Ritual Menuba Adat Dayak, Minta Hujan Hingga Panen ikan

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) masih dilanda kekeringan dampak musim kemarau, Pemkab Kobar bersama masyarakat dayak di Desa Gandis, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kobar, Senin (30/9) menggelar ritual menuba adat atau meracun ikan menggunakan getah dari akar tuba untuk meminta turunnya hujan pada sang pencipta.
Tokoh adat dayak, Kecamatan Aruta, Yoner menjelaskan, bahwa ritual menuba adat bukan hanya buatan mereka, ritual tersebut merupakan ritual warisan nenek moyang mereka yang harus terus dipertahankan. Karena pada zaman dahulu pernah juga merasakan musim kemarau yang cukup panjang hingga 9 bulan.
"Berdasarkan cerita dari orang tua kami dulu, ketika dilanda kemarau panjang semua tokoh adat khususnya di Arut Utara berkumpul, merundingkan bagaimana caranya mendatangkan hujan hingga muncullah ritual tuba adat atau menuba adat ini," jelas Yoner.
Tujuan utamanya, lanjut Yoner, bukan hanya semata-mata untuk memperoleh ikan dari sungai Arut. Melainkan untuk berdoa meminta turun hujan, sedangkan panen ikan hanyalah luapan suka cita masyarakat dayak usai melakukan ritual dan turunnya hujan.
Yoner berharap kepada Pemkab Kobar ritual menuba adat ini bisa dijadikan agenda destinasi wisata tahunan yang akan difasilitasi oleh Pemkab Kobar guna menjaga kelestarian budaya leluhur.
"Kedepan, rangkaian kegiatan menuba adat ini pun akan dikemas lebih meriah sehingga mampu menarik minat wisatawan dan menjadi sektor pariwisata baru di Kotawaringin Barat khususnya di Kecamatan Arut Utara," tandasnya.
Sementara itu, Bupati Kobar Nurhidayah menyampaikan, bahwa ritual tersebut merupakan salah satu budaya leluhur suku dayak yang biasa dilakukan saat dilanda kemarau panjang dengan tujuan meminta hujan.
"Alhamdulillah sejak malam tadi (29/9), ketika kami memulai rangkaian ritual menuba adat, sampai dengan pagi ini rahmat hujan sudah diturunkan. Ini sebuah mukjizat dari Allah SWT," imbuhnya.
Pasca hujan turun, tambahnya, Pemkab Kobar bersama masyarakat suku bergembira dan bersuka cita dengan melakukan panen ikan gratis. Hal itu juga merupakan rangkaian dari ritual menuba adat. Kedepannya kegiatan ritual menuba adat ini akan dimasukkan ke dalam kelender pariwisata dan dijadikan event tahunan, yang rencananya akan di barengkan dengan momen hari jadi Kecamatan Arut Utara.
"Saya mengimbau kepada masyarakat yang ada di bantaran Sungai Arut, agar bersama-sama menjaga sungai Arut. Sebab, Arut itu juga salah satu faktor penting keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. Mari kita jaga alam, dan alam pasti menjaga kita," pungkasnya. (Joko Hardyono)
