5 Cara Bijak Menasehati Anak yang Pacaran di Usia Remaja

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa anak dalam rentang usia remaja sudah mengenal istilah pacaran, bahkan sudah berpacaran. Kondisi tersebut membuat orang tua perlu mengetahui cara bijak menasehati anak yang pacaran.
Pengetahuan tersebut diperlukan agar orang tua tidak secara serta-merta menghakimi anak yang berpacaran. Jika orang tua terlalu dini menghakimi anak yang berpacaran, anak justru akan semakin membangkang dan tertutup perihal percintaannya.
5 Cara Bijak Menasehati Anak yang Pacaran saat Remaja
Orang tua tentu merasa gusar ketika anaknya yang masih remaja sudah mulai pacaran. Kegusaran itu merupakan hal yang wajar sebab orang tua khawatir jika anak salah pergaulan, sakit hati, dan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.
Mengutip dari buku Latihan Keterampilan Hidup bagi Remaja, Ekasari (2022: 3), beberapa ahli perkembangan menggambarkan bahwa masa remaja dimulai kira-kira pada usia 10 sampai 13 dan berakhir antara usia 18 dan 22 tahun yang disebut pula sebagai masa remaja awal dan akhir.
Ketika mendapati anak berpacaran di usia remaja awal, orang tua tentu merasa cemas karena usia tersebut terbilang cukup dini untuk menjalin hubungan asmara. Walaupun demikian, orang tua tetap tidak boleh menghakimi anak.
Orang tua perlu mengetahui cara bijak menasehati anak yang pacaran di usia remaja agar hubungan anak dengan orang tua tetap terjalin dengan baik. Berikut lima caranya yang dapat menjadi referensi.
1. Jadi Pendengar yang Baik
Mengutip dari buku Keberhasilan Anak di Tangan Orang Tua karya Graha (2007: 6), untuk dapat mengerti akan informasi yang disampaikan oleh seorang anak, orang tua harus bersedia menjadi seorang pendengar yang baik.
Orang tua perlu berusaha menjadi pendengar yang baik agar anak merasa didengarkan dan nyaman untuk bercerita, baik itu perihal sekolah maupun pacaran. Jadi, orang tua dapat memperoleh informasi lengkap tentang konsep dan konteks ‘pacaran’ dalam benak anak.
2. Beri Penjelasan yang Lengkap
Selain menjadi pendengar yang baik, orang tua juga perlu memberi penjelasan yang lengkap kepada anak. Salah satu contoh adalah menjelaskan alasan orang tua melarang anak pacaran karena orang tua tidak ingin anak salah pergaulan.
Ketika memberi penjelasan kepada anak, orang tua juga perlu memperhatikan fokus anak. Hal itu penting diperhatikan agar orang tua dapat memastikan bahwa anak benar-benar mendengar dan memahami penjelasan tersebut.
3. Posisikan Diri sebagai Remaja
Cara ketiga adalah memosisikan diri sebagai remaja. Setiap orang tua tentu pernah mengalami fase remaja dan masa-masa jatuh cinta di usia remaja.
Memosisikan diri sebagai remaja dapat menjadi cara agar orang tua kembali mengingat hal yang dahulu dirinya ingin dapatkan dari orang tua. Misalnya, mendapat penjelasan tentang plus minus pacaran, mendapat dukungan psikologis, dan lain-lain.
4. Bangun Kepercayaan Anak
Cara keempat adalah membangun kepercayaan anak terhadap orang tua. Hal ini penting dilakukan agar hubungan antara orang tua dengan anak dapat berjalan dengan baik.
Anak perlu percaya bahwa orang tuanya adalah orang yang bisa mendengarkan dan memahami dirinya. Orang tua pun perlu percaya bahwa anak akan memahami setiap penjelasan tentang plus minus pacaran yang orang tua sampaikan.
5. Beri Batasan yang Jelas
Cara kelima adalah memberi batasan yang jelas tentang hal yang boleh dan tidak boleh dalam pacaran. Misalnya, boleh bermain jika didampingi oleh orang tua, tidak boleh membahas seks bersama pacar, dan lain-lain.
Berdasarkan ulasan di atas, diketahui bahwa ada banyak cara bijak menasehati anak yang pacaran. Lima di antaranya adalah menjadi pendengar yang baik, memberi penjelasan, memosisikan diri sebagai remaja, membangun kepercayaan anak, dan memberi batasan. (AA)
