Terhubung Ke Rembang

inggit Restu Srinando
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung Semarang, penulis di PT. Sembilan Sembilan Media
Konten dari Pengguna
23 Mei 2023 8:13 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari inggit Restu Srinando tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penduduk Desa Banggi menanam mangrove_foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Penduduk Desa Banggi menanam mangrove_foto pribadi
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Lukisan Agus Noor yang menggambarkan sosok Kyai yang sedang menyirami tumbuhan hingga bayangannya menyentuh seekor kekupu mengingatkan saya akan sebuah foto dari pemandangan pagi hari dengan berisikan ibu ibu dan bapak bapak serta para anak sedang menanam mangrove di taman mangrove Rembang, mereka menanam seperti selayaknya sedang menanam padi tapi di dasar air sedengkul wajah mereka tepat memandang di cerminan air, seakan sedang menanti refleksi dari air yang bukan saja dangkal namun juga sambil munuduk lagi, mungkin kerna ini pagi hari dan air belum lagi meninggi, banyak juga terlihat hasil kerjaan mereka kemarin pagi yang sudah berhasil menahan semilir air tapi beberapa ada juga yang terlihat jatuh, di Rembang mereka terbiasa melihat matahari entah saat pagi atau sekadar berkas cahayanya di tepi malam, membiarkan malam menentukan atas apa yang telah pagi kerjakan, apa yang mereka kerjakan membuatku termenung beberapa tahun setelahnya, mereka terhubung dengan apa yang mereka ketahui, refleksi dari air dangkal di lautan mangrove adalah refleksi dari diri mereka sendiri, mereka tak melebihi dari apa yang lautan lepas telah bataskan, mungkin suatu saat mereka akan meresa bosan menjalankan rutinitas pagi itu dan bertahun-tahun setelahnya saat telah meresa lelah dengan apa yang mereka tanpa senang kerjakan mereka akan ada perasaan untuk ingin memulai rutinitas itu kembali, menahan semilir air yang menggerakkan air, menunduk sementara kali, menanam sambil bercerita, dan bukan hanya sekadar bercerita tapi juga cerita yang menggembirakan orang di dekatnya, *Memang ada cerita yang tidak menyenangkan? Ada yaitu cerita yang seratus persen tentang dirinya sendiri tanpa ada unsur lain dalam cerita itu. Apakah dia mampu kembali menjalankan rutinitas itu, menenangkan hati atas apa yang terjadi malam hari dan mengulanginya lagi esok pagi. Tapi bukankah cinta akan menarik hati yang sedang jauh untuk kembali, meniupkan angin-angin sepi kepada diri hanya agar dia tersendak dalam kenangan-kenangan yang cinta telah pilihkan, rutinitas pagi itu masih ada hanya cuman karakter tersebut sedang tak diinginkan pakai dalam beberapa waktu, sang diri yang sebelumnya memakai karakter tersebut telah memilih untuk memakai karakter yang lain.* jadi manusia adalah makhluk yang paling tak satu? Mereka selalu berganti-ganti karakter?* manusia selalu satu tapi mereka memiliki berupa karakter untuk menangani kebosanannya, kamu pikir berapa perasaan yang telah manusia rasa selama mereka langkahkan kaki kaki mereka, berapa macam senang berapa juta sedih dan berapa jenis sendiri yang telah datang, dan karakter karakter itu adalah cara untuk mereka tetap mampu berjalan di bumi yang ‘bukan cuma hancur tapi juga bersimbah darah pula”- Sujiwo Tejo Dr upadi. Pertanyaannya bukanlah apakah mereka bisa tapi apakah mereka dapat merasakan kembali kebahagian yang kenangan imingkan, kenangan atas kebahagian menanam dan terhubung dengan pengetahuan adalah keinginan untuk kembali ke sesuatu yang diyakini meninggi atau dengan kata lain bangkit adalah hanya soal mencari sesuatu yang memang sudah ada, mengumpulkan puing-puing yang entah ditaruh mana, mengamati kesalahan dan kebahagian, memandang segala pegalaman yang memang sudah ada dan menghubungkannya dengan pengetahuan. Ah hidup kembali terhubung, jalan-jalan menjadi lebih cepat dari biasanya, mungkin keterhubunganlah yang selama ini
ADVERTISEMENT
rindukan seakan bercermin di lautan mangrove sudah dangkal sambil menunduk pula. Keterhubungan. Dan JNE memfasilitasi keterhubungan masyarakat Indonesia, bukan hanya sekadar memfasilitasi tapi juga dengan sungguh-sungguh memastikan ketenangan, menghubungkan adanya pikiran tentang keinginan dan realitas keterjadian. Sungguh sebuah keterhubungan.
Lukisan Agus Noor_Rembang Petang Sepulang Dari Rembang_dari Instagram Agus Noor
#JNE32tahun #JNEBangkitBersama #jnecontentcompetition2023 #ConnectingHappiness