menjuarai liga adalah ketakutan saat menghadapi tim-tim besar.

Sagna meniti karier di Emirates Stadium dari tahun 2007 sampai 2014 sebelum pindah ke Manchester City. Waktu itu, Arsenal selalu finis di posisi empat besar klasemen akhir Premier League.

Torehan terbaik Pria asal Prancis itu selama tujuh musim berseragam tim Meriam London hanyalah satu Piala FA pada 2014.

Sagna mengatakan bahwa minimnya prestasi tim asuhan Arsene Wenger kala itu dipengaruhi faktor kepercayaan diri pemain. Arsenal kerap kali minder ketika menghadapi lawan yang punya materi pemain lebih bagus.

"Kami memainkan laga satu demi satu dan kami sering menang. Namun, saat harus tampil bagus pada laga-laga penting, kami malah gagal," ungkap Sagna kepada podcast resmi Arsenal, dikutip dari Metro.

X post embed

"Mungkin itu karena kami terlalu membebani diri sendiri. Banyak laga yang kami menangi. Namun, saat kami harus bertanding melawan tim empat besar, kami kesulitan saat itu," lanjutnya.

Sagna kemudian mencontohkannya saat Arsenal berjumpa Chelsea. Dia dan rekan-rekan setimnya kerap jatuh mental sebelum bertanding. Pasalnya, The Blues saat itu punya deretan pemain bagus seperti Frank Lampard, Didier Drogba dan Juan Mata.

"Mungkin kami kurang mengevaluasi diri. Bermain untuk tim sekelas Chelsea kala itu jelas berbeda. Mereka sering mengandalkan status mereka, pemain-pemain mereka banyak yang masuk tim nasional, dan kami malah sering membicarakan mereka dibandingkan mereka bicara soal kami," tutur Sagna.

"Mungkin di pikiran kami, mereka lebih hebat dari kami. Padahal di lapangan, kualitas kami sebenarnya sama dengan mereka. Saat kami bermain dengan gaya kami, tak ada yang bisa mengalahkan kami."

"Saya yakin akan hal itu. Kami bermain dengan umpan-umpan sederhana, maksimal hanya dua kali menyentuh bola. Tapi kami kurang mengevaluasi diri, dan itu kesalahan besar dalam hidup kami," pungkasnya.