Konten dari Pengguna

Kapal Layar Tradisional Asal Indonesia, Ini Daftarnya

Infootomotif

Infootomotif

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Infootomotif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kapal layar Indonesia (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kapal layar Indonesia (Foto: Pixabay)

Banyak yang belum tahu bahwa kapal layar tradisional asal Indonesia ada banyak jenisnya. Indonesia memiliki beragam jenis kapal layar tradisional terutama karena dikenal sebagai negara maritim dengan pelaut-pelaut yang tangguh.

Apalagi, Indonesia juga memiliki wilayah laut yang sangat luas. Tak heran ada banyak pula kapal tradisional yang dimilkinya. Lantas ada berapa saja kapal layar tradisional asal Indonesia ini? berikut daftarnya untuk Anda.

Kapal Layar Tradisional Asal Indonesia

Ilustrasi kapal layar Indonesia (Foto: Pixabay)

Dikutip dari destinasian.co.id, kapal layar tradisional asal Indonesia ada 6 jenis. Berikut daftarnya:

1. Pencalang

“Pencalang berasal dari Melayu, sekitar perairan Selat Malaka,” tulis Djoko Pramono dalam Buku Budaya Bahari. Sementara itu, V.J. Verth dalam Borneo’s Wester Afdeeling menyebut pencalang memiliki peran dalam sejarah pendirian Pontianak. “Pencalang” memiliki akar kata yang sama dengan “lancang,” dan legenda Hang Tuah menyebut Lancang Kuning sebagai kendaraan perkasa Sumatera.

2. Jukung

Menurut Sejarah Nasional Indonesia II, jukung sudah tertulis dalam Prasasti Julah dari abad ke-10. Perahu Bali ini memiliki cadik ganda dan layar segitiga. Jukung juga dikenal sebagai perahu khas Banjar. (Banjarmasin menggelar Festival Jukung Hias setiap tahunnya.) Uniknya, Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak mengenal istilah “jukung,” melainkan “jongkong.

3. Pinisi

Pinisi, tulis Lawrence Blair dalam Ring of Fire, adalah produk hibrida antara perahu Sulawesi dan galleon pembawa rempah khas Portugis dari abad ke-17. Kapal ini dicirikan oleh dua tiang utama dan tujuh layar. Pinisi sempat digunakan oleh Alfred Russel Wallace saat melakukan penelitian di Indonesia, serta pernah diabadikan dalam lembaran Rp100 keluaran 1992.

4. Sandek

Lazim disebut “sandeq,” perahu khas Mandar ini memiliki lambung ramping, cadik ganda, dan stempost (penahan arus di muka) yang mencuat hingga membuatnya mirip kapal Viking. Sandek memiliki panjang lima hingga 16 meter. Perahu ini tersohor akan kecepatannya yang mencapai 40 kilometer per jam—velositas yang dibutuhkan untuk mengejar tuna.

5. Kora-Kora

Perahu ramping khas Maluku ini memiliki panjang sekitar 10 meter dengan kapasitas 40 pendayung. Pernah digunakan dalam perang, kora-kora kini lebih merupakan aset budaya yang rutin dipertontonkan dalam festival-festival akbar, misalnya Festival Budaya Banda Neira atau Festival Kora-Kora di Ternate. Pada 1985, perahu ini dijadikan nama sebuah wahana di Ancol.

6. Pledang

Perahu layar ini digunakan oleh kaum pemburu paus di Nusa Tenggara Timur. Di muka perahu terpasang papan atau bambu sebagai pijakan bagi lemafa (juru tikam) saat meloncat dan menghujamkan tempuling ke tubuh paus. Di Lamalera, pledang dirakit memakai pasak kayu dan digerakkan dengan dayung. Sementara di Lamakera, pledang lebih modern dengan memakai paku dan mesin tempel.

Frequently Asked Question Section

Dari mana asal kapal pinisi?

chevron-down

Pinisi, tulis Lawrence Blair dalam Ring of Fire, adalah produk hibrida antara perahu Sulawesi dan galleon pembawa rempah khas Portugis dari abad ke-17.

Apa nama kapal layar Indonesia asli Melayu?

chevron-down

“Pencalang berasal dari Melayu, sekitar perairan Selat Malaka,” tulis Djoko Pramono dalam Buku Budaya Bahari.

Apa nama perahu panjang asal Sulawesi?

chevron-down

Sandek, perahu khas Mandar. Sandek memiliki panjang lima hingga 16 meter. Perahu ini tersohor akan kecepatannya yang mencapai 40 kilometer per jam—velositas yang dibutuhkan untuk mengejar tuna.

(HDZ)