Konten dari Pengguna

Tragedi Kelam Liga Tarkam Brasil, Kartu Merah Berujung Mutilasi Wasit

Info Bola

Info Bola

Info Bola adalah story berita bola hari ini, jadwal terkini, tentang pemain, sepak bola Liga indonesia, Eropa, dan dunia.

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Info Bola tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wasit (Foto: taniadimas)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wasit (Foto: taniadimas)

Sebuah pertandingan sepak bola di liga amatir Brasil pernah berakhir dengan cara yang paling menyeramkan. Pada akhir laga, wasit yang memimpin jalannya duel terbagi dalam empat potongan.

Insiden mengerikan tersebut terjadi di Maranhao, Brasil, pada 30 Juni 2013 silam. Keributan bermula ketika wasit, Otavio Jordao da Silva, mengusir seorang pemain keluar lapangan.

Pemain itu adalah Josenir dos Santos Abreu. Akan tetapi, Abreu tidak mengindahkan keputusan itu. Ia menolak meninggalkan lapangan dan menjotos da Silva.

embed from external kumparan

Sebagai pembalasan, da Silva dilaporkan mengeluarkan pisau dari sakunya dan berulang kali menikam Abreu. Sang pemain kehilangan nyawanya dalam perjalanan ke rumah sakit.

Setelah menyaksikan insiden tersebut, sekelompok penonton di pertandingan itu, termasuk teman dan keluarga Abreu, menyerbu lapangan dan menyerang da Silva.

Yang terjadi selanjutnya, segerombolan orang itu mengikat da Silva, memukulinya, merajamnya, memenggal, dan memotongnya menjadi empat sebelum kepalanya ditancapkan di tiang tengah lapangan.

Sebuah laporan dari The New York Times membuka lebih jauh tentang kejadian tersebut, mengungkapkan bahwa da Silva dipukul dengan botol minuman keras di wajahnya, dipukul dengan tongkat kayu, dilindas sepeda motor, dan ditikam di tenggorokan.

Pihak kepolisan telah menangkap salah satu tersangka atas pembunuhan tersebut, yakni Luiz Moraez de Souza. Ia dicurigai memukul kepala da Silva dan mengadu botol rum tebu dengan wajah sang wasit.

Otavio Jordao da Silva. Foto: Facebook

Paulo Storani, seorang profesor dan pakar keamanan yang menghabiskan tiga dekade di kepolisian Rio de Janeiro, menyebut pembunuhan itu insiden yang terisolasi dan mengatakan hal itu tidak mencerminkan kemampuan Brasil untuk memastikan keamanan selama Piala Dunia.

Sebagai pengingat, Brasil adalah tuan rumah Piala Dunia 2014. Pesta sepak bola dunia empat tahunan itu berlangsung 12 Juni hingga 13 Juli dan mengeluarkan Jerman sebagi kampiun.

"Ini adalah sesuatu yang benar-benar luar biasa yang terjadi di daerah terpencil di negara bagian termiskin di negara itu, daerah di mana kekerasan sangat luas," kata Storani dikutip dari Daily Mail.

"Meskipun benar kita terbiasa dengan kekerasan sepak bola di Brasil, ini benar-benar di luar dari apa yang biasanya kita lihat," tandasnya.