Hypervigilance: Definisi, Ciri, Penyebab, dan Pengobatannya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hypervigilance adalah kondisi ketika seseorang waspada berlebihan. Seseorang yang menunjukkan sikap tersebut umumnya juga disertai dengan perilaku siap siaga guna mencegah bahaya.
Crombez, Damme, dan Eccleston dalam Hypervigilance to Pain: An Experimental and Clinical Analysis menyebutkan bahwa hypervigilance bisa terjadi akibat trauma masa lalu.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut seputar apa itu hypervigilance, simak selengkapnya di artikel berikut.
Apa Itu Hypervigilance?
Hypervigilance adalah sikap waspada berlebihan yang ditunjukkan seseorang. Biasanya, seseorang yang mengalami hypervigilance juga akan menunjukkan kesiapsiagaan berlebihan dengan niatan untuk mencegah bahaya.
Seseorang yang mengalami situasi tersebut merasa jika dirinya telah berada di bawah ancaman dan menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Selain itu, kondisi mental dan fisik orang yang mengalami hypervigilance juga berasa dalam status siaga tinggi meskipun ancaman bahayanya hanya terdapat di pikiran saja.
Gejala Hypervigilance
Seseorang yang mengalami hypervigilance umumnya akan menunjukkan tanda-tanda tertentu. Adapun beberapa gejala hypervigilance adalah.
Tubuh berkeringat.
Pupil mata membesar.
Napas tidak beraturan dan denyut jantung cepat.
Sulit untuk tidur nyenyak.
Selalu merasa cemas dan mudah panik.
Mudah terkejut terhadap suatu hal yang terjadi secara mendadak.
Sulit fokus dengan suatu percakapan karena sibuk memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Selalu memperhatikan gerak-gerik orang-orang di sekitarnya.
Sering menunjukkan reaksi berlebihan dan kurang bersahabat.
Selalu merasa jika lingkungan sekitarnya ramai.
Mudah overthinking terhadap suatu hal sepele.
Sensitif dan peka terhadap ekspresi wajah orang lain maupun nada suara.
Penyebab Hypervigilance
Mayoritas seseorang yang mengalami hypervigilance mempunyai riwayat gangguan mental akibat trauma masa lalu yang buruk.
Adapun sejumlah gangguan mental yang bisa menyebabkan hypervigilance adalah.
Fobia sosial.
Gangguan kecemasan.
Gangguan Obsesif Kompulsif (OCD).
Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD).
Di samping mengalami gangguan mental, hypervigilance juga dapat terjadi karena faktor lainnya, misalnya:
Ketakutan berlebihan terhadap ruang sempit atau claustrophobia.
Dikagetkan dengan suara keras.
Mengalami stres berat.
Lingkungan terlalu ramah.
Disakiti secara fisik.
Mengingat trauma masa lalu.
Merasa dihakimi.
Cara Mengobati Hypervigilance
Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi hypervigilance. Adapun sejumlah cara mengatasi hypervigilance adalah.
1. Terapi
Salah satu cara mengatasi hypervigilance adalah melalui terapi dengan seorang terapis. Berikut ini beberapa terapi yang bisa dilakukan.
Terapi Perilaku Kognitif (CBT). Terapi ini dilakukan dengan mencari tahu penyebab dan pemikiran penderita untuk mengubahnya ke hal positif.
Terapi EMDR. Terapi ini dilakukan untuk mengatasi trauma akibat kewaspadaan berlebihan.
Terapi Pemaparan. Terapi ini dilakukan dengan menghadapkan seseorang secara langsung dengan pemicunya sembari diajari mengenai cara mengatasi gejalanya.
2. Pemberian Obat-obatan
Selain melalui terapi, seseorang juga dapat mengatasi hypervigilance dengan pemberian obat-obatan atas resep dokter.
Adapun sejumlah obat yang biasa dokter resepkan adalah.
Antidepresan untuk mengurangi gejala depresi, kecemasan, serta rasa nyeri.
Antipsikotik untuk membantu mengurangi gejala psikotik serta hyperarousal.
Benzodiazepines untuk membantu mengatasi kecemasan, stres, serta serangan panik.
Beta-blocker untuk membantu menurunkan tekanan darah serta kecemasan.
Demikian sederet informasi mengenai pengertian hypervigilance, gejala, dan cara mengatasinya. [ENF]
