Kumparan Logo
Konten Media Partner

Wadai Bingka, Kuliner Khas Ramadhan yang Banyak Diburu Masyarakat Kobar

InfoPBUNverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Biasanya kue bingka dijadikan sebagai makanan pembuka saat berbuka puasa. Foto: IST/InfoPBUN
zoom-in-whitePerbesar
Biasanya kue bingka dijadikan sebagai makanan pembuka saat berbuka puasa. Foto: IST/InfoPBUN

InfoPBUN, KOTAWARINGIN BARAT - Salah satu jenis kuliner yang banyak diburu saat ramadhan di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yakni kue (wadai) bingka. Makanan bercita rasa manis legit ini banyak diperjualbelikan ketika bulan puasa.

Tak heran kudapan jenis ini kerap ditemui di stand-stand makanan di sepanjang jalan, maupun di pasar ramadhan yang ada di kota Pangkalan Bun dan sekitarnya.

Konon kue yang populer di kalimantan ini berasal dari suku Banjar. Namun, kudapan ini juga cukup terkenal di kalangan masyarakat Melayu.

Umumnya bingka dicetak bentuk bunga berkelopak enam, tetapi ada pula bingka yang berbentuk bunga berkelopak lima atau pun empat. Bahkan tak jarang ada yang berbentuk bundar dan persegi.

Pada zaman dahulu, wadai Bingka yang original terbuat dari tepung beras, gula dan telur. Sementara untuk loyangnya terbuat dari besi. Kini sesuai dengan perkembangan zaman, kue Bingka memiliki beragam cita rasa, mulai dari kentang, labu, tapai, kelapa muda, coklat dan keju.

Harga bingka per porsi cukup bervariasi, tergantung ukuran dan bahan yang digunakan. Kisaran harga mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 35 ribu. Satu loyang bingka cukup dikonsumsi hingga 5 orang.

"Kalo buka puasa gak lengkap rasanya kalo gak ada wadai bingka. Udah jadi ciri khas setiap ramadhan," kata Warga Kobar, Rahman kepada InfoPBUN, Minggu (3/4/2022).

Selain kue bingka, sejumlah kuliner lain pun juga tak kalah banyak diminati pembeli di antara kue jorong, kue lapis, sari india, dan banyak lagi jenisnya.

"Rata-rata kue yang jarang dijumpai, pas puasa begini biasanya ada. Jadi semacam wisata kuliner, apalagi pasar ramadhannya ada banyak," imbuh dia.

Ia berharap jajanan tradisional lokal tetap dipertahankan, sehingga menjadi daya tarik bagi pengunjung, maupun wisatawan asing saat berkunjung ke Bumi Marunting Batu Aji.