Balai Bahasa Kalteng Teliti Bahasa Kotawaringin

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT- Dalam rangka mendukung dan melestarikan bahasa daerah yang hampir punah di Kotawaringin Barat (Kobar), Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat bersama Balai Bahasa Provinsi Kalteng menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat. Turut hadir sekaligus mewakili pemda Kobar yakni Assisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Edy Rahman dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kobar Rosihan Pribadi.
DKT telah merangkul narasumber tokoh adat dan tokoh masyarakat Kobar serta akademisi dari Universitas Palangka Raya. DKT dilaksanakan di Hotel Arsela, Pangkalan Bun, Kamis (17/9) lalu.
Dalam hal ini Pemerintah Daerah akan melakukan langkah-langkah konkrit dalam melakukan pembinaan terhadap bahasa daerah yang dimiliki oleh masing-masing desa yang tersebar di seluruh Kobar, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Agar nantinya para anak cucu generasi masa depan akan selalu ingat dan mahir berbasa daerah yang Kobar miliki dan juga bahasa diharapkan tidak punah seiring berjalannya waktu. Ada beberapa bahasa daerah dengan dialek beraneka ragam yang ada di Kobar, diantaranya bahasa Mendawai, Melayu, Kotawaringin dan Tomun.
Dalam sambutannya, Assisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Edy Rahman menjelaskan singkat asal usul Kobar yang islami dan berkarakter pada bahasa daerahnya yang berbeda dengan daerah lain. Ada beberapa orang yang menyebut bahasa Kotawaringin, Taringin, Kutaringin. Hal ini merupakan hanya dialek dalam penyebutannya saja. Tetapi bahasanya tetap sama, yaitu bahasa Kotawaringin.
"Bahasa daerah merupakan ciri khas pembeda bahwa kita berasal dari Kobar, dimana dari semua kabupaten kota di Kalteng, hanya Kobar yang berbahasa daerah dipengaruhi oleh latar belakang Kesultanan Islam, yaitu Kesultanan Kotawaringin," jelasEdy Rahman.
Adapun narasumber dari tokoh adat dan budaya, Gusti Mas Fajri membawa dokumen kesultanan sebagai pendukung penentuan nama bahasa daerah Kobar. Kemudian narasumber dari akademisi Universitas Palangka Raya, Prof Dr. Petrus Poerwadi, M.S menampilkan data penelitian bahasa dan dialek daerah yang digunakan masyarakat Kobar tahun 2018, termasuk Seloka.
Gusti Abdul Jabar dari tokoh masyarakat Kotawaringin Lama juga mengemukakan bahwa bahasa Kotawaringin sering banyak digunakan oleh masyarakat Kotawaringin Hilir, Kotawaringin Hulu, Kampung Baru, Kampung Raja, Rungun dan Lalang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kobar Rosihan Pribadi menyampaikan, sangat mengapresiasi dengan kegiatan DKT tersebut demi terpeliharanya ragam Kobar dalam bahasa. Ia berharap nantinya pendidikan di Kobar mempunyai muatan lokal bahasa daerah Kobar sendiri dalam kurikulum pembelajarannya.
"Ada beberapa kesepakatan dalam kegiatan DKT tersebut salah satunya adalah bahwa Kobar akan membuat kamus bahasa Kotawaringin, yang mana akan dikawal oleh Balai Bahasa Provinsi Kalteng dan para tokoh adat serta tokoh masyarakat," tandasnya.
Ketua Balai Bahasa Provinsi Kalteng, Valentina Lovina Tanate, sangat berterima kasih kepada Pemkab Kobar, khususnya kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang telah mendukung acara DKT tersebut sukses.
"Salah satu tanggungjawab Pemerintah Daerah adalah memikirkan bahasa daerahnya agar tetap terus lestari, dan dapat diwariskan turun temurun ke generasi berikutnya. Hal ini terkait dengan UU No 24 Tahun 2009," tutup Valentina Lovina Tanate.
