Gencatan Senjata Gaza Selalu Runtuh: Apa Kata Geopolitik dan Teori HI?

Founder Bintang Ilmu Center, Purwakarta Pengamat Isu Aktual Kebangsaan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ressy Nisia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Krisis kemanusiaan di Gaza hari ini mencapai titik tragis yang sulit dicerna nalar. Lebih dari 1,9 juta warga terpaksa mengungsi, sementara 576 ribu orang berada pada tingkat kelaparan catastrophic. Rumah sakit runtuh, air bersih tak mengalir, dan musim dingin menembus tenda-tenda plastik yang rapuh. Gaza bukan hanya berada di bawah serangan, tetapi juga di bawah struktur kontrol yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Di tengah seruan gencatan senjata, muncul pertanyaan penting: apakah penghentian tembakan cukup untuk mengubah nasib Gaza? Jawabannya tegas: tidak. Karena akar persoalan Gaza bukan terletak pada perang semata, tetapi pada struktur geopolitik dan ketimpangan kekuasaan global yang jauh lebih dalam.
Gaza Adalah Simpul Geopolitik, Bukan Sekadar Wilayah Konflik
Gaza terletak di titik strategis: pesisir Mediterania Timur, perlintasan jalur energi, dan bersebelahan dengan dua negara kunci kawasan, Israel dan Mesir. Namun, wilayah kecil ini tidak memiliki kendali atas perbatasan, udara, maupun lautnya sendiri. Blokade berpuluh tahun membuat hampir seluruh aspek kehidupan di Gaza bergantung pada keputusan eksternal.
Dengan kata lain, Gaza adalah wilayah yang secara geopolitik penting, namun secara politik dan ekonomi dipaksa berada pada posisi pinggiran (periphery) dalam sistem global.
Tiga Kerangka Teori HI yang Menjelaskan Mengapa Gencatan Senjata Gagal Menyentuh Akar Masalah
Penjelasan mengapa gencatan senjatan tidak efektif menghentikan bertambahnya korban di Palestina, dapat dikaji melalui 3 kerangka teori Hubungan Internasional berikut:
1. Realisme: Ketimpangan Kekuasaan Menghasilkan Dominasi Permanen.
Realisme memandang dunia sebagai arena perebutan kekuasaan. Gaza berada pada posisi lemah dalam struktur kekuatan regional. Ketimpangan ini membuat gencatan senjata hanya berfungsi sebagai jeda perang, bukan perubahan struktur. Tidak ada jaminan keamanan atau kedaulatan selama Gaza tetap tanpa dukungan regional yang terorganisir.
2. Konstruktivisme: Narasi “Ancaman” Menenggelamkan Narasi “Kemanusiaan”
Dalam konstruktivisme, narasi global memengaruhi kebijakan. Gaza terus diposisikan sebagai isu “keamanan”, bukan isu kemanusiaan atau kolonialisme modern. Narasi inilah yang membuat dunia lebih toleran terhadap penderitaan warga Gaza dibandingkan krisis lain.
3. Teori Sistem Dunia: Gaza sebagai Ruang Pinggiran yang Dikendalikan Pusat Global
Dalam perspektif Wallerstein, Gaza adalah wilayah pinggiran yang tergantung pada kepentingan pusat global. Ia tidak memiliki otonomi ekonomi dan tidak diizinkan berkembang secara mandiri. Selama posisi ini tidak diubah, gencatan senjata hanya akan meredakan gejala, bukan menyembuhkan penyakitnya.
Konsolidasi Politik sebagai Landasan Historis dan Prasyarat Semua Jalan Keluar
Solusi apa pun untuk Gaza tidak bisa dilepaskan dari pelajaran sejarah politik Islam awal dan pengalaman global lain dalam pembebasan bangsa. Semua jalan keluar—regional, internasional, maupun diplomatik—membutuhkan satu fondasi utama: konsolidasi politik. Tanpa itu, seluruh solusi lain hanya bertahan di atas pasir.
Secara historis, politik Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa perubahan struktural hanya mungkin melalui persatuan politik. Ummah terbentuk bukan hanya sebagai identitas spiritual, tetapi sebagai struktur politik yang solid. Persatuan ini menjadi kekuatan yang mampu menandingi struktur kekuasaan imperium.
Hal ini dapat dibuktikan manakala Nabi Muhamad SAW mampu meruntuhkan kekuasaan imperium Roma dan Persia melalui institusi politik.
Dalam konteks Gaza, konsolidasi negara-negara Muslim adalah prasyarat bagi seluruh solusi lainnya. Fragmentasi kebijakan negara-negara Muslim membuat Gaza berdiri sendirian. Dalam logika realis, kekuatan hanya dapat ditahan oleh kekuatan. Dibutuhkan dukungan regional yang terorganisasi dengan meningkatkan daya tawar diplomatik, menciptakan tekanan politik terhadap aktor dominan, mengubah kalkulasi geopolitik kawasan serta mengirimkan bantuan militer sebagai jihad fii sabilillah.
Berikutnya, upaya reframing narasi internasional. Dunia harus dipaksa bergeser dari melihat Gaza sebagai “ancaman keamanan” menjadi “korban penjajahan dan krisis kemanusiaan ekstrem”. Narasi baru ini mengubah opini publik global untuk membuka ruang bagi legitimasi diplomatik Palestina dan jalan kemerdekaan bagi Palestina.
Upaya lainnya melalui tekanan diplomatik dan ekonomi terkoordinasi. Boikot negara, pembatasan kerja sama militer, hingga langkah-langkah diplomatik kolektif dapat memberikan tekanan nyata. Tetapi efektivitasnya tetap mensyaratkan aktor Palestina yang bersatu, dukungan regional terpadu, dan strategi diplomatik yang jelas.
Jalan Keluar Gaza Dimulai dari Konsolidasi Politik
Gencatan senjata adalah kebutuhan moral, tetapi bukan solusi struktural. Akar masalah Gaza terletak pada ketimpangan kekuasaan, dominasi geopolitik, dan narasi global yang menormalisasi penderitaan. Selama Gaza tidak memiliki fondasi politik yang kuat dan bersatu, seluruh solusi lain akan rapuh dan sementara.
Konsolidasi politik adalah syarat utama yang membuka pintu bagi semua strategi: regional, diplomatik, ekonomi, maupun naratif.
Demikianlah landasan historis, teori hubungan internasional, dan dinamika geopolitik modern. Gaza tidak hanya membutuhkan senyapnya senjata—Gaza membutuhkan kekuatan politik yang memungkinkan kemerdekaannya berdiri sebagai fakta, bukan sekadar doa.
Nabi Muhamad SAW bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)". ( HR Bukhari dan Muslim)
Wallahu a'lam bishawab.
