Konten dari Pengguna

6 Pertanyaan tentang Pernikahan Dini yang Sering Ditanyakan

info psikologi

info psikologi

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pertanyaan tentang pernikahan dini, sumber foto: Trung Nguyen by pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pertanyaan tentang pernikahan dini, sumber foto: Trung Nguyen by pexels.com

Pernikahan diri merupakan ikatan yang dilakukan oleh pasangan yang masih di bawah umur. Pertanyaan tentang pernikahan diri seakan-akan menjadi hal yang sangat penting untuk dijawab agar bisa mempertimbangkan tentang pernikahan dini.

Mengingat di Indonesia, pernikahan dini menjadi salah satu topik yang sering dipenuhi dengan pro dan kontra. Beberapa orang tidak setuju dengan pernikahan dini karena bisa merusak masa depan remaja dan merusak mentalnya.

Dikutip dari buku Pemberdayaan Ekonomi, Stop Pernikahan Dini karya H. Mulyadi Fadjar, S.Kp., M.Kes., berikut ini beberapa pertanyaan terkait pernikahan yang bisa dipelajari.

Pertanyaan tentang Pernikahan Dini

Ilustrasi pertanyaan tentang pernikahan dini, sumber foto: Drew Rae by pexels.com

Pernikahan dini adalah topik yang sering kali memicu pro dan kontra di masyarakat. Pertanyaan tentang pernikahan dini berikut ini bisa dijawab untuk memikirkan kembali apakah pernikahan dini adalah hal yang benar atau salah.

1. Apa yang dimaksud dengan pernikahan dini?

Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan anak di bawah usia yang diperbolehkan untuk menikah.

2. Berapa usia minimal pernikahan di Indonesia?

Menurut UU Perkawinan Nomor I tahun 1974, usia minimal pernikahan diri yaitu minimal 16 tahun perempuan dan 19 tahun laki-laki.

3. Sebutkan faktor penyebab terjadinya pernikahan dini!

Faktor penyebab pernikahan diri antara lain pola pikir masyarakat, budaya lokal, dan rendahnya pendidikan di masyarakat.

4. Bagaimana pengaruh rendahnya ekonomi masyarakat bagi pernikahan dini?

Masyarakat dengan ekonomi rendah dan memiliki banyak anak, cenderung menikahkan anaknya di usia dini. Karena ia berharap dengan menikahkan anaknya, beban hidupnya menjadi berkurang.

5. Bagaimana strategi pencegahan pernikahan dini?

Caranya dengan optimalisasi kapasitas anak. Misalnya dengan meningkatkan peran dan aktif forum anak sebagai pelapor dan pelopor, melakukan edukasi, sosialisasi, informasi dan komunikasi.

6. Bagaimana pandangan psikologi tentang pernikahan dini? Apakah berisiko untuk gagal?

Pernikahan dini sering kali gagal karena kurangnya kematangan emosi dan pola pikir. Menurut psikologi, kemungkinan terjadinya perceraian menurun 50% saat pernikahan dilakukan di atas 25 tahun daripada pernikahan di bawah 20 tahun.

Pertanyaan tentang pernikahan dini tersebut semakin memperjelas bahwa pernikahan dini tidak seharusnya dilakukan. Karena kesiapan mental dan perilaku membangun rumah tangga yang belum matang bisa menimbulkan perceraian hingga menghancurkan masa depan. (DSI)