Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Pokdarwis Sekonyer, Optimis Kembangkan Wisata Desa ke Taraf Internasional

InfoPBUNverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah wisatawan asing berkunjung ke Desa Wisata Sekonyer beberapa waktu lalu. Desa ini terbilang masih asri dan banyak dijumpai pepohonan khas hutan hujan tropis sehingga membuat betah para pengunjung. Foto: IST/InfoPBUN
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah wisatawan asing berkunjung ke Desa Wisata Sekonyer beberapa waktu lalu. Desa ini terbilang masih asri dan banyak dijumpai pepohonan khas hutan hujan tropis sehingga membuat betah para pengunjung. Foto: IST/InfoPBUN

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Mentari belum sepenuhnya muncul di timur jauh. Dengan menggunakan sepeda motor matic pabrikan tahun 2008, aku pun bergegas menuju Pelabuhan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang berada di Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat pada Minggu (2/10).

Jarak antara rumahku dengan pelabuhan terbilang cukup jauh yakni sekitar 16 kilometer. Sehingga mau tidak mau aku harus bangun lebih awal supaya tidak ketinggalan speed boat yang nantinya akan membawaku menuju Desa Sekonyer.

Di pelabuhan ternyata aku tidak sendiri, melainkan ditemani rekan sesama jurnalis yang kebetulan memenuhi undangan peliputan 50 besar Apresiasi Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 bersama Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Di sana, aku telah ditunggu Ria Risnandar, Humas Kemenpar RI. Lalu kami pun diarahkan menaiki speed boat yang dikemudikan oleh motoris lokal. Saya tahu bahwa dia motoris orang lokal karena memang warga Kumai memiliki ciri khas logat tersendiri saat berbicara.

Muara Sungai Sekonyer. Nampak terdapat patung orang utan raksasa ketika hendak menuju desa sekaligus memasuki habitat orang utan terbesar di dunia ini. Foto: Lukman Hakim/InfoPBUN

5 menit setelah bertolak dari Pelabuhan TNTP, kami pun tiba di muara Sungai Sekonyer. Menurut warga lokal, dulunya sungai ini bernama Sungai Buaya. Dari namanya kita sudah pasti tahu kalau memang sungai ini memang banyak dihuni hewan bergigi jarang.

Bila beruntung, sang predator sungai ini juga kerap memamerkan keindahan lekuk tubuhnya yang bergerigi kepada wisatawan ketika berkunjung ke TNTP. Sampai sekarang sungai sekonyer menjadi satu-satunya akses menuju desa maupun taman nasional.

Ihwal nama sungai, nama Sekonyer berasal dari kata Sei-Konyer. Sei berarti sungai dan Konyer merupakan nama kapal patroli Belanda, Lonen Konyer. Kapal ini disebutkan karam di sekitar muara sungai akibat termbakan meriam para pejuang pada tahun 1948. Dari sinilah asal usul perubahan nama sungai ini yang nantinya juga dijadikan nama desa.

Gerbang menuju Desa Sekonyer. Foto: IST/InfoPBUN

Di muara Sungai Sekonyer, kami sempat mengabadikan momen dengan berfoto bersama dari atas speed boat. Sebab di muara sungai terdapat patung orang utan raksasa yang jarang kami ditemui di pusat kota Pangkalan Bun. Ya semoga saja pemda setempat peka.

Perjalanan menuju Desa Sekonyer cukup menyenangkan lantaran jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang bising. Suasana asri dan sejuk seolah menjadi pemandangan biasa ketika menampakkan kaki di desa berpenduduk 490 jiwa ini. Sepi memang, tapi ini lah yang membuat wisata Desa Sekonyer begitu ekslusif dan cocok sebagai lokasi healing.

Maka tak heran jika Desa Sekonyer dinobatkan Kemenpar RI menjadi juara 2 ADWI 2022 kategori daya tarik pengunjung pada Minggu (30/10) di Jakarta. Sebuah penghargaan yang pantas diberikan kepada desa pinggiran ini karena keunikannya yang tidak dimiliki desa wisata lain di tanah air.

Direktur Tata Kelola Wisata Kemenpar RI Indra Ni Tua didampingi Pj Bupati Kobar Anang Dirjo saat penobatan 50 besar ADWI 2022 di Desa Sekonyer. Foto: Lukman Hakim/InfoPBUN

Ada beberapa keunikan yang dimiliki Desa Sekonyer di antaranya memiliki hutan dan sungai yang masih baik, bersih dan terjaga keasliannya. Kemudian Sekonyer juga menjadi tempat terbaik untuk melakukan pengamatan satwa, terutama orang utan, bekantan dan si gigi jarang yang saya sebutkan tadi.

Mesranya hubungan pemerintah desa dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) berdampak baik terhadap sektor wisata desa. Sedikitnya terdapat sejumlah produk wisata yang bisa dinikmati pengunjung ke Sekonyer, di antaranya home stay yang berada persis di hutan tropis, jalan-jalan dengan kelotok wisata menyusuri sungai Sekonyer dan trekking.

Selain itu, disediakan pula pijat tradisional, orang utan tour dan yang paling menarik tentu program adopsi pohon. Pengunjung bisa menanam pohon atas nama dirinya maupun orang lain sebagai bentuk kontribusi terhadap planet yang kita huni saat ini.

Wisawatan asing tertarik menyaksikan acara Babarasih Banua yang diselenggarakan masyarakat setempat. Foto: IST/InfoPBUN

Bukan cuma itu saja, pengunjung bisa menikmati kuliner khas lokal yang disediakan warga desa setempat, melakukan pengamatan budaya khas melayu pesisir atau sekedar menghabiskan waktu libur akhir pekan.

Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sekonyer Ikra menceritakan pengelolaan wisata di desanya melibatkan banyak pihak. Tidak hanya warga dan pemerintah desa, tetapi juga para pelaku usaha wisata.

Lewat para pelaku wisata ini lah mereka mempromosikan Desa Sekonyer ke dunia luar. Baru-baru ini mereka juga mulai gencar melakukan promosi lewat media digital terutama lewat platform Facebook dan Instagram.

Mereka berharap Desa Wisata Sekonyer semakin dikenal oleh para pelancong dari seluruh negara, sehingga pihaknya benar-benar maksimal dalam memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan.

Wisatawan asing melakukan wisata susur sungai menggunakan perahu kelotok milik warga. Mereka melakukan pengamatan satwa yang ada di sekitar TNTP. Foto: IST/InfoPBUN

Sebab menurutnya, pelayanan prima merupakan promosi yang paling efektif. Dengan begitu secara tidak langsung membuat dan mengajak wisawatan yang lain ikut tertarik mampir ke desa.

Untuk itu, pihaknya tengah mengupakan agar fasilitas penunjang wisata desa mendapat dukungan dari berbagai pihak.

"Kami sudah melakukan beberapa kali pertemuan dengan kepala Dinas Pariwisata Kalteng mengenai pengembangan desa wisata sekonyer dan ini sudah jadi acuan kami untuk lebih yakin kalau desa Sekonyer ke depannya menjadi wisata lebih baik lagi," kata Ikra.

Diutarakan Ikra kepada penulis, Pokdarwis Sekonyer bersama Pemprov Kalteng telah bersepakat melakukan pembenahan infrastruktur penunjang wisata desa guna mendorong sektor usaha masyarakat di bidang pariwisata.

"Adapun rencana yang sudah disepakati pembuatan pasar dan stan produk makanan khas dan juga pembuatan jembatan tempat camping dari dermaga hulu sampai dermaga hilir kurang kebih 1 kilometer," tutur pria humble ini.

Pokdarwis Sekonyer mengajak wisatawan asing melakukan aksi menanam pohon melalui program adopsi pohon. Foto: IST/InfoPBUN

Rencananya berbagai pengembangan sektor wisata ini akan di mulai pada tahun 2023 mendatang menggunakan anggaran yang berasal dari APBD provinsi.

"Dan juga renovasi rumah-rumah masyarakat. Penataan jalan dan tanaman-tanaman hias. Dan masih banyak rencana lainnya dan ini memang diminta oleh Dispar Provinsi Kalteng untuk pengembangan di tahun 2023. Mudah-mudahan semua berjalan dengan baik," harap Ikra.

Dengan didukungnya sektor wisata desa ini dia mengharapkan agar wisata desa dapat memicu wirausahawan baru di tingkat desa yang fokus mengelola wisata, sekaligus aktif memelihara alam.

"Harapan saya dengan berdirinya desa sekonyer, semua masyarakat ikut mengembangkan perekonomian. Tidak ada lagi yang namanya ilegal loging dan lain-lain. Tapi yang ada, hanya membangun dan melestarikan hutan satwa dan wisata," beber dia.