Kisah Nelayan Penjaga Keindahan Laut Kilo di Dompu, NTB

Info Dompu - Musim kemarau telah tiba, masyarakat pesisir Pantai Kilo di Dusun Pantai Biru, Desa Mbuju, Kabupaten Dompu, di Nusa Tenggara Barat (NTB) akan merasa senang. Menurut mereka, terik matahari akan lebih lama dari pada saat musim hujan. Artinya akan lebih banyak pekerjaan yang mulai bisa dilakukan selain menangkap ikan di laut.
Kaharudin (45) seorang nelayan berbadan kecil saat ditemui Info Dompu (15/5), tampak asyik memeriksa bak atau kolam buatannya. Kolam itu terbuat dari terpal berukuran 4x10 meter, berisi udang fename dan ikan bandeng piaranya di pinggir Pantai Kilo, tepi Bukit Matompo.
Pria yang diketahui hanya tamatan SMP ini merupakan salah satu "Penjaga dan Pelindung Laut" binaan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Dompu.
Dari tangan dinginnya pesisir pantai Kilo yang dulunya tandus dan tak terawat perlahan hijau. Kini tempat itu bahkan memantik banyak orang untuk berkunjung dan menikmati pasir putih sambil menghirup udara sejuk.
Bukit Matompo, salah satu lokasi yang dirawat Kaharudin adalah bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut yang menjurus ke lautan lepas dan ber-view Gunung Tambora, serta gugusan semenanjung Sanggar. Dari bukit keindahan landscape pesisir utara Kabupaten Dompu bisa dinikmati. Di sekitar Bukit Matompo, Kaharudin melakukan pembibitan, penanaman mangrove, budidaya tukik (penyu), budidaya udang fename dan ikan bandeng.
“Inilah aktivitas kami dan terus memotivasi diri untuk berbuat yang terbaik," ucapnya sembari meperlihatkan dokumentasi pengawasan, kegiatan sosialisasi dan budidaya mangrove, tukik dan udang serta pengawasan dan pelindung laut dan pesisir.
Keho juga menjadi anggota Poswasmas yang memiliki peran penting dalam ikut mengawasi perairan. Program tersebut merupakan sebuah model pengawasan perairan berbasis partisipasi masyarakat. Anggota kelompok tersebut direkrut dari masyarakat setempat yang bekerja secara sukarela membantu pemerintah melakukan pengawasan perairan.
Mereka tak digaji secara rutin, hanya berupa insentif yang diterima setiap tahun. Jumlahnya pun tak besar karena harus dibagi rata kepada seluruh anggota kelompok. Seringkali, malah mereka harus menggunakan biaya pribadi untuk ongkos transportasi dan komunikasi.
Meski tak digaji, Keho dan kawan-kawannya tetap terlihat bersemangat dengan pekerjaannya. Menurutnya, keinginannya untuk terlibat di Poswasmas didasari oleh rasa tanggungjawabnya untuk menjaga wilayah sekitar pulau tempat kelahirannya tersebut. Selain itu, ia merasa bangga bisa bergaul dengan pejabat-pejabat dari Kabupaten dan Provinsi.
"Semua itu memotivasi kami dan membuat kami bangga sebagai kelompok dan nelayan sendiri," ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan patroli selain dilakukan oleh kelompoknya saja juga dilaksanakan gabungan dengan Personil PolAirud Polres Dompu dan instansi terkait.
"Tujuannya untuk mencegah kerusakan biota laut, seperti terumbu karang dan keanekaragaman hayati di dasar laut. Biasanya sering terjadi pengemboman dan aksi-aksi ilegal oleh para nelayan," jelas Ketua Pokmaswas "Mbuju Jaya" ini.
Menurutnya, patroli tersebut dilakukan tidak terjadwal tapi dilakukan secara acak sesuai intesitas aktivitas nelayan. "Kalau musim kemarau beginikan, nelayan banyak yang ngelaut. Nah di situlah pentingnya kami berpatroli. Selain menangkap para nelayan nakal. Kami juga melakukan langkah pencegahan dengan cara sosialisasi dan pendekatan personal saja. Toh kami juga dulu kan pernah melakukannya dan tau apa yang menjadi keinginan mereka," bebernya.
Bapak empat orang anak ini juga menuturkan, aktivitas dirinya bersama anggota kelompoknya yakni pembibitan mangrove hingga penanaman. "Aktivitas ini kami lakukan sejak 2014 lalu dan sudah 30 ribu lebih pohon bakau kami budidaya dan tanam di sepanjang garis pantai desa ini. Selain itu di Kwangko, Kempo bahkan sampai di Bima," tandasnya.
Tentunya hal ini akan terus dilakukan, lanjutnya, lantaran dirinya merasa belum puas dengan jumlah sekian tersebut. ”Saya ingin terus menanam dan melakukan pembibitan khusus pohon ini. Karena dari situlah kehidupan laut dan masyarakat nelayan bertarung hidup. Kalau bakaunya banyak kan, pasti banyak ikan, kepiting, udang dan biota laut lain yang berkembang, sehingga warga pun tidak kesusahan dan jauh-juah lagi ngelautnya," selorohnya.
Hal lain yang dilakukan suami ibu Mantasia, wanita asal Desa Pulau Sabalana, Kecamatan Liukang Tangaya, Sulawesi Selatan ini adalah sering berlayar sendiri hingga sering kali menemukan telur penyu atau tukik. Bahkan, karena rasa kepeduliannya dirinya mengeluarkan biaya pribadinya untuk membeli dan mencari hewan dilindungi tersebut.
"Saya sering membeli telur dan penyu yang dijual sembarang di peraitan Teluk Saleh dan perairan dekat Gunung Tambora," jelasnya.
Usai membelinya, dirinya membuat penangkaran dan budidaya tukik-tukit tersebut di sekitat Bukit Matompo. Hal ini kemudian yang memantik dinas terkait pada tahun 2018 lalu melakukan pelepasan puluhan anak tukik di sekitar perairan ini.
"Alhamdulillah, penyu-penyu itu tetap bertahan hidup dan sesekali muncul di permukaan pantai-pantai sini," akunnya.
Keho yang begitu fokus dan peduli dengan kehidulan laut dan pesisir, kini bersama anak dan istrinya harus rela hidup juah dari keramaian dan kepadatan penduduk. Mereka memilih hidup di atas bangunan sederhana berbahan kayu berukuran 3x5 meter di pesisir pantai.
"Semua pralatan rumah tangga dan aktivitas kami sekeluarga semuanya di sini," kata Mantasia, sang istri, sembari memperlihatkan tempat tinggalnya yang berada di tengah lima kolam berisikan udang dan ikan bandeng.
Meski jauh dari keramaian, dirinya bersama anak-anak saya bahagia. Lantaran di sini tidak bising dan kehidupan kami sangat berkecukupan. "Kami benar-benar bergantung dengan laut. Sampai lauk pauknya pun serba isi laut. Kalau nggak ada ikan, kan ada kepiting, udang, cumi, kerang, tiram. jadinya ala-ala seafood gitu," candanya.
Dari hasil budidaya udang dan bandeng itulah, lanjut wanita umur 37 tahun ini, bisa mengkuliahkan dan menyekolahkan anak-anaknya. "Saat ini anak saya yang pertama tengah kuliah di salah satu kampus di Mataram dan tiga adik-adiknya semuanya sekolah. Ini berkat jerih payah dan keringat nelayan bapaknya," tuturnya.
Sementara itu, kaharudin menambahkan aktivitas budidaya udang fename dan ikan bandeng ini dilakukannya baru pertengahan 2019 lalu.
"Alhamdulillah sudah tiga kali panen dan hasilnya pun memuaskan," ucapnya.
Disinggung soal bantuuan dari pemerintah, dirinya tak memunafikannya hal tersebut. Tetapi kebanyakan bantaun moril semata.
"2014 lalu saya dapat boat fiber, terus polybag Dna sisanya hanya moril saja. Tidak pernah ada uang atau pun bibit. Dari magrove, udang sampai ikan dan semua peralatan semuanya dana pribadi dan kelompok," akunya.
Untuk itu, ia sangat berharap pemerintah lebih peka dan peduli terhadap keberadaan kelompok dan masyarakat nelayan yang ada di Desa Mbuju dan umumnya se-Kabupaten Dompu.
"Kalau saya hitung batuan yang ada atau di-droping ke nelayan sekitar sini hanya beberapa kali saja dan jarang ada pembinaan khusus. Atas nama binaan itu kebanyakan hanya simbol semata dan ujung-ujung minta dokumentasi dan laporan setiap tahunnya," tegasnya.
-
Ardyan
