Penyebab Anak Keras Kepala Menurut Psikologi yang Penting Diketahui Orangtua

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyebab anak keras kepala menurut psikologi merupakan salah satu hal yang harus diketahui orang tua.
Ketika berhadapan dengan anak-anak yang semakin tumbuh dan berkembang, orangtua sering merasa kewalahan. Terutama ketika mereka memasuki usia remaja, anak-anak cenderung keras kepala dan terus mempertahankan pendapat mereka sendiri.
Menurut Samantha Elsener dalam buku Psikolog Keluarga, sikap keras kepala pada anak tidak selalu buruk. Orangtua perlu memahami penyebab-penyebabnya dan belajar bagaimana berkomunikasi dengan anak-anak mereka.
Penyebab Anak Keras Kepala Menurut Psikologi
Berikut adalah beberapa penyebab anak keras kepala menurut psikologi:
1. Temperamen
Salah satu faktor mendasar adalah temperamen anak. Meskipun kita mungkin tahu tipe temperamen anak, seringkali kita masih melabeli mereka sebagai anak yang keras kepala.
Mengetahui dan memahami temperamen anak dapat membantu orang tua berinteraksi dengan mereka secara lebih efektif.
2. Otoritas
Anak-anak memiliki otoritas mereka sendiri. Mereka memiliki kebutuhan untuk eksplorasi, koneksi, dan perhatian. Orangtua perlu memahami bahwa memberi anak ruang untuk mengemukakan pendapat mereka adalah penting.
3. Kontrol
Saat anak merasa memiliki kontrol, otak mereka berfungsi lebih efektif. Ketika mereka kehilangan kontrol, mereka merasa terancam dan sulit berpikir.
Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memberikan anak mereka sejumlah kendali yang sesuai.
4. Rasa Keamanan
Anak-anak masih membangun pemahaman mereka tentang dunia dan kadang-kadang merasa tidak aman, terutama saat terjadi perubahan besar di rumah.
Orangtua perlu memberikan dukungan dan keamanan kepada anak-anak mereka dalam situasi-situasi ini.
5. Sering Membentak dan Menggunakan Nada Tinggi
Orang tua yang sering membentak anak dan menggunakan nada tinggi ketika memarahi dan menasihatinya, cenderung membuat anak tumbuh sebagai orang yang keras kepala dan susah diatur.
Untuk mengatasi anak keras kepala, penting bagi orangtua untuk selalu berkomunikasi, mendengarkan pendapat anak, dan melakukan negosiasi.
Dengan memahami bahwa anak memiliki pemikiran dan perasaan mereka sendiri akan membantu menciptakan hubungan yang lebih baik antara orangtua dan anak.
Selain itu, mengajarkan kecerdasan emosi juga bisa membantu anak mengelola emosinya dengan baik. Sehingga mereka dapat mengatasi tantangan dan konflik dengan lebih baik.
Sebagai orangtua juga perlu membantu anak-anak mereka untuk tidak bersikap impulsif, mendiskusikan masalah dengan secara terbuka, menerima emosi anak, dan memberikan pujian ketika anak dapat mengendalikan emosinya.
Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang lebih bijak dan terampil dalam menghadapi berbagai situasi. (DAI)
