Momen Haru Ibu Pengasuh Orang Utan Berpisah setelah 2 Tahun Dirawat seperti Anak
ยทwaktu baca 3 menit

MUARA TEWEH-Wanti, wanita di Desa Ruji, Kecamatan Montalat, Kabupaten Barito Utara, tampak sedih. Bahkan ia tak tahan tangis ketika harus berpisah dengan Otan, orang utan yang dipelihara dan dirawatnya seperti anak sendiri selama 2 tahun. Orang utan yang diberi nama Otan itu harus diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng untuk selanjutnya dilepasliarkan ke habitatnya.
Sebelum diserahkan ke petugas BKSDA, Wanti tampak keberatan melepaskan Otan. Ia merawat Otan sejak masih bayi yang terlepas dari induknya di hutan.
Berdasarkan data yang diperoleh awak media ini, ibu rumah tangga itu mengisahkan bahwa awal mula mendapatkan orang utan itu dari salah seorang warga desa Lawang Kamah di Kapuas. Anak orang utan itu diduga jatuh dari induknya lalu diambil warga.
"Waktu itu saya ditawari untuk pelihara. Saya sempat tidak mau. Bingung. Akan tetapi saya kasian nasibnya kalau dibiarkan," ujar Wanti sambil mengelus Otan.
Kebingungan memelihara hewan terlindungi itu terus menghantui wanita asal Desa Riju, Montalat itu. Ia bahkan takut. Mau menyerahkan ke petugas terkait, ia tak paham. Namun karena kasihan akan nasib orang utan itu yang masih bayi, Wanti akhirnya memberanikan diri memelihara.
"Waktu ditawari awalnya saya takut. Mau serahkan ke petugas juga kami bingung. Kami sendiri tidak mengerti atau tidak tahu mau menyerahkan kemana. Apa lagi dalam kondisi pandemi," ujarnya seraya mengusap air mata.
Dua tahun berjalan, orang utan dirawat seperti anak sendiri. Bahkan Wanti memberi nama orang utan itu dengan nama Otan.
Informasi tentang orang utan Otan yang dipelihara Wanti akhirnya ke telinga BKSDA Kalteng. Tanpa menunggu lama, tim BKSDA langsung meluncur dari Palangka Raya ke Montalat yang jarak tempuhnya kurang lebih 6 jam.
"Setelah dapat informasi dari warga, langsung kita ke lokasi. Makan waktu 6 jam dari Palangka Raya ke Desa Riju, Montalat, Barito Utara. Lewat jalan perusahaan," ujar Kepala BKSDA Kalteng Nur Patria Kurniawan, Kamis (13/1).
Kurniawan menjelaskan bahwa penyerahan yang dilakukan oleh warga bernama Wanti dengan sukarela. Meskipun dalam proses penyerahan bayi orang utan itu sedikit berat hati dan diwarnai isak tangis.
"Penyerahannya bayi orang utan itu dilakukan secara sukarela ya, meskipun ada sedikit berat hati dan ibu asuhnya menangis," terang Kurniawan yang juga turut ke lokasi.
"Kita berterima kasih kepada warga yang sudah berinisiatif menjaga bayi orang utan tersebut dan mau menyerahkan ke BKSDA," tambahnya.
Usai diserahkan, bayi orang utan itu langsung dibawa oleh petugas BKSDA untuk direhabilitasi oleh yayasan orang utan dan selanjutnya akan dilepaskan ke habitatnya.
