Mengenal Istilah Fatherless, Saat Anak Kehilangan Sosok Ayah

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fatherless adalah kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah, baik secara fisik maupun psikis. Kondisi ini memiliki dampak buruk bagi perkembangan anak.
Fenomena fatherless tidak hanya dialami oleh anak yatim saja, tetapi juga dialami oleh anak yang mempunyai figur ayah, namun tidak berkontribusi dalam pengasuhan.
Untuk mengenal lebih dalam tentang arti dan dampak fatherless dalam kehidupan, simak ulasannya di bawah ini.
Mengenal Arti dan Dampak Fatherless
Fatherless merupakan kondisi di mana anak tumbuh dan berkembang tanpa kehadiran seorang ayah, baik secara fisik maupun psikis. Kondisi ini bisa menyebabkan dampak buruk bagi kehidupan seorang anak.
Kepribadian anak merupakan hasil dari pengasuhan sekaligus penanganan yang baik dari orang tua. Ketika salah satu dari mereka tidak hadir, dapat menyebabkan ketimpangan dalam perkembangan psikologisnya.
Dikutip dari Jurnal Dampak Fatherless Terhadap Perkembangan Psikologis Anak milik Arie Rihardini dkk, dampak fatherless pada anak adalah memiliki gangguan kecemasan dan depresi.
Selain itu, absennya figur ayah dalam pengasuhan juga dapat membuat anak kebingungan akan identitas gendernya sendiri. Hal ini bisa meningkatkan penyimpangan orientasi seksual anak.
Ada banyak anak Indonesia yang mengalami fatherless. Namun, kebanyakan dari anak-anak tidak menyadari kondisi ini sampai mereka mulai memasuki usia dewasa.
Indonesia Menduduki Peringkat 3 sebagai Fatherless Country
Istilah ini mungkin jarang didengar oleh masyarakat Indonesia, padahal, negara Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai fatherless country.
Banyak anak Indonesia yang mengalami kondisi seperti ini, namun kebanyakan dari mereka kurang memiliki kepekaan sehingga telat menyadari dan terkena dampaknya.
Dikutip dari Jurnal Dampak Fatherless Terhadaap Perkembangan Anak Usia Dini milik Hayani Wulandari dkk, penyebab fatherless di Indonesia adalah masih kuatnya budaya patriarki pada masyarakat.
Budaya tersebut mempercayai bahwa seharusnya laki-laki memiliki tanggung jawab secara penuh terhadap nafkah, sedangkan mengurus anak merupakan kewajiban perempuan.
Hal ini dipengaruhi oleh asumsi budaya bahwa laki-laki tidak seharusnya memperhatikan sekaligus ikut serta dalam mengasuh anak. Karena ini, timbulah kekosongan pada anak.
Kedua orang tua memang memiliki peran penting, namun ayah merupakan seorang kepala keluarga sekaligus orang yang paling bertanggung jawab dalam hal mendidik anak.
Karena itu budaya patriarki harus dihilangkan, agar anak merasakan kasih sayang sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. (RAF)
