Memahami Apa Itu Guilt Tripping dan Ciri-cirinya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering kali muncul pertanyaan apa itu guilt tripping dan apa saja yang menjadi ciri-cirinya. Guilt tripping adalah taktik manipulatif yang sering muncul dalam berbagai hubungan. Seperti hubungan romantis, persahabatan, profesional, dan keluarga.
Tindakan tersebut bertujuan untuk membuat salah satu pihak merasa bersalah dengan harapan pihak tersebut akan melakukan apa yang diinginkan oleh pelaku.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang guilt tripping, simak uraian di bawah ini.
Pengertian Guilt Tripping
Dikutip dalam buku Konstelasi Keluarga karya Meilinda Sutanto, guilt tripping adalah menggunakan rasa bersalah untuk mendapatkan empati dan kepatuhan dari sang anak. Jika hal itu terkait dengan hubungan keluarga antara anak dan orang tua.
Contohnya ungkapan "Jika kamu tidak melakukan X berarti kamu tidak sayang mama atau papa."
Secara umum, definisi guilt tripping adalah strategi membuat seseorang merasa bersalah agar orang tersebut bisa patuh.
Ciri-ciri Guilt Tripping
Tindakan Guilt tripping ini sering kali sulit dikenali. Berikut ciri-ciri yang bisa digunakan sebagai patokan untuk mengetahuinya.
Membuat komentar yang menunjukkan bahwa pihak yang menjadi sasaran belum melakukan sebanyak yang telah dilakukan oleh pelaku.
Mengungkit kesalahan masa lalu pihak yang menjadi sasaran.
Mengingatkan pihak yang menjadi sasaran tentang bantuan yang telah diberikan oleh pelaku di masa lalu.
Bertingkah seolah marah, lalu menyangkal bahwa ada masalah.
Memberikan perlakuan "silent treatment" atau menolak berbicara.
Menggunakan bahasa tubuh, nada suara, dan ekspresi wajah untuk mengekspresikan ketidaksetujuan.
Terlibat dalam perilaku pasif-agresif.
Membuat komentar sarkastik mengenai usaha atau kemajuan pihak yang menjadi sasaran.
Terkadang, pihak yang menjadi sasaran guilt tripping merasa menyesal dan malu atas diri mereka sendiri padahal sebenarnya tidak melakukan kesalahan.
Contoh perilaku ini melibatkan mengungkit peristiwa masa lalu seperti "Lihat, berapa banyak yang sudah dilakukan untukmu" atau "Ingat ketika saya ada di sana untukmu."
Taktik ini bertujuan untuk memanipulasi pihak yang menjadi sasaran dengan maksud mengendalikan situasi. Tindakan guilt tripping dapat berdampak negatif pada hubungan dan emosi pihak yang menjadi sasaran.
(DAI)
