Sejarah Tol Cipularang: Mitos hingga Potensi Kecelakaannya

ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Infootomotif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anda mungkin sedang mencari topik mengenai sejarah tol Cipularang. Tol yang sering dilalui oleh masyarakat dari Jakarta menuju Bandung maupun sebaliknya tersebut memang memiliki berbagai cerita.
Jika Anda berkendara dari kawasan Cikampek maupun Jakarta, Anda perlu melalui Simpang Susun Dawuan untuk menuju Gerbang Tol Kalihurip Utama atau dikenal dengan Gerbang Tol SS Dawuan. Gerbang tol ini menandakan Anda akan memasuki ruas Tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang).
Lalu, bagaimana sejarah Tol Cipularang? Berikut ini adalah ulasannya.
Sejarah Tol Cipularang Hingga Mitos yang Beredar
Dikutip dari laman Jasa Marga, Tol Cipularang merupakan bagian dari jaringan tol Cikampek-Padalarang-Cileunyi sepanjang lebih dari 123 kilometer. Tol ini membuat jarak antara Jakarta dengan Bandung menjadi dekat. Tol sepanjang 64,4 kilometer ini baru dioperasionalkan pada tahun 2005.
Tol Cipularang menyuguhkan pemandangan spektakuler. Jalan tol ini melewati berbagai bukit dan jurang dengan panorama yang indah. Jalan tol ini memiliki nilai pariwisata yang tinggi sehingga banyak tempat istirahat modern di Jalan tol ini juga menawarkan pemandangan sebagai daya tariknya.
Selain pemandangannya yang indah, Tol Cipularang juga dikenal rawan kecelakaan. Menurut laman kumparanNEWS, kecelakaan yang kerap terjadi di kawasan Cipularang membuat masyarakat mengaitkannya dengan hal-hal berbau mistis. Khususnya pada ruas tol Km 96-97. Pada tahun 2011, sebuah kecelakaan menimpa pedangdut Saipul Jamil dan istrinya, Virginia Anggraeni atau akrab disapa Egi.
Mitos yang berkembang di kawasan Cipularang adalah mengenai keberadaan Gunung Hejo di kawasan tol tersebut. Gunung Hejo dipercaya menjadi tempat petilasan Prabu Siliwangi. Pada saat pembangunan Tol Cipularang, masyarakat sekitar dijanjikan untuk dibuatkan jalan ke arah Gunung Hejo dan membangun sebuah Musala. Namun, janji tersebut tidak terlaksana sehingga ada anggapan bahwa penunggu Gunung Hejo marah dan meminta tumbal.
Selain itu, cerita mistis saat tol dibangun juga sempat berkembang. Ada yang menyebut bahwa kontraktor berusaha mengeruk Gunung Hejo agar jalan tol menjadi lebih lurus dan pendek sehingga biaya pembangunan dapat ditekan. Namun berbagai upaya termasuk menggunakan alat berat tidak dapat menembus Gunung Hejo.
Menurut infografis kumparan, ada penjelasan saintifik mengenai potensi kecelakaan di Tol Cipularang. Berikut ini adalah beberapa potensi yang dapat menyebabkan kecelakaan di Tol Cipularang.
KM 92-93 dari Jakarta menuju Bandung terdapat dua tikungan tajam dengan sudut 80 derajat selepas jalan menurun dengan kecuraman sekitar 20 derajat. Hal ini berpotensi menimbulkan kecelakaan.
KM 95 yang lurus dapat membuat pengemudi mengantuk karena angin yang berembus sangat nyaman serta memiliki pemandangan yang indah.
KM 96-97 merupakan rute paling rawan karena kontur jalan menurun dengan kecuraman sekitar 20 derajat dengan tikungan tajam sekitar 70-80 derajat.
KM 101-103 memiliki kontur jalan lurus dan banyak kendaraan kehilangan keseimbangan karena sambungan jembatan yang lebih rendah dibandingkan jalan utama. Selain itu, kontur jalan ini juga memicu genangan air.
KM 104 merupakan tikungan tajam dengan sudut 80 derajat. Rute ini bisa menjadi fatal dan memicu kecelakaan.
Oleh karena itu, Anda perlu berhati-hati ketika melakukan perjalanan menggunakan kendaraan. Taati peraturan lalu lintas dan selalu menjaga tubuh dan kendaraan dalam kondisi prima.
(RFN)
