4 Jenis Attachment Style beserta Ciri Masing-Masing

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat beberapa jenis attachment style yang perlu dipahami. Attachment style merupakan gaya seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain, termasuk pasangan.
Lantas, apa saja jenis-jenis attachment style yang dipunyai setiap individu? Simak penjelasannya berikut ini.
Mengenal Attachment Style
Setiap orang memiliki cara berbeda untuk membangun hubungan dengan orang lain. Inilah yang disebut dengan attachment style.
Dengan kata lain, attachment style bisa diartikan sebagai gaya seseorang ketika menjalin hubungan dengan orang di sekitarnya dan umumnya telah terbentuk sejak kecil.
Kendati demikian, attachment style bisa berubah karena pengaruh dari pengalaman hidup sampai pergaulan seseorang.
Melansir situs Rumah Sakit Ketergantungan Obat, rsko-jakarta.com, sangat penting mengenali serta memahami pola attachment yang dipunyai selama ini.
Hal ini diharapkan bisa membantu seseorang ketika hendak menjalin hubungan dengan pasangan hidup maupun orang lain di kemudian hari.
Teori mengenai attachment style pertama kali dikembangkan oleh John Bowlby pada 1973 dan terus mengalami perkembangan.
Jenis Attachment Style dan Ciri-Cirinya
Inilah berbagai jenis attachment style beserta ciri-cirinya berikut ini.
1. Secure Attachment
Secure attachment atau dikenal pula dengan kelekatan yang aman merupakan hubungan kelekatan yang ideal. Ini mengacu kepada kemampuan seseorang dalam membentuk hubungan penuh kasih dengan orang lain.
Tatkala si kecil dibesarkan dengan pola pengasuhan anak yang terbuka, penuh cinta, dan menyenangkan, secara otomatis dia akan menerapkan pola yang sama ketika berinteraksi dengan orang lain saat dewasa.
Ciri-ciri secure attachment, antara lain:
Dapat dipercaya dan memercayai orang lain.
Mudah dekat dengan orang lain.
Mencintai dan menerima cinta dari orang lain.
Bisa mengelola konflik dengan baik.
Menjalin hubungan baik dengan orang lain.
Mandiri.
Tidak bergantung kepada pasangan.
2. Anxious Attachment
Anxious attachment merupakan pola asuh tidak konsisten dalam memenuhi kebutuhan anak.
Hal ini mengakibatkan anak gampang cemas, tak mudah percaya kepada orang lain serta pasangan di kemudian hari, terus mencari keamanan dalam hubungan, serta takut ditinggalkan.
Ciri-ciri anxious attachment, antara lain:
Senantiasa memerlukan validasi orang lain.
Kurang percaya diri.
Merasa tak pantas dicintai.
Susah menerima kritik.
Pencemburu.
Sering tergantung pada orang lain.
Khawatir ditinggalkan.
Tak mudah percaya.
3. Disorganized Attachment
Disorganized attachment atau fearful avoidant attachment mengacu kepada perilaku seseorang yang mengharap kasih sayang serta hubungan romantis, tetapi tak ingin menjalin sebuah komitmen.
Orang dengan tipe attachment ini cenderung tumbuh dengan sifat yang membingungkan sebab tak memperoleh kenyamanan, gampang terombang-ambing dalam kecemasan, serta tidak konsisten.
Ciri-ciri disorganized attachment, antara lain:
Takut terhadap penolakan.
Susah mengontrol emosi.
Mempunyai tingkat kecemasan tinggi.
Susah percaya kepada orang lain.
Kerap bersikap kontradiktif.
4. Avoidant Attachment
Avoidant attachment mengacu pada anak yang kurang memperoleh perhatian dan kasih sayang orang tua, dilarang mengekspresikan perasaan, hingga pernah ditinggalkan orang terdekat.
Pribadi ini akan berpotensi tumbuh menjadi tipe avoidant attachment yang kesulitan untuk dekat dengan orang lain. Entah dalam hubungan pertemanan maupun percintaan, tipe ini umumnya akan menghindari komitmen dan memilih hidup mandiri.
Ciri-ciri avoidant attachment, antara lain:
Mempunyai masalah tatkala harus menjalani komitmen.
Sulit mengontrol emosi.
Memilih bersikap tertutup.
Demikian berbagai jenis attachment style serta ciri-cirinya yang penting diketahui. Masing-masing jenis akan memiliki karakteristik berbeda-beda tergantung pola pengasuhan yang diterima sewaktu kecil. (DN)
