Kumparan Logo
Konten Media Partner

Fenomena Pantun Warganet Dompu di NTB, Pemerhati: Anak Muda Masih Cinta Budaya

Info Dompuverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi berpantun. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berpantun. Foto: Pixabay

Info Dompu - Dalam beberapa hari ini warganet Kabupaten Dompu dan Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang tergila-gila dengan kapatu atau pantun khas dua daerah itu. Di beberapa platform media sosial terutama Facebook, warganet beramai-ramai mengunggah aneka bunyi pantun atau berbalas pantun di berandanya.

Meski ada sebagian yang menggunakan pilihan kata yang sedikit vulgar, tapi secara umum warganet menyambut gembira berpantun yang menyebar cepat ini.

Dilihat dari jenisnya, pantun-pantun ini sebagian besarnya berisi pantun jenaka dan muda-mudi. Hebatnya, demam pantun ini justru berasal dari kalangan muda. Ada dugaan, demam pantun tersebut berawal dari pemutaran film budaya daerah “La Hila” yang salah bagiannya berisi pantun.

Pemerhati sejarah dan budaya Dompu Nurhaedah (54) menyambut gembira gejala tersebut. Menurutnya, gejala tersebut pasti ada pemicunya. “Jika benar pemicunya adalah film ‘La Hila’ maka demam pantun ini pertanda anak-anak muda kita masih mencintai budayanya. Ini sekaligus dapat dijadikan momentum kebangkitan budaya kita,” ujarnya optimis melalui telepon seluler, Jum’at (21/2).

Pemerhati Sejarah dan Budaya, Nurhaidah bersama siswa-siswa dari salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Dompu. Foto: Doc Nurhaidah

Demam pantun tersebut, kata dia, dapat digunakan untuk membangkitkan kembali budaya lama yang nyaris terlupakan. Nurhaedah, yang masih memiliki silsilah dengan kesultanan Dompu menyatakan, pantun atau patu adalah salah satu tradisi lama yang tak mungkin hilang karena lahir dari masyarakat, termasuk di kalangan anak-anak muda.

Awalnya, kata dia, pantun merupakan tradisi lisan asli yang berasal dari Melayu dan kemudian menyebar ke seluruh Indonenesia bahkan nusantara. Oleh para penyiar Islam pantun juga digunakan sebagai sarana dakwah sehingga lahir salah satu jenis pantun yakni ‘patu dali’ atau pantun dalil yang berisi dalil-dalil keagamaan.

“Terdapat beberapa jenis patu ini seperti patu cambe (pantun berbalas, red), patu kadihi ade (pantun jenaka, red) atau patu kaboha atau sindiran,” terangnya. Pantun sindiran, katanya, kerap digunakan jelang musim politik seperti Pilkada sekarang, selain digunakan oleh penyanyi biola tradisional yang biasanya ditujukan untuk menyindir penonton.

Uniknya, kata Nurhaedah, sebagai sebuah karya sastra pantun sindiran tidak membuat orang yang disindir tersinggung dan marah. Itu pula alasannya mengapa disukai anak-anak milenial, di samping mengandung unsur menghibur.

Ilustrasi. Foto: Pixabay

Patu kaboha itu, karena disampaikan dengan bahasa sastra yang indah, kita bisa mengeritik orang tanpa menyakiti. Orang bisa merasa tersindir atau dikritik tanpa tersinggung tapi fun,” ungkapnya.

Ditambahkan, pantun merupakan tradisi lisan sebagai alat mengungkapkan pikiran sebelum masyarakat mengenal tulisan seperti puisi, mpama (dongeng, red), tradisi penyambutan makka, atau lagu-lagu rakyat.

“Itu tidak ditulis tetapi diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang,” ujarnya menjelaskan bahwa radisi lisan menggunakan media bahasa untuk menyampaikannya, meski kini tradisi lisan tersebut sudah mulai menggunakan media tulisan.

Melalui pantun, kata dia lagi, orang mengungkapkan isi hatinya, perasaan, rasa bahagia, kesal, asmara, kagum pada alam dan lain-lain. Menurutnya, tidak semua orang sebenarnya bisa berpantun karena bersifat spontan dan memerlukan kemampuan memilih diksi-diksi yang tepat dan halus. Sehingga, katanya, jika ada orang yang berpantun dengan kata-kata jorok atau tak senonoh sebenarnya bertentangan dengan nilai sastra.

Salah satu buku kapatu yang ditulis oleh orang Dompu

“Itu saya pikir menyimpang dari sastra. Meski kita mengungkapkan kejengkelan kepada seseorang, tapi kita ungkapkan secara halus. Menyindir tapi halus dan tetap ada unsur kesopanan,” katanya mengingatkan.

Kegemaran kalangan muda terhadap pantun belakangan ini dinilainya sebagai bukti kecintaan mereka terhadap budaya sendiri. Menurutnya pemerintah juga tak perlu repot mengarahkan karena mereka sudah mulai melakukannya sendiri. Tinggal sekarang para pemangku kepentingan mendukungnya seperti menggelar lomba-lomba dongeng atau cerita daerah.

“Ini positif bagi anak muda karena mereka masih cinta budayanya. Film-film maupun lagu-lagu daerah itu dibuat oleh anak-anak muda, kan?” ujarnya.

Dia berharap pemerintah daerah responsif mendukung kreativitas anak-anak muda seperti produksi film. "Jika ada anak muda bikin film seharusnya didorong kapan mereka bikin film lagi misalnya. Anak-anak muda harus dikenalkan dengan local genius (kearifan lokal, red) dengan cara mereka sendiri seperti media film, youtubu dan lainnya,” harapnya.

Sebagai pemerhati budaya Nurhaidah mengaku gembira dengan tumbuhnya kecintaan anak-anak muda terhadap budaya daerah saat ini. "Setidaknya, hasil teriak-teriak kami selama ini mulai berbuah,” selorohnya.

-

Ilyas Yasin