Konten dari Pengguna

Kelebihan dan Kekurangan Mobil Listrik yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli

Infootomotif

Infootomotif

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Infootomotif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mobil listrik Toyota. Foto: Nikkei
zoom-in-whitePerbesar
Mobil listrik Toyota. Foto: Nikkei

Sebelum melakukan pembelian, alangkah baiknya mengetahui terlebih dahulu kelebihan dan kekurangan mobil listrik. Hal ini penting, supaya tidak menyesal di kemudian hari.

Sama seperti mobil lainnya, pasti ada beberapa kelebihan dan kekurangannya, meskipun mobil listrik ini memiliki segudang fitur yang menarik.

Agar Anda tidak menyesal setelah membeli, sebaiknya simak secara detail lima kelebihan dan kekurangan mobil listrik yang dikutip dari laman resmi Moladin.

1. Biaya Isi Daya Baterai Lebih Murah Dibanding Isi Bensin

Salah satu yang membuat kendaraan jenis ini menarik adalah biaya isi daya baterainya yang murah.

Sebagai gambaran untuk Anda, pengisian baterai Hyundai Ioniq sampai penuh dari posisi minimum membutuhkan biaya sekitar Rp 60 ribu (1 kWh = Rp 1.400). Kemudian untuk kemampuan menjelajah mobil ini dengan kondisi baterai penuh adalah 373 Km.

Dengan kata lain, per kilometer perjalanan cuma dibutuhkan biaya Rp 160. Murah bukan?

Coba bandingkan dengan mobil berbahan bakar bensin. Secara umum untuk kapasitas mesin 1.500 cc, konsumsi BBM rata-ratanya 12 Km/liter. Harga bensin RON 92 sekitar Rp 9.000 per liter. Berarti untuk melaju per kilometer, dibutuhkan biaya Rp 750.

Jadi dapat disimpulkan, mobil listrik bisa mengirit biaya perjalanan sekitar 4,5 kali lipat dibanding mobil bensin.

Saat pengisian baterai BMW i3S Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

2. Fasilitas Pengisian Baterai Belum Memadai

Terlepas dari murahnya mengisi baterai, meski biaya pengisian ulang dayanya murah, namun butuh tegangan listrik yang tidak sedikit.

Misalnya kamu mau isi ulang baterai Hyundai Ioniq di rumah, butuh minimal 2.200 VA. Itu pun dengan catatan, tidak boleh mengaktifkan peralatan kelistrikan lain yang membutuhkan daya besar, seperti pompa air, mesin cuci, setrika, dan sebagainya.

Jadi kalau mau aman, kamu harus punya listrik di rumah dengan daya minimal 4.400 VA. Itu pun untuk pengisian baterai, tidak bisa sebentar. Butuh 14 jam dari posisi minimal ke penuh.

Kemudian stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) juga belum banyak tersebar di Indonesia. Dominasinya masih ada di Jakarta dan jumlahnya terbatas.

Padahal jika melakukan pengisian di SPKLU dengan mode fast charging di SPKLU, baterai mobil listrik Hyundai Ioniq bisa terisi penuh dari kondisi minimal hanya dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit.

3. Harga Mobil Listrik Masih Mahal

Ini yang menjadi faktor kekurangan dari mobil kaya fitur ini. Di Indonesia, harga mobil listrik masih cenderung tinggi. Ambil contoh BMW i3 yang dijual di atas Rp 1 miliar. Kemudian Tesla model 3, banderolnya juga tidak beda jauh.

Kemudian Hyundai menggebrak pasar otomotif Tanah Air dengan menghadirkan Ioniq dan Kona Electric. Banderolnya jauh lebih murah yaitu Rp 600 jutaan. Hanya saja tetap belum terjangkau buat kebanyakan masyarakat Indonesia.

4. Bila Terjadi Kerusakan, Belum Banyak Bengkelnya

Masalah selanjutnya adalah soal perbaikan. Jika ada kerusakan, hanya tersedia bengkel resmi untuk menanganinya. Maklum ini teknologi baru yang ada di sektor otomotif Tanah Air. Alhasil belum banyak mekanik bisa mengatasinya.

Beda dengan mobil konvensional berbahan bakar minyak yang bisa ditangani oleh bengkel pinggir jalan sekalipun. Lalu suku cadangnya juga berlimpah, dari versi original sampai KW.

Walau demikian, pihak pabrikan tahu betul untuk membuat konsumen merasa tidak terlalu bingung dengan persoalan ini. Sebut saja Hyundai yang berani memberi garansi baterai selama 8 tahun atau 160.000 Km.

5. Polusi Jadi Kelebihan dan Kekurangan Mobil Listrik

Bahasan kelebihan dan kekurangan mobil listrik selanjutnya adalah terkait polusi yang ditimbulkan. Sesungguhnya masih jadi perdebatan. Banyak orang beranggapan mobil listrik tidak punya emisi gas buang sehingga lebih ramah lingkungan.

Kalau dari sisi tidak mengeluarkan asap berbahaya dari knalpot, tentu benar. Hal tersebut karena mobil bersumber tenaga baterai, tidak punya knalpot.

Hanya saja yang perlu Anda ketahui, polusi akibat penggunaan mobil bukan cuma berasal dari gas buang saja. Ban yang bergesekan dengan aspal, kemudian pengikisan kampas rem juga menciptakan polusi udara. Walau memang dalam hal ini, mobil listrik masih lebih baik dibanding mobil konvensional berbahan bakar minyak.

Nah potensi polusi terbesar dari penggunaan mobil listrik justru hadir dari baterai. Jika sudah tidak terpakai, limbah baterai ini bisa sangat berbahaya untuk manusia karena masuk kategori B3. Ditambah lagi, di Indonesia belum ada fasilitas daur ulang untuk baterai mobil listrik.

Frequently Asked Question Section

Berapa biaya untuk pengisian baterai mobil listrik?

chevron-down

Sebagai gambaran untuk Anda, pengisian baterai Hyundai Ioniq sampai penuh dari posisi minimum membutuhkan biaya sekitar Rp 60 ribu (1 kWh = Rp 1.400). Kemudian untuk kemampuan menjelajah mobil ini dengan kondisi baterai penuh adalah 373 Km. Dengan kata lain, per kilometer perjalanan cuma dibutuhkan biaya Rp 160.

Lebih hemat mana, mobil listrik atau mobil konvensional?

chevron-down

Sebagai gambaran untuk Anda, pengisian baterai Hyundai Ioniq sampai penuh dari posisi minimum membutuhkan biaya sekitar Rp 60 ribu (1 kWh = Rp 1.400) dengan kemampuan jelajah sampai 373 KM, sehingga per kilometer hanya dibutuhkan biaya Rp 160. Sementara mobil berbahan bakar bensin, rata-rata mencapai 12 Km per liter bensin, sehingga per kilometer butuh Rp 750. Jadi dapat disimpulkan, mobil listrik bisa mengirit biaya perjalanan sekitar 4,5 kali lipat dibanding mobil bensin.

Apa polusi dari mobil listrik?

chevron-down

Potensi polusi terbesar dari penggunaan mobil listrik berasal dari baterai. Jika sudah tidak terpakai, limbah baterai ini bisa sangat berbahaya untuk manusia karena masuk kategori B3.

(HDZ)