5 Cara Mengatasi Sindrom Peter Pan beserta Ciri-Cirinya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat berbagai cara mengatasi sindrom Peter Pan. Seorang lelaki dewasa memang sudah sepatutnya bisa hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.
Namun, para pengidap sindrom Peter Pan cenderung tidak berperilaku sesuai usianya dan sangat kekanakan layaknya tokoh fiksi Peter Pan. Tokoh tersebut digambarkan sebagai anak laki-laki yang tak dapat tumbuh dewasa. Sindrom ini kebanyakan ditemukan pada pria dewasa.
Simak penjelasan selengkapnya mengenai cara mengatasi sindrom Peter Pan dalam uraian berikut.
Pengertian dan Ciri-Ciri Sindrom Peter Pan
Sindrom Peter Pan adalah istilah yang digunakan untuk menyebut pria dewasa yang secara sosial, psikologis, dan seksual tidak matang.
Mereka masih menunjukkan perilaku atau sikap layaknya anak-anak juga enggan mengambil tanggung jawab yang datang saat dewasa. Demikian ulasan dalam situs birokonsultasi.psikologi.uma.ac.id.
Sindrom Peter Pan bukan termasuk gangguan jiwa dan mempunyai sebutan lain seperti king baby syndrome dan little prince syndrome.
Pria yang mengidap sindrom Peter Pan akan menunjukkan ciri atau tanda yang khas dan mudah dikenali, yaitu:
Kerap berperilaku seperti anak-anak atau tidak sesuai usianya.
Berteman dengan orang-orang yang lebih muda.
Tak mampu mempertahankan hubungan jangka panjang yang stabil.
Bergantung pada orang lain.
Takut berkomitmen.
Kurang bertanggung jawab.
Enggan mengakui kesalahan.
Cara Mengatasi Sindrom Peter Pan
Bagaimana cara mengatasi sindrom Peter Pan ini? Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Berhenti Memanjakan
Umumnya, para pengidap sindrom Peter Pan selalu dimanja oleh orang-orang di sekitarnya. Hal ini menjadikan mereka tidak siap tatkala dihadapkan pada masalah atau selalu meminta bantuan orang lain.
Pola seperti ini akan berlangsung terus menerus dan membuat mereka senantiasa bergantung pada orang-orang di sekitanya.
2. Bersikap Tegas
Berusahalah untuk bersikap tegas dan hindari selalu memberi bantuan pada penderita. Tujuannya supaya mereka terbiasa mencari jalan keluar dari masalah. Dengan demikian, sikap mandiri pun akan terbentuk.
3. Kenalkan Konsep Kedewasaan
Kendati sudah cukup usia, orang-orang dengan sindrom Peter Pan mempunyai jiwa yang belum matang. Karena itu, berilah pengertian tentang kedewasaan secara bertahap.
Salah satunya yaitu dengan meminta mereka untuk melamar pekerjaan sehingga merasakan proses pencarian hingga memperoleh pekerjaan yang diinginkan.
Langkah ini akan menjadikan mereka memahami tentang konsep kedewasaan dan perlahan mengubah tindakan layaknya orang dewasa lain.
4. Menjaga Fokus
Para pengidap Peter Pan biasanya sulit fokus karena pola pikirnya yang kekanak-kanakan. Oleh karena itu, jagalah fokus mereka dengan menjauhkan dari hal-hal yang mengganggu.
Sebagai contoh, permainan tertentu, gawai, tontonan favorit, maupun benda-benda yang disukai.
5. Melakukan Konsultasi
Bila cara di atas masih nihil, artinya mereka perlu memperoleh penanganan dari ahli seperti psikolog atau psikiater. Melalui konsultasi, para pengidap akan memperoleh penanganan khusus sehingga kondisinya berangsur membaik.
Itulah cara mengatasi sindrom Peter Pan beserta ciri-cirinya yang tidak boleh dianggap sepele. Penanganan oleh ahli dibutuhkan supaya kondisi penderita tak makin menjadi. (DN)
