Kisah Pria Kotawaringin Barat Tinggalkan Gaji Rp 10 Juta Demi Sampah

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Samsul Arifin, warga Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), sempat disangka kurang waras alias gila oleh rekan kerjanya, karena menumpuk sampah di garasi rumahnya.
Semua berawal dari rasa keprihatinan dengan keadaan lingkungannya saat itu yang memandang sampah tidak memiliki nilai. Ia justru mempunyai feeling sampah bisa membawa berkah.
Mulailah setiap Sabtu, mantan karyawan perusahaan kelapa sawit itu mengajak karyawan lainnya untuk gotong royong untuk melakukan program Sabtu Sehat dan Bersih.
Tiap Sabtu, ia bersama karyawan lainnya membawa karung dan alat pemungut sampah dan mengambil sampah yang ada di jalan komplek mess karyawan.
"Saat itu belum tahu sampah dapat menghasilkan, saya kumpulkan gelas plastik, botol mineral dan galon minyal 5 liter itu sampai menumpuk, ada kiranya sampai 2 truk besar," ujar Samsul, saat dijumpai di kediamannya, Rabu (20/2).
Namun seiring berjalannya waktu, sampah yang dikumpulkannya semakin menggunung. Bahkan ada yang menyeletuk dan mengatakan bahwa dirinya gila, mengumpulkan sampah yang menurut orang tersebut tidak ada manfaatnya.
Justru singgungan tersebut membuatnya semakin semangat, ia mencari refrensi dengan bertemu tukang gerobak yang membawa sampah.
"Saya ajak ngobrol, orang pakai gerobak itu tiga tahun mengumpulkan sampah, dan hanya dari sampah dia bisa hidup, dari situ saya mulai mencari refrensi yang lain," ujarnya.
Belum puas, ia pun mencari referensi yang lebih besar sampai ke Bekasi untuk belajar di pengolahan recycle sampah yang skala besar pada tahun 2014, saat ia cuti dari perusahaan.
Setelah kembali ke Kotawaringin Barat, Samsul bertekad dan menyampaikan kepada keluarganya bahwa hendak resign dari pekerjaan yang menurutnya saat itu adalah zona nyaman.
"Keluarga tentu tidak setuju, ibu dan istri saya menolak keras, karena saat itu gaji saya Rp 10 juta per bulan, dan saya mau berhenti hanya untuk mengurusi sampah, tentu mereka menolak," ungkapnya.
Mendapatkan penolakan dari orang yang dicintainya tidak mematahkan semangatnya untuk mencintai lingkungan.
Sambil bekerja, mencari sampah pun menjadi perkerjaan sampingannya. Setelah 8 bulan, ia baru bisa membuktikan kepada keluarganya bahwa sampah dapat menghasilkan uang.
Dua truk gelas plastik, botol plastik dan galon bekas, pun menjadi modal awalnya untuk mendapat restu dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kobar mengenai administrasi perizinan tempat pengelolaan sampah.
Kini, lewat sampah yang dikelolanya, Samsul membangun Bank Sampah Induk Berkah Jaya Plastindo dengan 7 orang karyawan. Mereka mengelola sampah yang dapat didaur ulang dan bisa dimanfaatkan.
Contohnya gelas plastik mineral dengan harga beli Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Saat ini ada 30 jenis sampah yang dapat didaur ulang kembali, hasilnya bisa memproduksi batako dari sampah plastik, tas belanja dari karung, tali rafia dan lain sebagainya.
"Saat ini penghasilan fluktuatif tergantung bahan, omzet mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 60 juta per bulan," tuturnya.
Menurutnya, hasil dari sampah bisa membawa manfaat dan berkah serta harapan bagi orang banyak.
Saat ini juga ia berjuang membantu Pemerintah Daerah Kobar untuk melakukan sosialosasi pada sumber sampah langsung di rumah tangga.
"Saya memiliki target zero rubbish (nol sampah), caranya mulai dari sumbernya, sumber sampah dari rumah warga, jadi kami berjuang mensosialisasikan agar sebelum dibuang untuk dipilah terlebih dahulu, nantinya jika itu berjalan semua menerapkan maka tidak ada lagi sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain itu kami juga konsen membuat program bersama perbankkan, menukar sampah menjadi uang elektronik," kata dia. (Joko Hardyono)
