Iran-AS: Ilusi Kemenangan dalam Geopolitik Global

Founder Bintang Ilmu Center, Purwakarta Pengamat Isu Aktual Kebangsaan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ressy Nisia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memperlihatkan pola klasik dalam politik global ketika semua pihak mengklaim kemenangan. Mojtaba Khamenei menyampaikan keberhasilan Iran, sementara Donald Trump menegaskan posisi Amerika sebagai pihak yang unggul.
Namun dalam praktik geopolitik, klaim semacam itu sering kali lebih mencerminkan kebutuhan narasi domestik daripada perubahan nyata dalam struktur kekuasaan global.
Kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang paling vokal, tetapi oleh siapa yang mampu mempertahankan dan memperluas pengaruhnya secara berkelanjutan.
Selat Hormuz: Angka yang Menentukan Dunia
Eskalasi di Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam membaca konflik ini. Jalur ini menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, atau sekitar 17–20 juta barel per hari menurut International Energy Agency dan U.S. Energy Information Administration.
Ketika Amerika Serikat memperketat kontrol di kawasan tersebut dan Iran merespons dengan ancaman terhadap kapal-kapal di wilayah itu, yang dipertaruhkan bukan hanya konflik militer, tetapi stabilitas ekonomi global.
Iran: Kemenangan Taktis dalam Tekanan Global
Di tengah ketimpangan kekuatan militer global, Iran menunjukkan bentuk kemenangan yang tidak konvensional—kemenangan taktis.
Tanpa menyamai kekuatan militer Amerika Serikat, Iran mampu memanfaatkan strategi asimetris: penguasaan geografi, tekanan di jalur energi global, serta kemampuan mempertahankan daya ganggu di kawasan strategis.
Keberadaannya di sekitar Selat Hormuz—jalur vital energi dunia—memberikan leverage yang tidak bisa diabaikan. Bahkan dalam kondisi tekanan militer dan ekonomi, Iran tetap mampu menciptakan ketidakpastian yang memaksa kekuatan besar untuk mempertimbangkan jalur negosiasi.
Dengan kata lain, Iran mungkin tidak memenangkan perang secara konvensional, tetapi berhasil mengubah posisi dari objek tekanan menjadi subjek tawar-menawar.
Daya Tawar Iran: 10 Poin dalam Bingkai Geopolitik
Kekuatan taktis tersebut kemudian diterjemahkan Iran ke dalam arena diplomasi melalui kerangka 10 poin gencatan senjata yang diajukan kepada Amerika Serikat.
Poin-poin tersebut mencakup tuntutan strategis: jaminan non-agresi, pencabutan sanksi ekonomi, pengakuan hak nuklir, hingga penarikan pasukan Amerika dari kawasan Timur Tengah, serta kontrol atas wilayah strategis seperti Selat Hormuz.
Secara substantif, ini mencerminkan upaya Iran untuk memulihkan kedaulatan dalam tiga dimensi utama: ekonomi, militer, dan politik internasional.
Namun demikian, tidak seluruh poin tersebut diterima sebagai kesepakatan final. Hal ini menegaskan bahwa apa yang disebut kemenangan sejatinya masih berada dalam ruang negosiasi.
Struktur Kekuatan Global: Ketimpangan yang Nyata
Untuk memahami konflik ini, perlu dilihat struktur kekuatan global yang lebih luas.
Amerika Serikat tetap menjadi kekuatan dominan dengan anggaran militer sekitar USD 800–877 miliar per tahun, atau hampir 40% belanja militer global (Stockholm International Peace Research Institute).
Di bidang ekonomi, dolar AS masih mencakup sekitar 58% cadangan devisa dunia (International Monetary Fund), dan lebih dari 80% transaksi perdagangan global melibatkan dolar (Bank for International Settlements).
Dominasi ini menunjukkan bahwa kekuatan global dibangun melalui sistem jangka panjang, bukan hanya satu konflik.
Dunia Muslim: Potensi Politik, Ekonomi, dan Militer
Jika Iran sebagai satu negara mampu menciptakan tekanan geopolitik yang signifikan, maka secara teoritis dunia Muslim memiliki potensi yang jauh lebih besar.
Dengan 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam dan populasi sekitar 1,9 miliar jiwa, dunia Muslim merupakan salah satu blok politik terbesar di dunia.
Dalam sektor energi, kawasan ini menguasai sekitar 48% cadangan minyak global dan lebih dari 40% cadangan gas dunia (Organization of the Petroleum Exporting Countries). Secara agregat, PDB negara-negara OIC mencapai USD 8–10 triliun (Islamic Development Bank).
Dalam konteks militer, belanja pertahanan negara-negara Muslim secara kolektif mencapai ratusan miliar dolar, dengan beberapa negara memiliki kapasitas pertahanan signifikan.
Secara politik internasional, jumlah negara dan posisi geografis strategis menjadikan dunia Muslim memiliki potensi besar untuk memengaruhi arah kebijakan global.
Fragmentasi: Kelemahan yang Menggerus Potensi
Namun realitas menunjukkan paradoks dunia Muslim. Potensi besar tersebut belum terkonversi menjadi kekuatan kolektif karena fragmentasi yang terus berlangsung. Perbedaan kepentingan politik, konflik antarnegara, serta keterikatan pada kekuatan global membuat dunia Muslim tidak bergerak sebagai satu kesatuan strategis
Dalam bidang ekonomi, perdagangan intra-kawasan masih rendah. Dalam militer, tidak terdapat sistem pertahanan kolektif yang terintegrasi. Dalam politik global, suara yang besar sering kali terpecah.
Akibatnya, dunia Muslim berada dalam posisi yang kontradiktif: memiliki sumber daya strategis besar, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi daya tawar global yang utuh.
Persatuan: Nilai Normatif dan Implikasi Strategis
Dalam Islam, persatuan bukan sekadar nilai moral, tetapi memiliki implikasi sosial dan amanah Ilahiah.
Al-Qur’an menegaskan:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103)
“Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…” (QS. Al-Anfal: 46)
Pesan ini menunjukkan bahwa perpecahan tidak hanya berdampak spiritual, tetapi juga melemahkan kekuatan kolektif.
Pelajaran Sejarah: Institusi sebagai Sumber Kekuatan
Sejarah menunjukkan bahwa persatuan yang ditopang institusi mampu melahirkan kekuatan global.
Pada masa Khilafah Abbasiyah, Baghdad menjadi pusat ilmu dunia melalui Bayt al-Hikmah.
Sementara itu, Kekhalifahan Utsmaniyah mampu bertahan lebih dari 600 tahun dan menguasai jalur perdagangan strategis.
Dalam militer, kemenangan di Pertempuran Yarmuk hingga Jatuhnya Konstantinopel menunjukkan kekuatan politik yang terorganisasi mampu mengubah peta dunia.
Penutup: Dari Narasi Menuju Kekuatan Nyata
Konflik Iran–Amerika menunjukkan bahwa dalam politik global, klaim kemenangan tidak selalu mencerminkan perubahan kekuatan yang sesungguhnya.
Iran memberikan pelajaran bahwa bahkan dalam keterbatasan, strategi yang tepat mampu menciptakan daya tekan global. Namun dunia Muslim memperlihatkan tantangan yang berbeda: potensi besar yang belum terorganisasi menjadi kekuatan kolektif.
Dalam dunia yang diukur oleh energi, militer, dan ekonomi, kekuatan tidak lahir dari retorika, tetapi dari kemampuan mengonsolidasikan sumber daya secara institusional.
Pada akhirnya, kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras mengeklaim, tetapi oleh siapa yang mampu mengubah potensi menjadi kekuatan yang terorganisasi dan berdaya tawar nyata.
Wallahu a’lam bishawab.
