Napak Tilas Pertempuran Kumai, Ratusan Peserta Jalan Kaki 14 Kilometer
ยทwaktu baca 3 menit

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Pasca Indonesia memproklamirkan kemerdekaaannya pada 17 Agustus 1945, Belanda berencana menguasai kembali NKRI dengan membonceng tentara sekutu (NICA) lewat agresi militer.
Tak ingin kembali dijajah, satu per satu wilayah di tanah air melakukan perlawanan sehingga pertempuran tak terelakkan yang berakibat jatuhnya korban jiwa, salah satunya pertempuran Kumai yang terjadi pada 14 Januari 1946.
Kala itu, tentara NICA lewat jalur laut merangsek masuk ke pesisir selatan Kumai. Informasi ini membuat seluruh pejuang yang terdiri dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR), warga dan ulama (pasukan jenggot) seketika angkat senjata.
Abdul Aziz Syamsudin, Panglima Utar dan Kai Bagong merupakan sedikit dari nama-nama tokoh yang disebutkan terlibat langsung dalam peperangan ini. Kini nama-nama tersebut telah diabadikan menjadi nama pelabuhan dan nama jalan di Kumai.
Meski begitu, ada satu tokoh yang jarang disebut dalam buku-buku sejarah tetapi memiliki andil yang cukup besar yaitu Sultan ke-14 Pangeran Ratu Alamsyah. Dialah sosok dibalik adanya penambahan pasukan dari Pangkalan Bun ke Kumai.
Berdasarkan catatan sejarah TNI AD dan Arsip Nasional RI (ANRI), ketika itu Pangeran Ratu Alamsyah juga tercatat sebagai penasihat TKR sekaligus kepala pemerintahan daerah swapraja Kotawaringin.
Untuk mengenang peristiwa pertempuran 14 Januari 1946 dan peran Kesultanan Kutaringin, Angkatan Muda Penerus Perjuangan (AMPP) Kumai pada Jumat (13/1) menggelar napak tilas dengan cara berjalan kaki sejauh 14 kilometer dari Istana Kuning menuju Lapangan Senggora Kumai.
Kegiatan napak tilas ini rupanya berhasil menyedot animo masyarakat. Dari yang semula peserta hanya diikuti 350 orang membeludak menjadi 500 peserta yang terdiri dari anggota AMPP, kerabat Kesultanan Kutaringin, organisasi masyarakat, perguruan silat dan para pelajar.
"Kali ini kita ambil tema mengenang peranan kesultanan dalam perjuangan mulai 1945-1949. Jadi zaman itu masih zaman kesultanan. Jadi konsepnya anggota napak tilas tadi ibarat prajurit yang dilepas oleh sultan," ucap Ketua AMPP Kumai Muhammad Majri.
"Kemudian kita siapkan rest area. Jadi filosofinya ketika prajurit itu datang dari Pangkalan Bun, masyarakat kita Kumai ini senang luar biasa memberikan makanan dan lain sebagainya. Nah ketika sampai ke Kumai disambut juriat Pangeran Bendahara," sambungnya.
Usai prosesi penyambutan, para peserta napak tilas dikejutkan dengan padamnya lampu penerangan diikuti letusan kembang api yang menggambarkan suasana genting akibat pertempuran. Hasilnya, para pejuang berhasil membuat Kumai dan Kotawaringin terbebas dari cengkeraman sekutu.
"Jas merah, jangan lupakan sejarah seperti yang dikatakan bapak presiden kita Soekarno. Kita ingin perjuangan para pejuang bisa diketahui masyarakat dan yang paling penting buat generasi muda. Kami berharap peristiwa 14 Januari 1946 mulai diakui secara nasional sama seperti pertempuran Surabaya, Semarang dan Jogja," ujar Majri.
Sementara itu,Tokoh Kumai Sapriansyah mengapresiasi kegiatan napak tilas tersebut. Menurutnya, dengan adanya kegiatan itu secara tidak langsung memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya generasi muda.
"Napak tilas ini mengingatkan kembali kita kepada sejarah. Artinya saya sebagai orang Kumai mendukung penuh dan mengapresiasi kegiatan ini. Kami sampaikan juga bahwa dalam rangkaian peringatan, kami akan mengadakan turnamen sepakbola U-15 pada tanggal 19 Januari," imbuh dia.
