Kumparan Logo
Konten Media Partner

Cerita Backpacker Asal Lampung: Keliling Desa di Indonesia tapi Terhalang Corona

Info Dompuverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muhammad Rega, Backpacker asal Lampung. Foto: Doc Rega
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Rega, Backpacker asal Lampung. Foto: Doc Rega

Info Dompu - Muhammad Rega (25) tidak pernah membayangkan sebelumnya akan sampai ke Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebuah daerah yang masih asing baginya. Semuanya bagai mimpi. Tapi wabah Virus Corona (COVID-19) yang sedang melanda Indonesia, terutama di pulau Jawa, membawanya hingga ke daerah dengan semboyan 'Nggahi Rawi Pahu' ini.

Rega, sapaannya, tiba di Dompu, Kamis malam (9/4). Ia dijemput Imam Amarijami Saputra, pemuda Dompu yang kuliah di Yogyakarta. Imam sepekan lebih dahulu tiba di Dompu. Sedangkan Rega, sementara ini menginap di rumah Imam, di Dusun Restu Desa Tembalae Kecamatan Pajo.

Rega menjelaskan, ia sendiri tidak kenal dengan Imam. “Saya justru dikenalkan oleh teman aktivis Mapala di kampus dan dihubungkan dengan Imam,” ujarnya ketika ditemui di rumah Imam, Selasa (14/4).

Meski bukan aktivis Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam, red) tapi Rega terhubung dan berteman dengan banyak komunitas seperti Komunitas Mapala, Komunitas Vespa dan lainnya. Jaringan komunitas itulah yang banyak membantu perjalanan dirinya saat singgah di sejumlah kota, termasuk penginapan.

Ilustrasi. Unplash

Tetapi ia juga sering menginap di rumah warga. Sebagai backpacker, kata dia, dirinya juga sudah biasa tidur di mesjid, pom bensin, pos ronda atau lapangan dengan menggunakan tenda dan hammock yang dibawanya. Ia mengklaim sudah hampir 10 bulan melakukan perjalanan keliling Indonesia menggunakan motor matic-nya.

“Saya start dari Bandar Lampung sejak 27 Juni 2019, hari Kamis habis Lebaran. Jadi sudah hampir 10 bulan,” terangnya.

Rega menceritakan, usai tamat kuliah pada 2019, alumni Fakultas Hukum Universitas Bandar Lampung ini magang dan bekerja sebagai relawan di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Ia lantas minta cuti dari kantornya guna melunasi impiannya untuk keliling desa di Indonesia.

Pekerjaanya yang banyak mendampingi masyarakat miskin membuat pemuda asal Kota Bandar Lampung ini ingin merasakan dari dekat hidup bersama rakyat di desa. Sebelumnya bersama teman-temannya ia pernah melakukan perjalanan serupa tapi baru seputar wilayah Bandar Lampung dan Sumatera Selatan.

Karena itu ia ingin merasakan tantangan baru dan berkelana di daerah lain di Indonesia. Dia menargetkan keliling Indonesia selama 1 tahun sendirian. Sayangnya, wabah Corona menghambat rencananya.

Rega, Backpaker asal Lampung yang sampai di Dompu. Foto: Ilyas Yasin

Ia mengaku jatuh hati dengan kesederhanaan masyarakat desa yang dikunjunginya baik cara hidup maupun nilai-nilai yang dianut masyarakatnya. Dikatakan, berbeda dengan backpacker lain seperti touring, mendatangi tempat wisata atau kuliner tertentu dan berfokus di kota, ia lebih spesifik melakukan perjalanan ke desa-desa.

“Kalau backpacker berupa touring misalnya, lebih banyak menghabiskan waktu di jalan dan di atas kendaraan kan. Sedangkan saya lebih suka ke pelosok-pelosok desa,” terangnya.

Jawa Barat adalah provinsi pertama yang dikunjunginya begitu keluar dari Bandar Lampung. Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Cisarua, Pengalengan, Sumedang, Ciamis, Cirebon adalah kota yang pernah didatanginya. Tak terhitung jumlah desa yang pernah disinggahinya. Rega mengaku lupa nama-nama desa yang disinggahinya tersebut.

Rega mengisahkan, awalnya hendak melakukan perjalanan menggunakan bus. Tetapi ternyata banyak menghabiskan anggaran karena sering pindah bus, sehingga saat berada di Bogor ada temannya dari Lampung yang hendak menyusul.

Rega saat bertemu reporter Info Dompu. Foto: Doc Ilyas Yasin

Udah, akhinya kami putuskan pake motor. Temanku membawakan motorku dari Lampung, sedangkan aku nunggu di Bogor,” ujarnya.

Di kota hujan ini Rega dan temannya mengalami masalah yakni kecelakaan dan tertipu jual beli online, sehingga hampir 2 bulan tertahan di Bogor. Saat di jalan motor yang dikendarai temannya menabrak mobil sehingga harus membayar ganti rugi sekitar Rp 1 juta. Karena uang tak cukup temannya terpaksa bekerja 1 bulan di Bintaro untuk membiayai kerusakan mobil tersebut. Sementara Rega sendiri terpaksa menjual PS di rumahnya di Lampung untuk menambal ganti rugi kerusakan itu.

Di sisi lain, karena tidak membawa perlengkapan akhirnya rega memutuskan membeli tenda dan hammock tapi tertipu. Barangnya tidak dikirim padahal uang sudah dikirim.

“Nominalnya kecil sih Rp 400 ribu, tapi bagi backpacker seperti kami uang itu bisa digunakan untuk bertahan 1 hingga 2 minggu di jalan,” sesalnya.

Karena temannya datang tanpa persiapan apapun akhirnya hanya bertahan 2 bulan, sehingga Rega memutuskan meneruskan perjalanan sendirian.

-

Ilyas Yasin