Induk Organisasi Pencak Silat di Indonesia, Begini Sejarahnya

·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Info Sport tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Induk Organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI atau Ikatan Pencak Silat Indonesia. Tak hanya olahraga lainnya saja, pencak silat juga memiliki induk organisasi sendiri.
Selain sebagai bela diri, pencak silat juga merupakan sebuah kesenian yang menampilkan gerakan menarik. Salah satu ciri khas yang dimiliki oleh bela diri ini adalah gerakannya yang terlihat seperti tarian.
Saat ini, perkembangan pencak silat semakin pesat setelah terbentuknya induk organisasi pencak silat yang mewadahi seni bela diri di Indonesia.
Induk Organisasi Pencak Silat di Indonesia adalah
Induk organisasi pencak silat nasional adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia atau IPSI. Organisasi ini merupakan pelopor terbentuknya nama majemuk “pencak silat”.
Tanggal berdirinya nama induk organisasi pencak silat Indonesia adalah 18 Mei 1948 di Surakarta. Pada saat itu, Ketua IPSI pertama adalah Wongsonegoro.
Penamaan kata pencak silat berlandaskan pada makna kata yang sama, lalu keinginan untuk menyatukan perguruan pencak dan perguruan silat.
Sejak nama IPSI disahkan, negara lainnya juga ikut mengesahkan penamaan seni bela diri tersebut dengan nama “Pencak Silat” dalam Organisasi Federasi Internasional yang diberi nama Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (PERSILAT).
Tujuan dibentuknya IPSI sebagai induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah melestarikan dan mengembangkan seni bela diri ini dan menyatukan berbagai aliran pencak silat di Indonesia.
Sejarah Induk Organisasi Pencak Silat
Mengutip dari situs IPSI, berikut ini adalah sejarah singkat IPSI:
1. Perhimpunan Pencak Silat Indonesia 1922
Usaha untuk menyatukan aliran perguruan pencak silat sebenarnya sudah dimulai pada masa penjajahan Belanda, tepatnya pada 1922 di Segalaherang, Subang, Jawa Barat.
Perhimpunan Pencak Silat Indonesia didirikan untuk menggabungkan aliran pencak silat Jawa Barat yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.
2. Gabungan Pencak Mataram 1943
Pada masa kependudukan di era penjajahan Jepang, Presiden pertama RI Soekarno pernah menjadi pelindung. Ikhtiar serupa juga diadakan di kota Yogyakarta pada 1943, kemudian beberapa tokoh pendekar dalam pembentukan dari berbagai aliran pencak silat adalah:
R. Brotosoetarjo dari Budaya Indonesia Mataram.
Muhammad Djoemali dari Taman Siswa.
RM. Harimurti dari Krisnamurti.
Abdullah dari Pencak Kesehatan.
R. Soekiman dari Rukun Kasarasaning Badan.
Ali Purwarso dari Setia Hati.
Suwarno dari Setia Hati Terate.
R. Mangkupujono dari Persatuan Hati.
RM Sunardi Suryodiprojo dari Reti Ati.
Lalu, mendirikan organisasi yang bernama Gapema atau Gabungan Pencak Mataram untuk bersama-sama menggalang pencak silat yang tumbuh di Kesultanan Kerajaan Yogyakarta.
Gapema merupakan pasukan yang seluruh anggotanya adalah pendekar pencak silat yang turut berjuang dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
3. Gabungan Pentjak Seluruh Indonesia 1947
Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1947 di kota Yogyakarta, juga berdiri satu organisasi bernama Gapensi (Gabungan Pentjak Seluruh Indonesia) yang bertujuan untuk menyatukan seluruh aliran perguruan pencak silat di seluruh Indonesia.
Gapensi didirikan oleh Muhammad Djoemali dari Taman Siswa bersama beberapa para tokoh aliran pencak silat, yaitu:
RM Soebandiman Sirdjoatmodjo dari aliran pencak silat Perisai Diri.
Ki Widji HArtani dari Prisai Sakti Mataram.
R Brotosoetajo dari budaya Indonesia mataram.
Widjaja.
4. Ikatan Pentjak Seloeroeh Indonesia 1948
PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) yang kemudian berganti nama menjadi KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), mengadakan sebuah Konperensi Bagian Pentjak di Solo pada 2 Juni 1948.
Pertemuan tersebut sebelumnya diawali dengan rapat pembentukan Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia di Solo pada awal tahun 1947 yang diprakarsai oleh Mr Wongsonegoro, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan.
Pada hasil rapat ini, dibentuklah panitia IPSI (Ikatan Pentjak Seloeroeh Indonesia) pada Mei 1947 yang diketuai oleh Mr Wongsonegoro. IPSI bernaung di bawah Kementerian Pembangunan dan Pemuda.
Pada masa kepemimpinan Mayjen TNI Eddie Marzuki Nalapraya, beberapa perguruan yang ikut aktif dalam memperjuangkan keutuhan IPSI tersebut diberi istilah Perguruan Historis dan dijadikan Anggota Khusus IPSI. Mereka dipandang memengaruhi sejarah dan perkembangan IPSI serta pencak silat pada umumnya antara 1948 dan 1973.
Perguruan Pencak Silat Historis
Setia Hati
Persaudaraan Setia Hati Terate
Kelatnas Indonesia Perisai Diri
PSN Perisai Putih
Tapak Suci Putera Muhammadiyah
Phasadja Mataram
Perpi Harimurti
Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI)
PPS Putra Betawi
KPS Nusantara
Itulah induk organisasi pencak silat yang ada di Indonesia beserta sejarah perkembangannya.
(ANH)
