Konten dari Pengguna

Pengaruh Media Sosial terhadap Tren Pangan Sehat di Indonesia 2025

I

Info Gizi

Kumpulan artikel yang membahas seputar gizi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Info Gizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sosial Media. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sosial Media. Foto: Unsplash.

Tren pangan sehat di Indonesia terus berkembang, terlebih sejak media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mendapat inspirasi dan edukasi seputar makanan sehat dengan mudah lewat media sosial.

Sebagaimana disebutkan Fikri Faidul Jihad, dkk. dalam jurnal Pengaruh Media Sosial Terhadap Preferensi Makanan Sehat dan Bergizi pada Remaja: Studi di Kalangan Siswa SMA, media sosial berpengaruh terhadap preferensi makanan sehari-hari, khususnya bagi remaja, pengaruh signifikan terhadap preferensi makanan remaja baik dari segi frekuensi penggunaan, jenis konten, maupun interaksi dengan konten.

Media Sosial Sebagai Penggerak Tren Pangan Sehat

Tidak bisa dimungkiri bahwa media sosial punya peran sangat besar dalam membentuk tren pangan sehat. Kemudahan mengakses konten visual dan interaktif membuat tren makanan cepat menyebar, baik berupa kreasi baru maupun pola makan yang dianggap sehat.

Peran Influencer dan Konten Viral

Influencer kerap dianggap sebagai panutan gaya hidup, termasuk dalam urusan makan sehat. Mereka sering membagikan pola makan sehari-hari, berbagi resep sehat, dan mengajak followers-nya mengikuti tantangan seperti "30 hari tanpa gula".

Berbagai konten tersebut memicu tren besar di kalangan pengguna muda dan dewasa. Efek dominonya adalah banyak orang ikut mencoba hingga kemudian mengadopsi pola makan yang diperkenalkan.

Platform Populer untuk Edukasi Pangan Sehat

Instagram menawarkan visual menarik dan tips instan, sementara TikTok menghadirkan video singkat yang mudah dicerna tentang memilih makanan sehat.

Bagi yang ingin memahami lebih dalam terkait pola makan sehat dapat menonton konten edukasi, talkshow, atau review ahli gizi lewat video YouTube yang durasinya lebih panjang.

Baca juga: Dampak Penambahan Pemanis Buatan dalam Susu Rendah Kalori

Pola Konsumsi Makanan Sehat di Kalangan Remaja

Remaja menjadi kelompok usia yang mudah terpapar tren, tak terkecuali tren pangan sehat. Media sosial mengubah pilihan mereka terkait makanan, baik dari segi komposisi, cara penyajian, maupun motivasi mencoba makanan baru.

Studi di Kalangan Siswa SMA

Dalam jurnal Fikri Faidul Jihad, dkk., ditemukan bahwa remaja lebih tergerak mengonsumsi makanan sehat setelah terpapar konten edukasi atau kampanye makanan sehat di media sosial. Dari sini, dapat dilihat bahwa media sosial memiliki peran signifikan dalam membentuk perilaku makan lebih baik.

Namun, tidak semua konten makanan sehat benar-benar bermanfaat. Tidak sedikit remaha yang terpengaruh tren makanan tertentu tanpa mempertimbangkan kecukupan gizi sesuai kebutuhan tubuh.

Faktor Penentu Pilihan Makanan Sehat

Pilihan makanan di antara remaja sering kali dipengaruhi oleh dorongan menjadi sehat, tuntutan tampil menarik, serta ingin diterima di lingkungan pertemanan.

Tekanan sosial dari grup sekolah, komunitas online, bahkan peer group di dunia maya semakin menguatkan keputusan memilih pangan sehat. Selain itu, tren seperti diet populer atau challenge makanan sehat yang viral turut berperan dalam perubahan pola konsumsi remaja.

Dampak Media Sosial Terhadap Mahasiswa

Mahasiswa merupakan kelompok yang sangat dinamis dan adaptif terhadap tren baru, termasuk tren pangan sehat. Mereka umumnya punya akses internet lebih luas dan sering aktif di berbagai platform.

Hasil Studi di Kota Medan

Menurut jurnal Analisis Dampak Penggunaan Media Sosial terhadap Pola Konsumsi Makanan pada Mahasiswa di Kota Medan karya Dika & Irwansyah, terdapat perubahan pola konsumsi makanan akibat seringnya mahasiswa mengakses konten makanan di media sosial, baik mengarah pada konsumsi makanan sehat maupun makanan cepat saji.

Ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berdampak positif, tetapi juga bisa membuat mahasiswa cenderung mengikuti tren tanpa memperhatikan aspek kesehatan secara menyeluruh.

Perubahan Preferensi dan Kebiasaan Konsumsi

Kebiasaan konsumsi mahasiswa menjadi lebih fleksibel. Ada yang mulai menambahkan sayuran dan buah ke dalam menu harian, namun ada pula yang justru lebih sering mencoba makanan viral tanpa mengecek kandungan gizinya.

Selain faktor internal seperti kesadaran akan kesehatan, faktor eksternal seperti rekomendasi selebgram atau ajakan teman juga memiliki pengaruh besar. Perubahan pola konsumsi ini menandakan pentingnya literasi makanan sehat di kalangan mahasiswa.

Skala Pengaruh Media Sosial pada Konsumsi Pangan

Memahami sejauh mana pengaruh media sosial terhadap konsumsi pangan menjadi kunci dalam upaya membangun kebiasaan makan sehat, terutama untuk generasi muda yang hidup di era digital.

Pengukuran dan Temuan Kunci

Menurut Vidya Patwardhan dkk. dalam jurnal Influence of social media on young adults’ food consumption behavior: scale development, pengaruh media sosial diukur melalui skala multidimensi, mencakup paparan konten makanan, interaksi seperti mengikuti resep, dan kepercayaan pada informasi.

Temuan menunjukkan media sosial berperan besar dalam memicu makan impulsif, eksplorasi resep, dan pilihan makanan yang dipengaruhi tren.

Implikasi untuk Generasi Muda

Paparan konten makanan sehat di media sosial bisa memberikan manfaat jangka panjang, seperti meningkatnya kepedulian terhadap gizi dan kesehatan tubuh. Meski begitu, literasi media dan pemahaman yang benar tetap dibutuhkan agar generasi muda tidak serta-merta mengikuti tren tanpa pertimbangan.

Dukungan edukasi dari keluarga, sekolah, dan komunitas digital diharapkan bisa meningkatkan kualitas pilihan makanan di tengah derasnya arus informasi.

Penutup

Perubahan pola konsumsi pangan sehat di masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial. Melalui influencer, platform edukasi, serta komunitas digital, tren pangan sehat lebih mudah diterima dan diikuti berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga mahasiswa.

Namun, dibutuhkan kolaborasi antara edukasi dan literasi informasi agar tren ini benar-benar memberikan dampak positif dan membentuk kebiasaan makan yang sehat serta berkelanjutan bagi generasi selanjutnya.