Lima Syndrome: Pengertian dan Gejala-gejalanya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lima syndrome adalah bentuk respons psikologis pelaku penyanderaan yang mempunyai perasaan positif terhadap korbannya.
Dikutip dari buku Hukum Perubahan Jenis Kelamin, sindrom adalah himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak dan menandai ketidaknormalan tertentu.
Ada berbagai jenis sindrom yang ada di dunia, salah satunya adalah lima syndrome yang dapat terjadi pada para pelaku penyanderaan.
Pengertian Lima Syndrome
Lima syndrome atau sindrom lima adalah bentuk respons psikologis saat pelaku penyanderaan mempunyai perasaan hingga ikatan positif kepada korbannya. Ketika keadaan tersebut muncul, pelaku mungkin mempunyai rasa empati pada kondisi korban.
Pelaku tetap mempunyai ikatan emosional dengan korban. Bahkan dalam beberapa kondisi, pelaku menyerah pada keinginan awal mereka. Kerap kali hal tersebut menyebabkan pelaku melepaskan korban tanpa syarat.
Sindrom lima menjadi efek dari rasa bersalah yang dirasakan pelaku. Hingga akhirnya, pelaku menempatkan diri pada posisi korban yang sangat ketakutan.
Adanya istilah sindrom lima muncul pertama kali saat terjadi penyanderaan pada akhir tahun 1196 di Lima, Peru. Ketika itu, duta besar Jepang mengadakan sebuah pesta meriah yang mengundang ratusan tamu.
Sebagian besar dari tamu tersebut adalah pejabat pemerintah dan diplomat tingkat tinggi. Di saat itulah terjadi krisis. Sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai Gerakan Revolusioner Tupac Amaru atau MTRA menyandera para tamu.
Penyanderaan tersebut bertujuan untuk menuntut pembebasan anggota MTRA yang dipenjara. Tapi saat penyanderaan memasuki bulan pertama, MTRA membebaskan sebagian besar para korban.
Gejala Lima Syndrom
Biasanya, seseorang terkena lima syndrome ketika menunjukkan gejala yaitu berada di posisi pelaku serta membentuk hubungan dan ikatan yang positif dengan para korban. Tapi hubungan positif tersebut mempunyai makna luas dan dapat mengacu pada banyak versi, antara lain:
Merasa simpati dan empati pada kondisi korban
Memberi perhatian lebih untuk semua kebutuhan dan keinginan korban
Menunjukkan perasaan suka, sayang, dan terikat terhadap korban
Itulah sekilas pembahasan mengenai lima syndrome beserta gejalanya.(LAU)
