Konten dari Pengguna

Sarung Nggoli Dompu, Nasibmu Kini

Info Dompu Admin

Info Dompu Adminverified-green

Sebuah platform informasi digital partner kumparan.com yang menyajikan kisah menarik seputar wisata, kesehatan, lingkungan, dan informasi terkini dari Dompu dan Nusa Tenggara Barat (NTB)

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Info Dompu Admin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ummi Hajrah Pemilik Tenun Tradisional Flamboyan Desa Ranggo, Kabupaten Dompu. Foto: Ilyas Yasin/Info Dompu
zoom-in-whitePerbesar
Ummi Hajrah Pemilik Tenun Tradisional Flamboyan Desa Ranggo, Kabupaten Dompu. Foto: Ilyas Yasin/Info Dompu

Menjelang bulan April wajah Hajjah Hajrah (60) semakin cerah. Dia juga terlihat lebih sibuk dari hari biasanya. Maklum, bagi wanita paruh baya ini bulan itu membawa berkah sendiri bagi usaha tenunan tradisional miliknya. Di rumahnya yang sederhana di pinggir jalan raya Desa Ranggo, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu, NTB, ia seolah berpacu dengan usianya yang kian senja.

Permintaan kain tenunan lebih meningkat jelang momen 15 April yang menandai hari puncak Festival Tambora dirangkaikan dengan Hari Jadi Pemda Dompu. Tanggal itu mengacu pada meletusnya Gunung Tambora pada tahun 1815. Acara budaya ini memang menjadi salah satu pasar andalan bagi kelangsungan usaha tenun tradisional.

Sejak 2015 Festival Tambora telah ditetapkan sebagai agenda nasional untuk memancing kunjungan wisatawan ke bumi Nggahi Rawi Pahu. Acara budaya ini biasanya diikuti semua unsur masyarakat, instansi pemerintah, sekolah, lembaga swasta maupun komunitas.

Berbagai acara digelar untuk memeriahkan acara tahunan ini seperti lomba motor trabas lintas alam, pagelaran musik, tarian serta karnaval busana tradisional katente tembe bagi pria dan rimpu bagi wanita.

Katente tembe adalah pakaian tradisional kaum pria zaman dulu dengan menggunakan dua potong kain sarung. Satu kain dililitkan di pusar hingga ke bawah, satunya lagi diselempangkan. Sedangkan rimpu adalah busana kaum perempuan dengan cara melilitkan kain sarung di kepala dan dibiarkan terurai ke bawah---mirip seperti jilbab. Sedangkan satunya lagi sebagai bawahan mirip rok panjang. Ada dua jenis rimpu yakni rimpu mpida (mirip cadar) hanya tampak mata, ini umumnya untuk perempuan yang masih gadis, sedangkan rimpu colo (tampak wajah) untuk perempuan yang sudah menikah.

Pakaian Tradisional Rimpu Colo bagi Wanita Dompu adalah Produk Tenun Nggoli. Foto: Intan Putriani/Info Dompu

Di rumah sekaligus tempat usaha itulah perempuan ini merenda harapan akan kelanjutan usaha yang sudah dilakoninya sejak masih kecil. “Saya menenun sejak SD dan membentuk kelompok pada 1987,” ujarnya lirih. Tangannya terlihat lincah menarik dan menggulung puluhan helai benang yang dipasang di atas alat tenunan. Benang-benang warna-warni itu harus diurai satu persatu, dikombinasikan dengan benang berwarna lainnya untuk mendapatkan kombinasi warna yang sesuai. “Kombinasi warna kain-kain ini sesuai permintaan pemesannya,” kata Ummi Hajrah sambil terus menarik dan menggulung helai benangnya.

Selain sebagai tempat tinggal, rumah ini juga berfungsi sebagai tempat produksi tenunan ‘gedogan’ khas Dompu, yakni kain tenun yang dikerjakan secara manual. Bagian dalam rumah ini dibuat los sedemikian rupa. Di pojok rumah terlihat beberapa peralatan tenun yang biasa digunakan. Di bagian depan rumah, sebuah kamar berukuran 3x3 meter, yang langsung berhadapan dengan jalan raya dijadikan tempat penjualan kain-kain yang dihasilkannya. Terdapat dua etalase agak panjang di dalamnya, tempat untuk memajang kain-kain tradisional itu.

Ada beberapa jenis kain tenunan tradisional tersedia di sini seperti muna pa’a, songket, salungka dan jenis sarung biasa. Ada juga kain ikat kepala dan selendang berukuran kecil. Harga kain tenunan berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta rupiah, tergantung tingkat kesulitan pembuatannya. Satu kain sarung paling cepat selesai selama tiga hari. Muna pa’a paling rumit pembuatannya sehingga minimal diselesaikan sepekan.

Ummi Hajrah, demikian panggilan akrabnya, memiliki 20 pekerja di bawah bendera industri tenunan tradisional “Flamboyan”. Semua pekerjanya perempuan. Di luar musim tanam, umumnya mereka melakukan pekerjaannya di tempat ini, tapi sebagiannya lagi di rumah masing-masing terutama bagi pekerja yang sudah menikah. Setelah selesai hasil tenunan disetorkan dengan upah dua ratus lima puluh ribu per satu potong kain tenun berukuran 2,1 meter. “Tapi benangnya dari saya,” ujar perempuan satu anak ini.

Sistem penjualan kain-kain ini masih tradisional karena tergantung pesanan, atau tamu-tamu luar daerah yang datang, termasuk turis asing. Kebetulan tempat tenunan ini adalah jalur menuju kawasan wisata Pantai Lakey, Hu’u. Dalam satu bulan Ummi Hajrah mengaku bisa mengantongi lima juta rupiah dari penjualan kainnya. Yusuf (24), puteranya, menjelaskan penjualan usaha ibunya pernah dilakukan secara online melalui tokopedia.com, tapi kurang diminati konsumen. “Untuk produk-produk tradisional seperti tenunan Nggoli, kayaknya konsumen lebih suka melihat-lihat secara langsung baru memutuskan membeli,” ujarnya.

Saat ini Ummi Hajrah mendapar pesanan lima ribu potong kain dari Pemda Dompu. “Katanya sih sebagai pakaian dinas seluruh pegawai,” ujarnya senang. Meski begitu, dirinya mengaku ragu akan keseriusan pesanan tersebut. Sebab, beberapa kali sebelumnya ada yang pesan tapi kadang dibatalkan oleh pihak Pemda.

Ummi Hajrah kini mulai gelisah memikirkan kelanjutan usahanya. Pasalnya nyaris sudah tidak ada lagi gadis remaja yang tertarik menekuni pekerjaan ini, meski secara ekonomi menjanjikan. “Anak-anak sekarang lebih suka maen HP (handphone) daripada duduk muna (menenun),” keluhnya. Kekhawatirannya beralasan.

Di sisi lain gencarnya sarung pabrikan serta harganya yang murah membuat sebagian besar warga meninggalkan kain tenunan. Di pasaran, termasuk yang dibawa penjual keliling kampung, dengan uang puluh ribu rupiah satu potong kain sarung pabrikan bisa langsung dimiliki.

Tahun lalu Pemda Dompu sudah memfasilitasi membangun ruang pameran bagi sarung Nggoli di desa Saka, pinggiran kota Dompu. Tempat ini dimaksudkan untuk memperkenalkan berbagai produk lokal seperti madu, susu kuda liar, kopi, makanan ringan termasuk kain tenun. Tapi Ummi Hajrah lebih memilih memajang kain-kainnya di rumahnya sendiri. “Soalnya kalau dititipkan di sana (ruang pamer, red) tidak laku-laku,” katanya.

Di desanya Ummi Hajrah adalah penjaga terakhir tenunan tradisional Nggoli di Desanya. Kini, di saat usianya yang kian senja ia dilanda kegelisahan memikirkan pewaris kekayaan budaya ini. Ia menghadapi dua gelombang sekaligus, yakni industri sarung pabrikan maupun keengganan generasi muda mempelajari dan meneruskan usaha tenunan Nggoli ini.

-

Penulis : Ilyas Yasin