Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Pilu Remaja Yatim Piatu di Kalteng Berjuang Besarkan Bayi Tanpa Suami

InfoPBUNverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bayi milik Putri saat dirawat oleh bibinya.
zoom-in-whitePerbesar
Bayi milik Putri saat dirawat oleh bibinya.

Tatapan Putri (17) atau yang biasa disapa Put ini terlihat hampa. Sesekali tangan kanannya mengelus bayinya berusia 3 hari yang baring di sisi kirinya. Sambil berbaring di sebuah kasur lusuh, ia tidak berbicara sedikit pun. Bahkan takut ketika ada yang datang lalu bersalaman. Beberapa orang di sekilingnya mengatakan dia trauma atas masa lalunya yang manyakitkan.

"Dia kalau orang baru tidak mau bersalaman mas. Mungkin masih trauma," ujar salah satu fasilitator Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT), Mimi Sujatmi saat bersama awak media di barak yang didiami Put, Kamis (14/5).

Wanita asal Banjirmasin ini tidak memiliki ayah dan ibunya. Kini ia tinggal bersama kakak keduanya bernama Ida (27). Kendati tinggal bersama sang kaka, Put tidak sepenuhnya bergantung kepada mereka. Kesehariannya beberapa tahun silam ialah sebagai peminta-peminta di jalanan dan juga di pasar. Itu semua dilakoninya hanya untuk menyambung hidup di Kota Cantik.

"Dulunya itu kalau engga salah dia biasa di jalan atau di pasar. Harapkan ada yang memberi sehingga dia bisa makan," terang Mimi.

Berada di lingkungan yang tak teratur dan melakoni kehidupan yang keras, serta serba tidak pasti. Tahun 2019 silam Put dikabarkan hamil. Tetapi dia mengakui perut sakit. Pria yang menghamilinya pun masih misteri atau mungkin sudah dibui. Ya itu urusan polisi.

"Kejadiannya itu mungkin pas dia berada di lingkungan yang kurang bagus saat sebagai peminta-minta dan hidup di jalanan. Mungkin itu mas," ujarnya.

Kehamilan wanita yang tinggal di kontrakan serba sederhana itu baru diketahui bulan ke-4 oleh fasilitator Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu(SLRT) Kelurahan Pahandut memasuki bulan ke-4. Tiga bulan sebelumnya dia berdiam diri tanpa ada yang mengetahui.

Fasilitator SLRT Pahandut saat membawa salah satu donatur yang menyumbangkan pakaian baby untuk bayi.

"Ya kami baru tahu ketika sudah 4 bulan hamil. Sekitar September 2019. Saat itu kami langsung menangani dan mendampingi secara intensif," ujar Mimi.

Saat awal mendampingi, dua fasilitator SLRT kelurahan Pahandut, yakni Ibnu dan Mimi langsung melakukan pengurusan administrasi.

"Awalnya tidak ada sama sekali data kependudukan. Akhirnya kami mengurus semua mulai dari Kartu Keluarga, KTP, dan lain sebagainya," ujarnya.

Sambil mengurus administrasi kependudukan, keduanya langsung membawa Put untuk diperiksa di Puskesmas. Saat diperiksa wanita ini hanya mengakui jika dirinya sakit perut, bukan hamil. Bahkan dia memberontak jika tubuhnya disentuh.

"Saat di rumah sakit kami pernah kewalahan karena Putri sempat kabur. Mungkin karena masih baru dan dia belum terbiasa dengan kami," kisah Mimi.

"Karena sering bertemu akhirnya dia terbiasa dan mempercayakan sepenuhnya kepada saya dan mas Ibnu.Tetapi kalau orang baru pasti dia tidak mau," tambahnya.

Persiapan proses persalinan Put sudah dimatangkan sejak awal. Berbagai urusan administrasi sudah tidak menjadi kendala. Akan tetapi saat tiba waktunya putri malah melahirkan seorang diri di kontrakan yang dihuni bersama kakaknya. Bayinya perempuan.

"Waktu melahirkan dia sendiri mas. Tidak ada tanda-tanda. Selasa (12/5) subuh kami semua pada nyenyak. Saya terkejut ketika dengar suara bayi menangis," ujar Adel(27) kakaknya.

"Saat saya lihat bayinya sudah keluar dan posisinya telungkup. Sementara Put hanya terdiam," tambahnya.

Saat melakukan pertolongan pertama, Ibu 5 anak ini pun kebingungan. Ia menghubungi temannya yang sekolah di bidang perawat untuk ikut membantu adiknya.

"Ya bersyukur karena bisa ditolong. Bayi dan ibunya sehat," terang Adel sedih.

Usai mendengar informasi Put melahirkan, dua Fasilitator SLRT langsung mendatangi kediamannya. Mereka terus berupaya memberikan kasih sayang serta mencari berbagai donatur agar bisa menopang Put dan bayinya. Perjuangan mereka belum berakhir. Semoga donasi terus mengalir dari hati yang peduli terhadap Put dan bayinya.

"Beberapa hari ini sudah ada yang membantu mas. Ada yang berupa pakaian baby dan juga sembako. Akan tetapi masih butuh bantuan terkait keperluan sang bayi dan ibunya," ujarnya.

Ibnu dan Mimi terus bersyukur selama pendampingan dan penanganan terhadap Put terdapat banyak dukungan, baik dari pemerintah Kota Palangka Raya maupun Kelurahan Pahandut serta pihak lainnya.

"Alhamdulilah dukungan dari banyak pihak baik Dinsos dan Pak Lurah akhirnya semuanya berjalan dengan baik. Semoga kedepannya ada banyak orang susah yang bisa dibantu," ujar Mimi.

Sementara itu Lurah Pahandut, Evendy, secara terpisah mengatakan akan terus memberikan dukungan kepada para fasilitator SLRT diwilayahnya sebagai upaya menangani masalah sosial dan lainnya.

"Tentunya saya selaku Lurah sangat mengapresiasi kepada para fasilitator SLRT yang sejak awal dibentuk hingga saat ini terus memberikan kontribusi positif dalam penanganan masalah sosial yang terjadi di Kelurahan Pahandut," ujarnya.

Ia menambahkan, pelayanan sosial terpadu di tingkat paling bawah sangatlah dibutuhkan agar semua masalah sosial masyarakat bisa terdata dan diperhatikan.

Pantauan awak media, tampak bayi milik Put diberi susu formula. Air susu ibunya belum bisa keluar meski sudah memasuki hari keempat usai persalinan. Put hanya bisa terbaring lemas lalu beberapa kali menyembunyikan wajahnya. Dia terus terdiam dan entah apa yang dipikirkan serta diharapkannya.

---------------------------

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.