Tata Kelola Sawit Abai terhadap Petani, Peran Pemerintah Dipertanyakan

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Peran pemerintah kembali dipertanyakan ketika petani sawit saat ini menjerit dan menderita akibat harga tandan buah segar (TBS) tak kunjung normal dan ditambah lagi harga pupuk yang masih melambung tinggi.
Anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Bambang Purwanto menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab dan hadir menyelesaikan permasalahan ini supaya petani sawit kecil bisa sejahtera.
"Prahara stop ekspor CPO berdampak terhadap harga TBS tingkat petani, padahal saat itu harga CPO cukup bagus hingga harga TBS tingkat petani Rp 3800-4000/kg petani cukup sejahtera, penerimaan negara cukup besar," ucap Bambang Purwanto.
Setelah keran ekspor CPO kembali dibuka, pemerintah juga pernah berjanji akan kembali mengawal harga TBS kembali normal. Namun, paska 4 bulan berjalan janji tersebut baru ada tanda-tanda kenaikan. Itu pun belum sepenuhnya mencapai Rp 2.000/kg.
"HPP petani itu di kisaran Rp 1,8 juta. Bagaimana petani bisa sejahtera dan merawat kebun dengan baik. Padahal sudah banyak petani dan tenaga kerja yang bertumpu hidupnya dari sawit. Hasil cek lapangan CPO telah mengalir lancar, tentunya ekspor juga sudah lancar, tetapi kenapa harga TBS di tingkat petani masih rendah?ada apa?," tanya dia.
Dia meminta pemerintah memberikan penjelasan kepada petani. Sebab apabila tidak ada penjelasan, maka dikhawatirkan polemik ini menjadi liar dan memicu banyak dugaan.
"Penjelasan ini sangat penting, apabila tidak ada penjelasan maka bisa muncul dugaan eksploitasi petani sawit untuk kepentingan tertentu. Menjelang Pemilu masyarakat dibuat susah biar suara bisa dibeli, bertentangan dengan visi mensejahterakan masyarakat khususnya petani sawit," ucap Bambang.
Pemerintah juga wajib mengawal hubungan kerja dari hulu hingga hilir antara petani sawit dengan pengusaha sawit serta eksportir agar masing-masing pihak diuntungkan.
"Karena petani di pihak yang lemah perlu peran pemerintah untuk lindungi petani, sekaligus memberikan kemudahan bagi para pengusaha sawit sehingga hulu sampai hilir terkontrol dengan baik," kata Mantan Bupati Kobar ini.
Soal Harga TBS di Tingkat Petani, Bambang Purwanto Tagih Janji Mendag Zulhas
Dalam kesempatan yang sama, Bambang Purwanto juga mempertanyakan janji Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan terkait rencana menaikkan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit petani di atas Rp 2.000 per kg pada Agustus lalu. Sebab, janji tersebut kini belum sepenuhnya terealisasi.
Bambang menyebutkan bahwa untuk harga TBS di tingkat pabrik per tanggal 6 Oktober 2022 berada di kisaran Rp 1.770 sampai Rp 2.270 per kg. Sementara untuk tingkat petani swadaya, harga TBS masih di kisaran Rp 1.800 per kg, bahkan ada yang masih lebih rendah.
"Untuk di tingkat pabrik bervariasi mulai dari Rp 1.770-Rp 2.270 per kg. Tapi untuk di tingkat petani swadaya, harga TBS yang dibeli pengepul masih di harga kisaran Rp 1.800/kg," ungkap Bambang Purwanto kepada InfoPBUN.
Meski begitu, dia mengakui memang dalam beberapa bulan terakhir TBS secara umum mulai mengalami kenaikan, tetapi hal itu dianggap belum sebanding dengan harga pupuk yang masih tinggi, terlebih dengan adanya kenaikan harga BBM.
"Harga pokok produksi (HPP) di tingkat petani itu sekitar Rp 1.800/kg. Petani belum dapat untung karena harga pupuk masih cenderung tinggi, ditambah adanya kenaikan BBM subsidi yang berimbas pada biaya produksi," jelasnya.
