Penguatan Kapasitas, Kunci Hadapi Bencana Alam di Indonesia

Info Dompu - Sebagai negara yang ditakdirkan berada dalam ring of fire (lingkaran api) maka Indonesia memiliki potensi bencana alam yang lebih besar dari negara lain, sehingga mustahil untuk dihindari. Hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kemampuan untuk menghadapi bencana sehingga risiko akibat bencana dapat diperkecil.
Ridwan Miftakhul Rochman, Project Coordinator Islamic Relief Worldwide wilayah Kabupaten Dompu, Bima, dan Kota Bima menjelaskan, Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana alam cukup banyak.
“Terdapat banyak jenis bencana di Indonesia seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, gunung berapi, puting beliung, banjir, kekeringan, termasuk hama tanaman,” ujarnya saat bincang dengan media ini di sela-sela pelatihan dan seminar manajemen informasi untuk mengurangi risiko bencana yang diadakan di kampus STIE Yapis Dompu, Kamis (21/11).
Dalam konteks risiko bencana, kata dia, terdapat tiga hal penting yakni potensi ancaman, kerentanan dan kapasitas. Ketiganya membentuk semacam lingkaran yang saling berkaitan. Jika ketiganya tidak seimbang maka risikonya makin besar. Dijelaskan, jika ancamannya besar dan kerentanannya tinggi maka risikonya besar. Jika kapasitas tinggi tapi kerentanan rendah maka itu makin kuat.
“Sebaliknya jika kapasitas tinggi, namun ancaman dan kerentanan juga tinggi maka itu malah bagus karena lebih dinamis,” terangnya.
Khusus di Dompu dan Bima, menurut Ridwan, potensi ancaman bencana tersebut sangat nyata tiap tahun seperti banjir saat musim hujan dan kekeringan ketika kemarau. Di sisi lain kerentanan juga cukup tinggi karena ada warga yang tinggal di bantaran sungai.
Begitu pula dengan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu menyusui, ibu hamil, difabel, perempuan bahkan pemuda sehingga yang harus dilakukan adalah meningkatkan kapasitas kelompok yang terdampak bencana untuk mengurangi risiko.
Masyarakat harus disiapkan untuk menghadapi bencana tersebut. Salah satu cara mengantisipasi bencana adalah dengan mengingatkan warga agar tidak tinggal di area berbahaya seperti di bantaran sungai untuk mengurangi risiko bencana.
“Dalam konteks bencana kita tidak mungkin mengubah konteksnya seperti menahan hujan, mengurangi wanita hamil, lansia dan lainnya karena kerentanan itu sudah ada. Yang dapat kita lakukan adalah peningkatan kapasitas seperti mengubah perilaku, termasuk membuat bronjong, sehingga tingkat risiko dapat dikurangi,” paparnya.
Dia mengingatkan, tidak semua bencana alam dapat disebut bencana jika tidak menimbulkan korban baik materil maupun nonmaterial. Karena bencana alam mustahil dihindari, kata dia, maka yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kesiapan masyarakat untuk menghadapi bencana tersebut.
Ridwan juga mengutip hasil penelitian yang menunjukkan, para penyintas yang terselamatkan biasanya bukan ditolong orang lain melainkan karena memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Oleh karena itu, katanya, sangat penting untuk menanamkan kesadaran agar tanggap terhadap bencana dan kemampuan menolong diri sendiri.
Pelatihan dan seminar tersebut, kata Ridwan, merupakan bagian kampanye sosial untuk tanggap terhadap bencana. Kegiatan tersebut diadakan di kampus STIE Yapis, Kamis (21/11) yang diikuti 120 peserta dari para pemuda dan mahasiswa serta perwakilan dari 3 desa dampingan yakni Desa Tekasire, Kelurahan Simpasai Kecamatan Woja dan Kelurahan Bali Kecamatan Dompu. Kegiatan tersebut dilakukan atas kerjasama STIE Yapis Dompu, Lensa NTB, LP2DPM Dompu dengan dukungan Islamic Relief Worldwide.
