Komoditas Jagung Diduga Sebabkan Kekeringan Di Dompu, NTB

Info Dompu - Keberhasilan tanaman jagung sebagai komoditas unggulan Kabupaten Dompu tidak hanya berisikan kisah sukses tapi juga menyisakan cerita pilu. Di antaranya soal kekeringan parah saat kemarau atau banjir kala musim hujan. Warga juga mengeluhkan suhu udara yang panas meski masih pagi. Beberapa keluhan tersebut muncul dalam acara peluncuran dan perbincangan tentang Kawasan Agropolitan di Gedung Darma Wanita, Kamis (26/9).
Perbincangan ini menghadirkan tiga pembicara yakni Bupati Dompu yang diwakili Asisten Bupati sekaligus pelaksana tugas Kepala Bappeda&Litbang Kabupaten Dompu Rasyidin Suryadi, Dian Anggreini, teknikal asisten RIF Dompu, serta Direktur Nusa Tenggara Center Kadri. Bertindak sebagai moderator Jufri, Sekretaris Bappeda&Litbang Kabupaten Dompu.
Anas, aktivis LSM, mengeluhkan munculnya kekeringan di wilayah Kecamatan Kilo sehingga berdampak terhadap berkurangnya hasil pertanian. “Di Kilo yang semula petani bisa tanam padi tiga kali setahun, kini tinggal sekali,” keluhnya.
Warga asal Kilo ini menuding penggundulan hutan jadi penyebab kekeringan dan berkurangnya cadangan mata air tersebut. Dia mendesak bupati Dompu segera mengambil tindakan di sisa masa jabatannya satu setengah tahun ini. dengan membatasi perluasan areal peladangan jagung, terutama di titik kemiringan ekstrem. Meski jagung menjanjikan secara ekonomi, katanya, tapi kelestarian hutan juga jangan sampai dikorbankan.
Sedangkan Haerul, staf Desa Lanci Kecamatan Manggelewa, menyatakan pengundulan hutan telah mengakibatkan kekeringan, iklim yang buruk dan gagal panen. Jika keadaan ini tidak ditangani maka akan menjadi ancaman. Dia mendesak perlunya pembangunan yang terintegrasi. Abdurrahman, warga Desa Kampasi Meci Kecamatan Manggelewa, yang juga hadir sebagai peserta, menunjukkan bukti lain. Dulu di desanya, katanya, kedalaman sumur paling 10 meter tapi kini hampir 100 meter sehingga untuk menengok ke bawah saja sudah takut.
Rasyidin menyatakan, pemerintah pada dasarnya tidak bermaksud merusak hutan dengan program jagung. Bahkan Pemda memiliki Dinas Lingkungan Hidup sebagai bentuk keberpihakan kepada isu kehutanan.
”Menanam jagung tidak dilarang tapi jangan tebang pohon tegakan,” ujarnya. Dia meenjelaskan bahwa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan juga sangat penting. Sedangkan Kadri mengingatkan pentingnya pembangunan yang berwawasan lingkungan dan terintegrasi. Menurut dia sebenarnya banyak kearifan lokal di masyarakat yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan baik berupa ungkapan maupun praktik budaya yang positif.
Menurutnya, upaya pelestarian lingkungan dapat dilakukan dengan pendekatan kultural yakni mendorong kesadaran tersebut secara terintegrasi yang melibatkan pemerintah, keluarga dan pemangku kepentingan lainnya maupun melalui pendekatan kekuasaan dengan penegakkan hukum. Pendekatan kultural dapat dilakukan dengan pembuatan awig-awig desa atau mewajibkan setiap calon pengantin yang akan menikah untuk menanam sejumlah pohon tertentu sebagai persyaratan menikah oleh Kantor Urusan Agama (KUA).
Menurut Haerul, di desa melarang pembabatan hutan untuk lahan jagung cukup dilematis karena kemampuan pemerintah desa juga sangat lemah. Meski dibuatkan aturan baik awig-awig maupun Peraturan Desa (Perdes) tapi hasilnya tidak efektif. Bahkan aparat keamanan pun seolah tidak berdaya. Dia berseloroh, jika ada warga yang melaporkan penggundulan hutan kepada polisi atau Babinsa mereka juga pasrah dan tidak direspon.
“Sudah, gak apa-apa, yang penting aman,” ujarnya menirukan ucapan aparat yang disambut tertawa peserta lainnya.
Peluncuran program agropolitan dilakukan oleh Asisten Bupati Dompu Rasyidin Suryadi, yang diikuti puluhan para pemangku kepentingan baik dari unsur dinas, camat, kepala desa, BPD, Bumdes, pendamping dan media.
-
Ilyas Yasin
