Kumparan Logo
Konten Media Partner

NTB Darurat Narkoba, Pelajar Paling Dominan Jadi Pengguna

Info Dompuverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pelajar. Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelajar. Pixabay

Info Dompu - Daya tarik keindahan dan pesona wisata Nusa Tenggara Barat (NTB) ternyata tidak hanya menarik perhatian pelancong atau wisatawan semata. Namun, juga menjadi ladang praktek peredaran narkoba.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) NTB, Muhammad Rum mengatakan berdasarkan data tahun 2019, ada 59 wilayah Kecamatan/Desa/Kelurahan dari 10 Kabupaten/Kota menjadi daerah peredaran gelap dan penyalahguna narkotika.

"Sebanyak tujuh daerah masuk kategori bahaya, 23 daerah kategori waspada dan 29 daerah kategori siaga narkoba, sehingga totalnya 59," ungkapnya, saat dihubungi via telepon seluler, Senin (17/2).

Daerah-daerah yang di maksud dalam kategori bahaya narkoba, seperti Kecamatan Mataram di Kota Mataram. Kawasan wisata Senggigi di Kabupaten Lombok Barat. Juga kawasan wisata Tiga Gili (Trawangan, Air, Meno) di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kecamatan Praya Timur di Kabupaten Lombok Tengah. Kelurahan Pancor dan Kelayu, Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur. Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, dan Kecamatan Mpunda, Kota Bima.

"Daerah-daerah bahaya ini umumnya banyak di pusat kota dan keramaian dan daerah wisata. Titik inilah akan menjadi perhatian pemerintah daerah saat ini," bebernya.

Ilustrasi pengguna natkoba. Foto: Pixabay

Menurut Rum, setiap tahun jumlah kasus narkoba di NTB terus saja meningkat. Data di tahun 2018 terdapat 483 kasus dan tahun 2019, jumlah pengguna narkoba di NTB mencapai 557 kasus. Itu artinya total kenaikannya di 2019 kemarin bertambah mencapai 74 kasus. Kemudian sebanyak 63 ribu orang berpotensi narkoba.

"Itu artinya jumlah kasus narkoba terus meningkat di NTB," jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu pintu masuk Narkotika di NTB pada umumnya melalui jalur transpotasi laut. “Terutama di Selat Lombok dan Selat Alas,” paparnya.

Berdasarkan data tahun 2019, barang haram ini terutama jenis shabu dan ganja kini kebanyakan dikonsumsi dari kalangan pelajar. “Ada 557 yang dinyatakan positif narkoba. Terdiri dari 525 laki-laki dan 32 perempuan. Jumlah ini didominasi usia kaum pelajar,” tegasnya.

“Hal itulah yang jadi rujukan dasar kita di NTB darurat narkoba," imbuhnya.

Dari klasifikasi umur, dari usia 15-20 tahun tercatat 231 orang. Kemudian, usia 21-25 ada 133 orang dan usia 26-30 ada lebih dari 80 orang.

Ilustrasi narkoba. Pixabay

“Kalau dari sisi jenjang sekolah, untuk kalangan SMA/SMK tercatat 248 orang. SMP 193 orang dan SD 55 orang. Kemudian yang putus sekolah ada 14 orang. Selanjutnya jenjang D3 hingga S2 ada 47 orang,” terang mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB itu.

Dengan kondisi ini khususnya dalam dunia pendidikan, pria yang akrab disapa Haji Rum itu mengaku prihatin. Sebagai upaya nyata secara bersama-sama dalam hal ini, pihaknya bersama BNNP, Polda termasuk Dikbud NTB terus berkoordinasi dalam berkolaborasi.

“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak. Dan sebenarnya, terutama peran Dikbud sangat penting disini, yaitu harus lebih menggalakkan sosialisasi ke pihak sekolah dalam memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang bahaya narkoba,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, saat ini pihak Provinsi tengah berupaya menekan angka peredaran narkoba. "Upaya yang kita lakukan salah satunya dengan membentuk desa bersinar (bersih narkoba). Sasarannya, 59 desa yang masuk dalam daerah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan ikutannya tersebut."katanya.

Bentuknya, sambung ia, kita akan melakukan perekrutan kader sebagai penyuluh atau sebagai motivator dan konselor agar masyarakat terhindar dari bahaya narkoba.

Ilustrasi. Pixabay

"Kader ini umumnya direkrut di daerah yang masuk penyalahgunaan narkoba dan mereka merupakan mantan pengguna narkoba. Karena dengan ada mereka, yang belum terkena narkoba tidak terjerumus," cetusnya.

Ia mengatakan program ini sebenarnya sudah berjalan selama dua tahun. "Tahun lalu ada 10 desa dan tahun ini ada 10 desa sasaran lagi dan ini dilakukan secara bertahap sehingga seluruh daerah yang terkena narkoba itu," tandasnya.

Sementara Kepala BNN NTB, Gde Sugianyar Dwi Putra mengatakan untuk memberantas ini pihaknya akan terus melakukan koordinasi dan memperkuat dalam melakukan pengawasan dari sejumlah titik rawan.

"Kita akui tidak cukup bekerja sendiri, butuh koordinasi baik dari pihak TNI-POLRI dan bantuan informasi dari masyarakat dan teman-teman media," terangnya (21/2).

Terkait pintu masuk narkoba, katanya, sebenarnya banyak pola menjadi modus operandinya rata-rata dari jasa ekspedisi. "Dari rahun 2019 banyak melalui lewat jalur Ekspedisi," katanya.

-

Ardyan