Ini Sejarah Monumen Lapangan Tugu di Kotawaringin Barat
·waktu baca 2 menit

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Berada di pojok kiri bagian depan alun-alun lapangan Tugu Istana Kuning, Kesultanan Kutaringin, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah berdiri kokoh sebuah monumen bersejarah.
Diawal kemerdekaan, monumen ini kerap digunakan oleh Masyarakat Kobar untuk merayakan HUT RI.
Penggiat Sejarah Kobar, Agustadi menerangkan latar belakang didirikannya monumen ini sebagai pengingat atas sumpah setia Kesultanan Kutaringin terhadap NKRI, sekaligus bukti perjuangan rakyat melawan penjajah.
"Didirikan pada era kepemimpinan Sultan Kutaringin ke-XIV Pangeran Kesuma Anum Alamsyah, peresmian monumen itu dilakukan bertepatan dengan peringatan HUT RI ke - 8 pada tanggal 17 Agustus 1953," ujar Agustadi, Senin (17/8/2021).
Menurutnya, pendirian monumen berkaitan peristiwa sejarah penting bergabungnya Kesultanan Kutaringin ke dalam NKRI di masa kemerdekaan.
Dikutip dari buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia karya Dr AH Nasution tertulis pemerintahan Kotawaringin diserahkan dengan resmi oleh pemerintah Jepang kepada Republik.
KNI dibentuk sebagai kepala pemerintah diangkat Sultan Kotawaringin, sedang wakilnya Pangeran Arianingrat. Merah Putih berkibar. Pegawai seluruhnya mengucapkan sumpah setia kepada Republik. Sultan sendiri mengucapkan sumpah setianya di muka rakyat di alun-alun dekat istana.
"Atas dasar itulah monumen itu dibangun," sambungnya.
Ia menjelaskan, salah satu alasan kuat yang melatarbelakangi bergabungnya Kesultanan Kutaringin ke dalam NKRI karena kejamnya era penjajahan Jepang di Kalimantan pada tahun 1944.
"Di kalimantan terjadi upaya pembunuhan terhadap raja-raja, tokoh agama, tokoh masyarakat, paling banyak korban di Kalimantan Barat yaitu Peristiwa Mandor. Masa Jepang Sultan Kotawaringin sambil mengungsi dan bergerilya terhadap Jepang," jelasnya.
Sementara itu, lanjut Agustadi, bentuk fisik monumen ini memiliki filosofi berkaitan dengan hari kemerdekaan Indonesia.
"Bentuk, jumlah anak tangga, semua ada artinya yang melambangkan 17 Agustus 1945. Kalo dulu dibagian paling atas ada lambang bintang ," imbuhnya.
Ia berharap keberadaan monumen ini mendapat perhatian dari pemerintah daerah sebagai pengingat jasa-jasa para pendahulu bangsa.
