Pencarian populer

Demi Bangkitkan Jerman, 5 Masalah Ini Harus Dibenahi Joachim Loew

Masalah ini arus dibenahi Joachim Loew.

Tahun kelam buat Timnas Jerman tampaknya belum usai. Gagal total di Piala Dunia 2018, kini mereka harus terdegradasi dari Grup A UEFA Nations League. Hal tersebut dilandasi dari Thomas Muller dan kolega yang tak kunjung menunjukkan performa apik, seperti kala menjadi kampiun dunia tahun 2014 lalu.

Kemenangan Belanda dengan skor 2-0 atas Prancis, selain memutus rekor 15 laga tanpa kekalahan sang juara dunia 2018 juga membuat Der Mannschaft turun kasta. Dua kali kalah, satu kali imbang, hasil tersebut tentu bukan rekor yang diinginkan suporter Timnas Jerman. Karena itu, Joachim Loew harus segera berbenah.

Selanjutnya, skuat Joachim Loew akan menjamu Belanda yang tengah bangkit, di Veltins Arena, Selasa (20/11) dini hari WIB. Sekarang ini, Jerman tak hanya buruk dalam rekor kemenangan, tapi juga selisih gol. Lima gol masuk ke gawang Neuer dan hanya mencetak satu gol, membuat Jerman terdampar di posisi ke-11 dari keseluruhan Timnas Liga A.

Walau Joachim Loew masih memotivasi pemainnya setelah degradasi, dengan jujur dirinya mengaku hasil tersebut menyakitkan. Menurut Loew dan punggawa Timnas Jerman, dilansir dari Sportskeeda, “Hasil tersebut tentu saja menyakitkan, tapi kita harus menerimanya."

Tidak diragukan lagi, Jerman harus lebih meningkatkan performa jika ingin mendulang hasil bagus melawan Belanda nanti. Setidaknya ada lima masalah krusial yang perlu dibenahi Timnas Jerman, seperti berikut.

1. Fleksibilitas punggawa skuat

Timnas Jerman merayakan gol ke gawang Irl. Utara. (Foto: Jason Cairnduff/Reuters)

Timnas Jerman terkenal dengan fleksibilitas para pemainnya. Ketahanan dan kedinamisan para punggawa Der Panzer kerap menuai pujian. Namun, tahun ini Jerman mulai kehilangan kemampuan tersebut dan terbukti gagal melaju bahkan untuk lolos dari fase grup Piala Dunia.

Hanyalah Joshua Kimmich yang tampil sesuai harapan. Pemain lain gagal beradaptasi dengan taktik dan keadaan, membuat tim mengalami kegagalan tahun ini. Memperburuk keadaan, pemain senior pun tak bermain sebagaimana peran mereka masing-masing.

2. Tak ada rencana cadangan

Para pemain Jerman meryakan gol Niklas Sule ke gawang Rusia. (Foto: REUTERS/Matthias Rietschel)

Rekor buruk Jerman juga dipengaruhi oleh tidak adanya rencana cadangan. Kala sebuah tim bermain tak sesuai rencana, sudah sewajarnya pelatih mengeluarkan ide lain. Namun, Joachim Loew seperti tak punya cara lain saat taktik Jerman terbaca lawan.

Kritikan semakin menghujani Joachim Loew, yaitu kala tak memanggil Leroy Sane yang tengah berada pada performa terbaik. Hasilnya seperti yang telah terjadi, mereka kehilangan variasi serangan di lini depan dan tidak adanya ketajaman membuat performa di bawah rata-rata.

3. Minim pemain bermental pemimpin

Lahm masih oke di musim terakhirnya. (Foto: Alex Grimm/Getty Images)

Sebelum kegagalan tahun 2018, skuat Jerman begitu berbeda. Mereka memenangkan Piala Konfederasi pertama tanpa sebagian besar pilar utama, juga memenangkan Piala Eropa U-21. Namun, sejak itu performa semakin menurun dan Piala Dunia jadi palungnya, salah satu yang terburuk dalam sejarah tim.

Dengan berbagai bakat muda, publik sepak bola tentu digegerkan oleh kegagalan tersebut. Masalahnya ternyata ada pada pilihan pemain Joachim Loew. Dirinya kurang pilihan pemain dengan mental pemimpin. Pensiunnya seperti Bastian Schweinsteiger dan Philipp lahm memberi dampak yang besar terhadap tim.

4. Lini depan kurang mengancam

Timo Werner (kiri) dan Leroy Sane merayakan gol Timnas Jerman ke gawang Rusia. (Foto: Odd Andersen/AFP)

Sejak pensiunnya Miroslav Klose, Jerman masih belum menemukan penyerang haus gol yang setara. Pemain seperti Mario Gomez dan Podolski yang punya kualitas di lini depan juga sudah tidak muda lagi. Karena itulah Die Mannschaft sampai saat ini krisis penyerang murni

Sebenarnya Joachim Loew sudah memproyeksikan Timo Werner sebagai penerus, tapi dirinya masih terlalu muda. Kematangannya di lini depan masih tidak bisa dijadikan tumpuan utama. Sebagai bukti adalah performanya belakangan, Werner memang punya kecepatan untuk menyulitkan lawan, tapi tidak sebagai pencetak gol utama.

5. Tak adanya kreativitas di lini tengah

Oezil saat membela Timnas Jerman. (Foto: REUTERS/Michael Dalder )

Beberapa waktu lalu, Mesut Ozil memutuskan pensiun dari Timnas. Lewat akun media sosialnya, Ozil mengaku dirinya kerap jadi korban rasisme dan diskriminasi publik sepak bola Jerman. Sepeninggalan sang playmaker, lubang besar itu pun belum bisa ditutup Der Panzer.

Dengan absennya Ozil, praktis lini tengah Jerman kehilangan gelandang kreatif murni. Kroos yang lebih sering bermain di kedalaman gagal menutup lubang itu. Reus dan Muller pun bukan pemain yang sejenis dengan Ozil, sedangkan Kai Harvest dan Serge Gnabry masih terlalu muda. (bob)

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: