Kumparan Logo
Konten Media Partner

Cerita Ori Coffee: Produk Lokal Dompu yang Kenalkan Kopi Khas Gunung Tambora

Info Dompuverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Produk Ori Coffee yang tersedia di pasaran kopi lokal. Foto: Doc Ori Coffee
zoom-in-whitePerbesar
Produk Ori Coffee yang tersedia di pasaran kopi lokal. Foto: Doc Ori Coffee

Info Dompu - Ori Coffee adalah salah satu brand kopi lokal asal Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terus berjuang memperkenalkan kopi khas dari Gunung Tambora.

Menurut owner Ori Coffee, Muhdar (48), bersama dengan sesama pelaku usaha kopi di Kabupaten Dompu, pihaknya terus memperjuangkan agar kopi Tambora dikenal secara luas baik bagi pecinta kopi dalam negeri maupun mancanegara.

Salah satu yang dilakukan adalah berpartisipasi dalam sejumlah kegiatan pameran dan budaya di Kabupaten Dompu maupun luar daerah.

Seperti yang baru-baru ini dilakukan, pada 12-14 Februari 2020 pihaknya menjadi salah satu peserta Pameran Industri Kreatif dalam rangka Festival Bau Nyale di Pantai Kuta Mandalika, Lombok Tengah, NTB.

Ori Coffee dalam Festival Bau Nyale 2020. Foto: Doc Oti Coffee

Kegiatan tersebut sekaligus dalam rangka Promosi Wonderful Indonesia serta persiapan MotorGP 2021 mendatang di Lombok. Dijelaskan, bersama 3 UKM (Usaha Kecil Mikro) Dompu lainnya, Ori Coffee turut memeriahkan agenda wisata Provinsi NTB tersebut.

“Targetnya bisa memperkenal Ori Coffee di event nasional. Apalagi ini di kawasan wisata yang dikunjungi tamu-tamu dari provinsi lain bahkan wisatawan mancanegara,” ujar Muhdar melalui telepon selulernya dari Lombok ketika dihubungi, Sabtu (15/2).

Kata dia, ini adalah kali keempat Ori Coffee mengikuti kegiatan tersebut di tingkat provinsi yang difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan maupun Dekranasda (Dewan Ekonomi Kreatif Nasional Daerah) Kabupaten Dompu.

Sebagai binaan Bank Indonesia Regional NTB, Ori Coffee juga beberapa kali mengikuti pameran di Jakarta khususnya dalam rangka pelatihan pengolahan kopi berorientasi ekspor, peningkatan kualitas produk serta penguatan jaringan pemasaran.

Doc Ori Coffee

Nama Gunung Tambora yang melegenda, kata Muhdar yang berprofesi sebagai ASN ini, turut membantu memperkenalkan nama kopi Tambora baik kepada pecinta kopi dalam negeri maupun mancanegara.

Ke depan, katanya, para pelaku kopi di Dompu harus lebih sering menggelar berbagai acara untuk memperkenalkan kopi Tambora terutama kepada warga Dompu, misalnya melalui Festival Kopi Tambora seperti digelar beberapa waktu lalu.

“Sebelumnya kopi Tambora ini kan lebih banyak di-drop keluar daerah. Tapi ketika diolah dan dijual nama Tambora-nya hilang, yang tersisa hanya kopi-nya,” sindirnya.

Oleh karena itu sejak Festival Pesona Tambora 2015, Muhdar dan teman-temannya memutuskan untuk mengolah dan memasarkan produk kopi Tambora dengan beberapa merek. Dia dan teman-temannya sesama pengusaha kopi mengaku terus berjuang memperkenalkan kopi Tambora hingga sejajar dengan beberapa kopi daerah lain seperti kopi Gayo (Aceh), kopi Toraja (Sulawesi Selatan) atau kopi Bajawa (NTT).

Owner Ori Coffee, Muhdar bertemu Pejabat Provinsi NTB. Foto: Doc Ori Coffee

Untuk bisa bersaing di pasaran, pihaknya terus meningkatkan kualitas kopi Tambora maupun menjaga kelangsungan pasokan kopi. “Sebab meski kopinya bagus tapi jika pasokan terputus juga bisa merepotkan. Pelanggan bisa lari,” ujarnya.

Peningkatan kualitas kopi, katanya, dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan kelompok tani binaan sehingga kualitas kopi terjaga baik sejak pasca panen, pengoalahan hingga roasting. Dengan cara itu pihaknya mudah mengontrol kualitas kopi yang dibeli serta membuat kesepakatan harga yang layak sesuai standar.

Dijelaskan, harga kopi ditentukan oleh kualitas kopi. “Kerjasama tersebut sekaligus untuk menjamin kelangsungan stok kopi,” terangnya.

Menjawab pertanyaan, Muhdar menjelaskan tiap daerah memiliki kekhasan citarasa dan aroma kopi yang berbeda-beda. Kopi Tambora, kata dia, meski punya varian rasa yang mirip dengan daerah lain, tapi tetap punya kekhasan seperti aroma coklat dan buah pisang serta nangka.

“Aroma itu dipengaruhi oleh letak geografis, tanah dan tanaman lain di dekatnya,” ujar kandidat Doktor Universitas Negeri Makassar ini.

Produk Ori Coffee, kopi rasa pisang. Foto: Doc Coffee

Dia optimis kopi Tambora akan mampu bersaing, apalagi peluang dan pasar kopi ke depan cukup besar baik karena pertumbuhan penduduk maupun karena tingginya permintaan pasar.

“Kalo dulu kan orang minum kopi kampungan, tapi sekarang sudah jadi life style. Kopi juga penyumbang devisa terbesar kedua secara nasional setelah Migas. Saya rasa bisnis kopi tak akan mati,” ujarnya optimis.

Ori Coffee sendiri, sejauh ini menjual produknya secara online maupun offline seperti dititipkan di kafe, gerai atau tokoh oleh-oleh baik yang ada di Dompu, Bima dan Mataram.

Kata Muhdar, meski di Dompu belum terbentuk wadah asosiasi pelaku kopi tapi bisnis kopi Tambora ditopang oleh beberapa komunitas pecinta kopi seperti KPK (Komunitas Pecinta Kopi), Kopi Bidom (Bima Dompu).

Sejauh ini, kata dia, meski permintaan terus naik tapi kemampuan produksi Ori Coffee masih terbatas baik karena faktor modal maupun alat produksi, termasuk hanya mempekerjakan 3 orang. Menyinggung nilai transaksi tiap ikut pameran, Muhdar menjelaskan nilainya kecil.

“Sebab biasanya pembeli hanya mengambil sampel. Setelah coba di rumah dan merasa cocok barulah mereka pesan,” ujarnya.

-

Ilyas Yasin