Kumparan Logo
Konten Media Partner

Membakar Sampah Membakar Uang

InfoPBUNverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Asap hasil pembakaran sampah mengganggu kesehatan pengguna jalan (Foto: Joko Hardyono)
zoom-in-whitePerbesar
Asap hasil pembakaran sampah mengganggu kesehatan pengguna jalan (Foto: Joko Hardyono)

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Pola tradisi lama yakni membakar sampah masih terbawa hingga di era milenial ini. Pasalnya, sampah bisa menjadi sumber penyakit juga bisa menjadi sumber pendapatan ekonomi keluarga, asalkan bisa dikelola dengan baik.

Membakar sampah sama saja dengan membakar uang, sampah yang bisa dimanfaatkan tentunya akan menghasilkan uang, misalnya seperti botol bekas, plastik bekas dan lain sebagainya yang bisa dimanfaatkan kembali dengan nilai ekonomi yang tinggi.

Hampir di semua daerah masih menggunakan pola membakar sampah untuk menghilangkan sampah selamanya dengan cara yang murah. Seperti yang dilakukan warga Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Provinsi Kalimantan Tengah, Wiwik (52) hampir setiap hari membakar sampah daun kering berserakan di halama rumahnya dan juga membakar sampah lainnya.

Alasannya, membakar sampah sudah menjadi kebiasaan, walaupun ikut iuran penjemputan sampah. "Sudah menjadi kebiasaan, hampir setiap pagi atau sore hari pasti ada warga yang masih membakar sampah," ujar Wiwik, Rabu (20/2).

Walau begitu ia sadar, membakar sampah juga menyumbang polusi udara, asap dari hasil pembakaran sampah juga membuat sesak warga yang melintas. "Ya mau bagaimana lagi, sudah menjadi kebiasan yang sulit dihilangkan," tandasnya.

Padahal, dampak membakar sampah juga tidak hanya buruk bagi kesehatan, ada dampak yang lebih besar lainnya. Seperti yang sering terjadi membakar sampah di lahan kebun, api merembet ke ilalang yang kering dan membakar habis hektaran lahan, bahkan lebih bahanyanya lagi bisa merembet sampai ke rumah warga.

Sampah bisa menjadi sumber penghasilan jika dikelola dengan baik. Berawal dari sampah rumah tangga yang sudah dipilah sampah yang menghasilkan uang disisihkan, kemudian dijual kepada pengepul, walau hanya sedikit meringankan ekonomi keluarga, akan tetapi manfaatnya menjadi banyak, selain sehat tidak ada pembakaran sampah juga berdampak pada berkurangnya jumlah volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir. (Joko Hardyono)