Pengertian Toxic Trait, Ciri-Ciri, dan Cara Menyikapinya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toxic trait adalah kebiasaan buruk pada diri seseorang. Orang yang memiliki perilaku ini kerap menyakiti orang-orang yang ada di sekitarnya.
Menurut psikolog bernama Sherrie Campbell, Ph.D dalam situs mindbodygreen.com, toxic trait adalah perilaku beracun yang dilakukan terus-menerus hingga menjadi kebiasaan.
Kebiasaan ini bisa merugikan orang lain dan secara tidak disadari juga dapat merusak diri sendiri.
Ciri-Ciri Toxic Trait
Berikut penjelasan mengenai ciri-ciri toxic trait pada seseorang yang perlu diwaspadai:
1. Punya Sifat Kasar
Orang yang punya perilaku ini biasanya suka memperlakukan orang dengan kasar secara fisik maupun emosional, seperti suka memukul atau membentak.
Toxic trait seperti ini kerap menimbulkan KDRT dalam hubungan toksik atau toxic relationship.
2. Manipulatif
Salah satu ciri-ciri toxic trait adalah manipulatif atau perilaku memanfaatkan atau mengendalikan orang demi mencapai tujuannya.
3. Suka Menghakimi
Perilaku ini kerap membuat pelakunya suka mengkritik dan menghakimi orang lain tanpa memedulikan kebenarannya. Biasanya mereka juga suka menghakimi sesuatu yang sebenarnya mereka lakukan juga.
Misal, menuduh pasangannya selingkuh karena suka berinteraksi dengan orang lain. Mereka berasumsi seperti itu karena sebenarnya mereka melakukan hal ini juga.
4. Tidak Bisa Berempati
Biasanya orang yang punya perilaku toxic ini tidak bisa menempatkan posisi mereka sebagai orang yang tersakiti atau berempati.
5. Suka Berbohong
Berbohong adalah sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging pada orang dengan toxic trait. Mereka bisa berbohong dan menutupi sesuatu dengan sesuatu lainnya agar kehidupannya aman.
Cara Menyikapi Orang dengan Toxic Trait
Jika berhadapan dengan orang yang memiliki toxic trait, langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengajaknya bicara dari hati ke hati. Utarakan bahwa perilakunya tidak baik dan bisa menyakiti orang lain.
Apabila mereka tidak mau mengubah dirinya, lebih baik jaga jarak dan berinteraksi secukupnya saja agar tidak merasa sakit hati.
Selain itu, rendahkan ekspektasi saat berinteraksi dengannya dan tidak perlu memusingkan atau memasukkan semuanya ke dalam perasaan agar kesehatan mental tetap terjaga.
Lantas, bagaimana jika pelaku toxic trait adalah orang di keluarga kita sendiri, seperti suami atau istri? Jawabannya adalah kita harus bersabar dan tetap berusaha menasihatinya agar mau mengubah perilakunya menjadi lebih baik. (Tp)
