Kumparan Logo
Konten Media Partner

Wadu Jao, Kawasan Wisata di Dompu, NTB, Kini Ditanami Jagung

Info Dompuverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kawasan wisata Pantai Wadu Jao. Foto: Info Dompu
zoom-in-whitePerbesar
Kawasan wisata Pantai Wadu Jao. Foto: Info Dompu

Info Dompu - Pemerintah Kabupaten Dompu di Nusa Tenggara Barat (NTB) tampaknya kian serius membenahi pembangunan sektor pariwisata baik dengan penyiapan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) maupun mendorong pengaktifan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di sejumlah desa.

Pada pertengahan Oktober 2019 misalnya, Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian dan Pengembangan (Bappeda dan Litbang) Kabupaten Dompu serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, telah dilakukan konsultasi publik terakhir terkait rancangan Perda kepariwisataan tersebut, di aula Bappeda dan Litbang, Kamis (17/10).

Dengan adanya Perda Kepariwisataan akan lebih banyak tempat wisata baru yang dapat dibenahi, termasuk untuk mendapatkan dukungan anggaran.

Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Dompu 2019-2025 tersebut dihadiri para pemangku kepentingan seperti dinas terkait, camat, sekolah dan akademisi, LSM dan organisasi masyarakat, pers, dan pelaku usaha.

Pantai Wadu Jao dalam bahasa lokal yang berarti Pantai dengan batu berwarna hijau. Foto: Info Dompu

Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Dompu, Moh Rasyidin Suryadi, menjelaskan pariwisata diharapkan menjadi industri ke depan apalagi di tengah komoditas jagung yang menjadi andalan Dompu sekarang yang cenderung stagnan.

“Pariwisata jadi sangat strategis karena dia bersifat melestarikan alam dan budaya. Tidak ada yang dirusak dibandingkan sektor tambang atau jagung misalnya,” tukasnya saat membuka acara konsultasi publik tersebut.

Pantai Wadu Jao, di Desa Jambu Kecamatan Pajo merupakan salah satu tempat wisata favorit Kabupaten Dompu. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Dompu, Khaerul Insyan, mengatakan meski masih minim sarana termasuk kondisi jalan masuk yang memprihatinkan, tempat tersebut ramai dikunjungi wisatawan baik pagi atau sore hari.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Ketua Pokdarwis Wadu Jao Mursalin ketika ditemui di rumahnya, Jumat (3/1). “Bahkan kini pengunjung selalu ramai, tidak hanya saat akhir pekan atau musim libur dan hari raya tapi tiap hari,” akunya bangga.

Kawasan Pantai Wadu Jao. Foto: Yayan

Selain dari wilayah Dompu wisatawan juga berasal dari Kabupatenn Bima. Meski begitu, dia mengaku kecewa karena hampir 5 hektare areal hutan di kawasan ini dijadikan ladang jagung oleh warga setempat. Akibatnya pemandangan dan suasana di kawasan wisata ini jadi terganggu karena pohon-pohon ditebang warga.

“Warga bahkan menebang pohon hingga ke bibir pantai. Padahal ini hutan tutupan daerah, loh,” ujarnya heran. Dia menyayangkan tindakan warga setempat yang menggunduli hutan di kawasan wisata ini.

Pembukaan ladang di areal tersebut, kata dia, juga mengakibatkan menyempitnya areal wisata Wadu Jao. Jika volume kunjungan wisatawan cukup besar terpaksa pengunjung menempati beberapa gubuk petani di ladang yang ada di sekitar itu untuk beristirahat dan duduk.

“Sebab baruga yang ada tidak mencukupi,” ujarnya prihatin sembari menjelaskan baru lima baruga yang dibangun Disbudpar Kabupaten Dompu, di samping beberapa tempat sampah.

Ketua Pokdarwis Wadu Jao. Foto: Ilyas Yasin/Info Dompu

Mursalin mendesak instansi terkait, terutama Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup untuk menertibkan lahan-lahan tersebut dengan cara melarang warga berladang di sekitar kawasan wisata.

Mursalin menuturkan, pihaknya telah melakukan beberapa upaya untuk menata kawasan Wadu Jao secara swadaya seperti membuat papan nama, membangun musala atau melakukan pembersihan pantai bersama Dinas Disbudpar.

“Kami juga akan menanam pohon agar kawasan Wadu Jao teduh dan rindang,” ujarnya.

Selama ini, katanya, adanya aktivitas peladangan di sekitar membuat suasana pantai bertambah terik. Selain itu ke depan, katanya, pihaknya akan menjual dan menyediakan beberapa kebutuhan pengunjung seperti kepiting, udang, ayam, atau bebek di sekitar kawasan tersebut.

Ladang jagung di Dompu. Foto: Info Dompu

“Harapannya, pengunjung tidak perlu repot membawa dari rumah tapi tinggal membelinya di lokasi,” ujarnya lagi. Saat ini, secara pribadi Mursalin sendiri sudah membangun dan merintis kandang bebek di dekat kawasan tersebut.

Mursalin juga mengaku, sebagai pengelola pihaknya tidak berani menarik pungutan kepada setiap pengunjung karena ada larangan dari Bupati Dompu.

“Katanya sih harus ditender dulu sehingga kami tidak berani menarik pengutan seperti sebelumnya,” ujarnya.

Meski pendapatan tersebut sangat penting untuk biaya operasional pengelolaan pantai tersebut, tapi larangan membuatnya menggratiskan pengunjung masuk.

Selain penggundulan hutan di kawasan wisata, Mursalin juga menyayangkan aktivitas pengambilan pasir di kawasan Wadu Jao oleh warga karena merusak keindahan kawasan tersebut.

Gapura masuk lokasi wisata Wadu Jao. Foto: Ilyas Yasin/Info Dompu

“Kami berharap pemerintah desa mengeluarkan larangan, mungkin dalam bentuk Perdes (Peraturan Desa),” pintanya. Dijelaskan, pengambilan pasir di pinggir pantai dilakukan oleh warga setempat untuk keperluan bangunan rumah.

Ditambahkan Mursalin, Pokdarwis yang dipimpinnya juga diberi kewenangan mengelola objek wisata Felo Janga yang tak terlalu jauh dari Wadu Jao.

“Tapi untuk saat ini kami fokus dulu di Wadu Jao. Apalagi Pokdarwis ini baru dua tahun berdiri,” ujarnya.

Ke depan, kata dia, pihaknya akan merintis wisata memancing di sekitar dua kawasan wisata tersebut selain membuat souvenir seperti kaos dan souvenir lainnya.

-

Ilyas Yasin