Mengenal Teori Disonansi Kognitif yang Sering Terjadi pada Manusia

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teori disonansi kognitif yang sering terjadi pada manusia merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan seseorang yang tidak nyaman. Hal tersebut dikarenakan adanya pertentangan tentang apa yang dilakukan dan prinsip yang dipegang.
Untuk mengetahui penjelasan tentang pengertiam teori disonansi kognitif, simak uraian di dalam artikel ini.
Pengertian Teori Disonansi Kognitif
Menurut Dr. La Tarifu, S.Pd, M.Si, dalam buku yang berjudul Komunikasi Pertanian Konsep Penyampaian Pesan dan Penyuluhan halaman 17, teori disonansi kognitif termasuk dalam psikologi sosial yang membahas tentang perasaan ketidaknyamanan seseorang.
Lebih lanjut, Dr. La Tarifu menjelaskan ketidaknyamanan tersebut diakibatkan oleh pemikiran, sikap, dan perilaku yang saling bertentangan.
Sedangkan tujuan mempelajari teori ini yaitu untuk memotivasi seseorang dalam mengambil langkah demi langkah agar ketidaknyamanan tersebut dapat berangsur-angsur berkurang.
Istilah atau kata disonansi tersebut pertama kali dikenalkan oleh psikolog Leon Festinger. Ajaran daripada teori disonansi kognitif yaitu apabila terjadi pertentangan harus segera dilakukan pelepasan. Karena hal tersebut berdampak tidak baik untuk kenyamanan seseorang, bahkan cenderung menyiksa perasaan.
Tanda-Tanda Disonansi Kognitif
Terdapat beberapa tanda yang bisa dijadikan sebagai alternatif untuk menganalisis keadaan seseorang. Apakah sedang mengalami disonansi kognitif atau tidak.
Merasa malu dan selalu ingin menyembunyikan tindakan-tindakan yang dilakukannya.
Sering merasa bersalah atau menyesal terhadap sikap atau perilaku yang pernah dilakukannya dimasa lalu.
Menghindari pembicaraan atau obrolan tentang topik-topik yang bertentangan dengan prinsip yang dianutnya.
Melakukan sesuatu dikarenakan adanya tekanan dari sosial atau orang lain. Padahal apa yang dilakukannya tersebut bertentangan dengan prinsip dan keyakinan dirinya.
Mengabaikan informasi-informasi yang menyebabkan disonansi.
Mencari cara untuk membenarkan atau merasionalkan tentang tindakan-tindakan yang diambil.
Merasa cemas, gelisah, atau dipenuhi perasaan tidak nyaman ketika melakukan atau mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan ideologinya.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori disonansi kognitif adalah keadaan atau situasi yang mengarah kepada konflik mental.
Yang mana hal tersebut terjadi karena adanya pertentangan, pertikaian, perbedaan atau ketidakselarasan antara sikap, pemikiran, perilaku, dan keyakinan. (DAI)
