Tenun Dompu Terancam Punah, Warga Ini Tawarkan Kursus Menenun Gratis

Info Dompu - Beragam cara dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) maupun kelompok masyarakat Dompu untuk menumbuhkan kecintaan kepada warisan budaya leluhur, khususnya tenunan tradisional. Tenun tradisional dipakai dalam acara tahunan seperti Festival Pesona Tambora, dan dalam beragam lomba peragaan busana. Tetapi ada hal unik yang justru dilakukan oleh warga Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.
Suamiati (44), ia merupakan penanggung jawab IKM Mart Dompu yang konsisten ikut mengkampanyekan keberadaan tenun tradisional Dompu. Ibu dua anak ini, melalui pamflet yang beredar di media sosial, menawarkan kursus menenun secara gratis kepada warga yang berminat untuk belajar menenun. IKM Mart (Industri Kecil Mikro) adalah gerai milik Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Dompu yang ia kelola untuk menampung aneka produk lokal yang ada di Kabupaten Dompu.
Ketika ditemui di gerai yang terletak di lingkungan Saka Desa Mangge Asi Kecamatan Dompu, Kamis (28/11), perajin ini menjelaskan, usaha tersebut merupakan bagian dari upaya pihaknya untuk menumbuhkan kecintaan warga terhadap tenunan tradisional khususnya tenun gedogan.
Kata dia, tenunan gedogan merupakan jenis tenun khas Dompu yang terancam punah jika tidak dilestarikan.
Meski kelas kursus ini terbuka untuk umum, termasuk anak-anak, tapi ia berharap banyak kalangan muda yang tertarik mempelajarinya.
“Iya, kami berharap anak-anak muda mau belajar menenun,” harapnya. Saat ditemui media ini Kamis pagi, Sumiati sedang menenun kain gedogan berwarna merah.
Untuk mendukung kampanye tersebut, pihaknya menyediakan tiga peralatan tenun di gerainya. “Waktunya kapan saja boleh, tergantung keluangan waktu peserta karena saya selalu stay di sini,” ujarnya menjelaskan waktu kursusnya.
Untuk sementara ini, katanya, dirinya yang bertindak sebagai pelatih kursus tenun. Dia mengklaim terobosan tersebut mendapat sambutan positif dari warganet meski belum ada yang datang mendaftar.
“Mereka senang dan berminat untuk mengikuti kursus saya,” ujarnya.
Sumiati menjelaskan, pihaknya prihatin dengan rendahnya minat masyarakat untuk meneruskan kerajinan tradisional tenun, padahal cukup menjanjikan secara ekonomi. Dia menjelaskan, satu potong kain tenunan gedogan sepanjang 4 meter dan lebar 63 sentimeter harganya berkisar Rp 450 ribu hingga di atas 1 juta. Satu potong kain tersebut diselesaikan selama 6 hari.
Diakuinya, dibandingkan kain tenunan biasa, jenis gedogan memang relatif mahal karena harga bahan benangnya mahal dan pengerjaannya relatif sulit. Tapi menurutnya, gedogan memang tergolong berkualitas terbaik. Dibandingkan kain tenun biasa, gedogan tergolong ringan dan tipis tapi cukup kuat.
“Sebab kain ini benangnya memang semi sutra sehingga lebih kuat,” klaim Sumiati.
Ditegaskan, gedogan merupakan jenis tenunan khas Dompu yang biasa disebut “muna pa’a” dan coraknya mirip dengan anyaman bambu.
Menurut Sumiati, terdapat beberapa jenis motif kain ini yakni motif rebung, gasing, bintang dan bunga mawar. Ditambahkan, selera pembeli umumnya lebih menyukai warna-warna cerah, terlepas dari apapun motifnya. Kendati harganya tergolong mahal tapi, kata dia, tenunan gedogan tetap diburu pembeli baik lokal maupun luar daerah. Sementara jenis tenunan selain gedogan harganya berkisar Rp 250 ribu perpotong, tetapi tanpa motif kecuali hanya berbentuk kotak.
Sumiati mengaku prihatin karena untuk memenuhi kebutuhan kain di Dompu terpaksa dipasok dari Kabupaten Bima.
“Padahal menurut saya seharusnya kebutuhan kain ini dapat diproduksi di Dompu,” ujarnya.
Sumiati juga menyatakan kagum terhadap semangat dan ketelatenan warga di Kabupaten Bima dibandingkan di Dompu.
Jika alasannya sibuk, kata dia, maka pekerjaan menenun sebenarnya dapat dilakukan kala waktu luang. Dia menduga, rendahnya minat warga di Dompu untuk belajar menenun bukan semata karena kesibukan melainkan karena ketekunan. Menurutnya, menenun sebenarnya tidak tergolong rumit, hanya diperlukan ketekunan saja.
“Saya sih berharap dengan kursus ini anak-anak muda punya hobi untuk menenun,” harapnya.
Sumiati juga mengaku kini mulai kewalahan menerima pesanan, apalagi Pemda Dompu akan mulai mewajibkan tenun sebagai pakaian kerja tahun depan khususnya bagi para staf di lingkungan Pemda, terutama ASN. Kursus tersebut, katanya, juga untuk mengantisipasi lonjakan pesanan tersebut.
Sumiati sendiri berasal dari Raba Dompu, Kota Bima yang hijrah dan sudah lama berdomisili di Mangge Asi, sebagai salah satu pusat tenunan selain Desa Ranggo Kecamatan Pajo, Dompu. Keterampilan menenun, kata Sumiati, diwariskan secara turun-temurun dari keluarganya sejak dirinya masih kecil.
-
Ilyas Yasin
