Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Guru Ngaji di Dompu, NTB Liburkan Santri Akibat Corona

Info Dompuverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak-anak sedang mengaji. Foto: Dok Makbul
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak sedang mengaji. Foto: Dok Makbul

Info Dompu - Makbul Syarifuddin (27) terpaksa menahan rindu bertemu dan bercengkerama dengan 30-an santrinya. Guru ngaji di Dusun Pelita Desa Tembalae kecamatan Pajo Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), ini harus menghentikan kegiatan mengajar membaca Quran di rumahnya sejak Virus Corona (CORONA-19) melanda wilayah Dompu, Maret lalu.

“Banyak orangtua santri yang takut menyuruh anaknya datang ngaji lagi karena takut tertular Corona,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya, Jumat (22/5).

Padahal ia dan istrinya, Nurdina, mengaku sangat kangen dengan suasana keseruan khas anak-anak yang datang belajar mengaji. “Gimana ya, kangen juga ketemu anak-anak. Biasanya di rumah ini kan ramai, sekarang jadi sepi,” ujar Nurdina menimpali.

Makbul membagi 2 shift untuk para santrinya. Biasanya antara Magrib dan Isya biasanya untuk santri pemula yang baru belajar mengaji dengan menggunakan buku Iqro’. Untuk menamatkan buku Iqro jilid 1 sampai 6, katanya, ditargetkan tuntas selama 3 bulan. Sedangkan usai Isya hingga pukul 21.30 WITA diperuntukkan bagi santri yang belajar tilawah (lagu) yang sudah berusia remaja.

Makbul, guru ngaji di Dimpu, NTB. Foto: Ilyas Yasin/Info Dompu

Kegiatan pembelajarannya dilakukan tiap hari dan secara berjenjang yakni setelah santri dinyatakan tamat Iqro’ dan fasih mengaji baru diajarkan tilawah. Selain dari Tembalae sebagian santrinya juga berasal dari desa tetangga seperti Desa Ranggo dan Desa Woko.

Makbul yang bekerja sebagai penjaga toko ini mengaku, kecintaannya mengajar mengaji sudah dilakukannya sejak ia masih remaja. Bahkan dilakukan secara berpindah-pindah. Sebelum menikah ia mengajar mengaji di rumah orangtuanya di dusun yang sama.

Setelah menikah ia sempat memindahkan kegiatan mengajinya di mesjid desa tapi diprotes pengurus karena santrinya dianggap mengganggu kenyamanan di mesjid, hingga akhirnya ia menumpang tinggal di rumah pamannya sekarang. Bersama sang istri yang juga hobi kaligrafi, Makbul secara bergantian membimbing para santrinya.

Untuk melatih kemampuan mengaji, ayah satu anak ini punya cara unik yakni sering mengajak mereka mengaji di acara doa selamatan arwah yang biasa dilakukan warga setempat.

Santri sedang belajar mengaji. Foto: Dok Makbul

“Harapannya, dengan mengajak mereka mengaji di hajatan seperti itu kemampuan ngaji maupun rasa percaya diri mereka terasah,” ujarnya. Beberapa di antara santrinya bahkan berinisiatif datang sendiri jika ada hajatan doa arwah warga.

Meski begitu, diakuinya bahwa tidak semua orang dewasa bersedia memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membaca Qur’an di tempat hajatan seperti itu. Padahal menurutnya hal tersebut sangat membantu dalam membangun rasa percaya diri santrinya sebelum berlaga di Musabaqah Tilawah Quran (MTQ) di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten. Makbul menjelaskan, beberapa santrinya berhasil menggaet juara di ajang MTQ tingkat desa maupun kecamatan.

Untuk memenangkan perlombaan, menurutnya, selain ditentukan oleh akurasi penyebutan huruf (makhraj) juga rasa percaya diri.

“Sebab meski secara teknis seorang qori’ (pembaca Quran, red) bacaannya bagus tapi jika kurang percaya diri saat tampil juga hasilnya tidak akan maksimal,” terangnya.

Anak-anak sedang belajar mengaji di Dompu, NTB. Foto: Dok Makbul

Sedangkan untuk menjaga kualitas vokal dianjurkan untuk menghindari menu yang berminyak dan pekerjaan berat karena berdampak terhadap kualitas suara. Suara cenderung parau dan sulit dinaikkan oktafnya.

Meski sudah bertahun-tahun mengajar mengaji, tapi Makbul enggan menarik bayaran atas jasanya, kecuali untuk bayar listrik sekali sebulan sebesar Rp 5 ribu per anak. Itu terpaksa dilakukan karena biaya tagihan listrik yang cukup memberatkan. Istrinya, Nurdina, ikut mengeluhkan besarnya pembayaran listrik di rumah paman yang ditempatinya sekarang. Dalam sebulan bisa 3 kali mengisi pulsa.

“Kalau mengisi pulsa Rp 50 ribu habis hanya 10 hari. Mungkin karena meterannya non-subsidi,” ujar Nurdina masygul.

Menjawab pertanyaan, Makbul menjelaskan alasan dirinya enggan menarik iuran. “Kalau narik iuran biasanya anak-anak (yang tak bayar, red) minder,” terangnya sehingga ia memutuskan tidak menarik iuran sama sekali.

Ilustrasi Quran. Foto: Pixabay

Dirinya juga hanya sekali menerima insentif dari pemerintah desa setempat. “Setelah itu tak ada lagi," ujarnya tanpa menyebutkan besarnya insentif yang pernah diterimanya.

Meski begitu, Makbul bertekad untuk tetap menularkan ilmunya kepada para santrinya kendati tidak dibayar. Baginya yang terpenting adalah para santrinya mencintai dan selalu membaca Quran. Dia juga berharap mereka akan menjadi penerus dirinya di masa mendatang.

Makbul sendiri pernah meraih juara harapan 2 saat MTQ Provinsi NTB pada 2015 di Kota Bima, sedangkan di tingkat kabupaten secara bergantian selalu meraih juara 1, 2 atau 3 tiap tahun mengikuti ajang lomba. Keluarga Makbul dapat dikatakan merupakan keturunan pembaca Quran. Selain sang ayah, Syarifuddin, dua orang pamannya juga adalah qori langganan dan sering tampil dalam ajang MTQ di level kabupaten.

Untuk meningkatkan kemampuannya, Makbul juga bergabung dengan komunitas qori-qoriah Kabupaten Dompu dan Bima. Di samping untuk saling belajar dan bersilaturrahim, komunitas tersebut sering berpartisipasi dalam beberapa kegiatan haflah (perayaan) Quran. Termasuk turut mendampingi kedatangan beberapa qori nasional dan internasional yang menghadiri acara haflah Quran di Dompu maupun Bima.

-

Ilyas Yasin