9 Dampak Negatif Pola Asuh Overprotektif bagi Kehidupan Anak

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak negatif pola asuh overprotektif akan berpengaruh pula terhadap kehidupan serta masa depan anak. Orang tua yang terlalu protektif seolah memperlakukan anak layaknya barang antik. Tidak boleh tergores, rusak, apalagi pecah.
Tanpa disadari orang tua, sikap terlalu melindungi ini justru membentuk karakter yang kurang baik dalam diri anak. Berikut dampak negatif pola asuh overprotektif yang penting dipahami.
Dampak Negatif Pola Asuh Overprotektif untuk Anak
Dalam situs ejurnal.unisri.ac.id, overprotektif berasal dari dua kata yaitu over dan protektif. Over artinya berlebihan, sementara protektif berarti melindungi.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa orang tua yang menerapkan pola pengasuhan anak overprotektif senantiasa memberi perlindungan yang berlebihan pada si kecil.
Lantas, apa saja dampak negatif pola asuh overprotektif terhadap kehidupan si kecil? Simak penjelasannya berikut ini.
1. Tidak Percaya Diri
Anak-anak yang tumbuh di bawah pola asuh overprotektif cenderung tidak percaya diri. Karakter ini terbentuk akibat orang tua yang selalu melindungi dan melimpahkan kasih sayang berlebih. Anak seakan tak diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan hal-hal besar.
2. Selalu Merasa Takut
Rasa takut dalam diri anak timbul karena kepercayaan diri yang rendah. Tak hanya itu, anak yang selalu dilindungi pun akan tumbuh menjadi orang yang takut mengambil risiko, mudah berkecil hati, dan tidak memiliki inisiatif.
3. Mudah Cemas
Pola asuh overprotektif mulanya berasal dari kecemasan orang tua yang menganggap dunia merupakan tempat berbahaya dan buruk bagi anak.
Orang tua yang terus menerus merasa takut bila terjadi hal berbahaya pada anak, otomatis akan memberikan perlindungan di tiap kesempatan.
Perilaku tersebut justru membuat si kecil gampang merasa cemas juga depresi tatkala dihadapkan dengan sesuatu yang susah dan harus ditangani atau diselesaikan sendiri.
4. Tidak Mandiri
Pola asuh overprotektif juga menjadikan si kecil senantiasa bergantung pada orang tua atau orang lain, susah mengambil keputusan, apalagi bila harus mengatasi masalahnya sendiri. Anak juga bakal selalu mengandalkan orang tua dalam pengambilan keputusan hingga menyelesaikan masalah hidupnya.
5. Sering Berbohong
Orang tua yang terlalu protektif selalu mengekang ruang gerak anak. Padahal si kecil membutuhkan kebebasan untuk mengembangkan dirinya.
Sikap terlalu membatasi ini menjadikan anak mencari celah untuk berbohong supaya bisa lepas dari kekangan orang tua dan menghindari hukuman, sebab melakukan hal yang bertentangan dengan keinginan orang tuanya.
6. Berisiko Menjadi Korban Perundungan
Anak yang diasuh dengan pola yang kurang tepat berisiko tinggi menjadi korban perundungan atau bullying. Hal ini dikarenakan mereka memiliki kepribadian yang lemah, tidak percaya diri, dan cenderung tidak berani melawan karena hidupnya selalu bergantung pada orang lain.
7. Mudah Stres
Stres timbul akibat pengawasan orang tua yang berlebihan terhadap anak sehingga kebebasannya seakan terenggut. Selain itu, pemicu stres juga bisa dikarenakan rasa khawatir melakukan kesalahan atau hal-hal yang tidak disukai orang tua.
8. Bersikap Ragu-ragu
Pola asuh overprotektif akan membentuk karakter anak menjadi mudah ragu tiap mengambil keputusan, pemalu, terlalu sensitif, hingga lebih waspada terhadap kritik serta ketidaksetujuan orang lain.
9. Kurangnya Keterampilan Sosial
Bersikap overprotektif sama halnya menyampaikan pesan kepada anak bahwa dunia sangat berbahaya. Ini bakal tertanam dalam pikiran si kecil dan membentuknya menjadi pribadi antisosial dan sulit berinteraksi dengan orang lain.
Demikian dampak negatif pola asuh overprotektif yang harus diketahui, khususnya oleh orang tua. Menentukan pola asuh yang tepat bagi anak sangat penting dilakukan agar anak tidak tertekan dan bisa memaksimalkan kemampuan juga potensi yang dimiliki. (DN)
