Arti Fathering dalam Hubungan Asmara beserta Dampaknya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah fathering sering dinilai membuat hubungan menjadi tidak harmonis dan dianggap pertanda red flag. Fathering artinya seseorang yang memainkan peran ayah dan dianggap mampu membuat keputusan lebih baik dalam hubungan.
Pada dasarnya, fathering mengacu pada dinamika yang merusak hubungan asmara. Di mana salah satu pasangan berperan menjadi figur yang lebih kuat dan berpengetahuan, sedangkan lainnya dianggap kurang kompeten.
Dikutip dari psycnet.apa.org, di bawah ini ada penjelasan mengenai pengertian fathering beserta dampaknya.
Pengertian Fathering
Istilah fathering artinya peran salah satu pasangan sebagai figur yang lebih kuat dan berpengetahuan layaknya seorang ayah.
Nantinya, pasangan yang memainkan peran ayah dianggap lebih tahu dan mampu dalam membuat setiap keputusan pada hubungan yang dijalani. Keputusan ini diyakini dapat membuat hubungan menjadi lebih baik.
Umumnya, seseorang yang menerapkan konsep fathering akan mengendalikan pasangannya dengan dalih memberi nasihat atau bantuan. Biasanya, sifat ini juga ditunjukkan dengan dalih untuk membantu mengurus kesehatan atau kehidupan pasangan.
Pasangan yang berperan sebagai figur 'ayah' sering tidak menyadari bahwa mereka terjebak dalam peran tersebut. Mereka merasa lebih berwenang dan berpengetahuan dalam hubungan, sedangkan pasangan justru diperankan sebagai anak.
Kenapa pasangan dianggap sebagai anak? Karena seseorang yang berperan sebagai ayah merasa pasangannya kurang matang. Bahkan secara tidak sadar, pasangannya sering dianggap kurang mampu dalam hubungan asmara.
Dampak Fathering dalam Hubungan Asmara
Berikut adalah beberapa dampak fathering dalam hubungan asmara yang perlu diketahui.
1. Memicu Toxic Relationship
Tanpa disadari, fathering dapat termasuk dalam bentuk toxic relationship atau hubungan beracun. Karena sikap tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak bahagia, mengalami ketidakadilan hingga merasa direndakan.
2. Merusak Hubungan
Tidak jarang fathering yang berlebihan juga dapat merusak hubungan asmara. Mengingat dapat membuat pasangan merasa kurang leluasa karena terus merasa dikekang.
Secara tidak langsung, sikap ini juga menumbuhkan rasa ketergantungan dengan pasangan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa fathering artinya seseorang yang memainkan peran ayah yang mampu membuat keputusan lebih baik dalam hubungan. (DSI)
