Konten dari Pengguna

Regulasi Emosi pada Remaja dan Strategi Mengajarkannya

info psikologi

info psikologi

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi regulasi emosi pada remaja. Sumber foto: pexels/Julia M Cameron.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi regulasi emosi pada remaja. Sumber foto: pexels/Julia M Cameron.

Regulasi emosi pada remaja dan strategi mengajarkannya merupakan sesuatu yang penting untuk diketahui. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam mendukung kemampuan sosial.

Menurut penjelasan Thompson dalam buku Regulasi Emosi Wargabinaan dan Anak karya Zahra Meutia, dkk., regulasi emosi adalah proses intrinsik dan ekstrinsik yang bertanggung jawab untuk memonitor, mengevaluasi, dan memodifikasi reaksi emosi, khususnya intensitas dan bentuk reaksinya guna mencapai suatu tujuan.

Untuk mengetahui penjelasan lengkapnya, simak uraian di bawah ini.

Strategi Regulasi Emosi pada Remaja

Ilustrasi strategi regulasi emosi pada remaja. Sumber foto: pexels/Anil Sharma.

Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diajarkan kepada remaja untuk melakukan regulasi emosi.

1. Self Talk

Self talk atau berbicara pada diri sendiri merupakan salah satu cara yang bisa menetralkan perasaan-perasaan negatif yang sedang dialami remaja.

Agar bisa berjalan optimal, langkah pertama yang dapat dilakukan untuk melakukan self talk adalah mengenali pikiran-pikiran negatif, kemudian mengajaknya untuk mengarahkan ke pikiran-pikiran positif.

2. Relaksasi Otot

Relaksasi otot adalah latihan mengendurkan otot-otot. Relaksasi dapat membantu mengontrol amarah dan menetralkan stres. Selain dapat menenangkan pikiran, hal tersebut juga dapat membuat perasaan menjadi lebih tenang.

3. Mengelola Pernapasan

Olah pernapasan sering digunakan sebagai terapi untuk menenangkan diri. Secara fungsional, pernapasan yang baik dapat memperlancar aliran oksigen ke otak. Dengan begitu, seseorang dapat berpikir jernih dan cemerlang.

4. Memahami Diri Sendiri

Usia remaja merupakan fase mengalami pubertas. Pada masa ini, remaja sering mengalami gejolak emosi yang berubah-ubah. Dengan memahami diri sendiri, remaja dapat meregulasi emosinya serta melatih ketenangan emosi agar tidak terlalu frustasi.

5. Mengidentifikasi Perilaku Emosional dan Pemicunya

Remaja yang dapat mengidentifikasi penyebab emosi dapat mencegah terjadi emosional yang terlalu menggebu-gebu.

Contohnya, jika seorang remaja ketika marah melakukan kekerasan, maka ia perlu diberikan pemahaman bahwa emosi adalah hal yang wajar. Namun, cara yang digunakan untuk melampiaskannya itu tidak benar.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa cara melakukan regulasi emosi bisa dengan beberapa strategi, diantaranya melakukan olah pernapasan, mengidentifikasi pemicu emosi, relaksasi otot, memahami diri sendiri, dan self talk atau berbicara dengan diri sendiri.