Mengenal Global March to Gaza sebagai Manifestasi Empati Dunia

Founder Bintang Ilmu Center, Purwakarta Pengamat Isu Aktual Kebangsaan
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Ressy Nisia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Global March to Gaza merupakan insiatif internasional yang dipimpin warga sipil untuk melakukan aksi jalan kaki dari Arish, Mesir menuju perlintasan perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza, Palestina.
Aksi yang diikuti oleh lebih dari 10 ribu orang dari 80 negara ini menyita perhatian publik internasional, mengangkat isu Palestina ke halaman depan media global dan memberi tekanan moral dan politik kepada negara-negara besar.
Fakta tentang genosida terhadap Gaza memantik empati warga dunia. Data Kementerian Kesehatan Palestina, menyebutkan setidaknya ada 54.249 jiwa syahid sejak Oktober 2024. Lebih dari 70% korban adalah perempuan dan anak-anak. Infrastruktur sipil seperti rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsian dijadikan target serangan. Lebih dari 80% warga Gaza kini menjadi pengungsi di tanah mereka sendiri.
Aksi solidaritas warga sipil dunia ini membuktikan bahwa untuk memanusiakan manusia, tidak memandang suku bangsa, ras atau agama. Aksi ini bukan hanya teguran keras bagi penjajah tetapi juga bagi para pemimpin negara-negara Muslim yang bersembunyi dibalik tameng retorika.
Retorika: Senjata Tumpul Para Penguasa
Selama ini para pemimpin negara-negara besar, termasuk dari dunia Islam, berlomba-lomba mengutuk serangan Israel. Mereka menyampaikan pidato emosional di forum internasional, mengibarkan bendera Palestina di kantor-kantor pemerintahan, tetapi abai dalam memberikan tindakan nyata yang mampu menghentikan genosida di Palestina.
Lihat saja bagaimana Mesir tetap menutup perbatasan Rafah dalam sebagian besar waktu agresi, menghalangi bantuan masuk ke Gaza. Negara-negara Arab, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko masih mempertahankan hubungan dagang dan diplomatik dengan Israel. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia pun belum mengambil langkah politik untuk memutus hubungan dengan negara pendukung Israel atau mendorong pengerahan kekuatan militer melalui OKI.
Kutukan para pemimpin negara Muslim hanya menjadi gema kosong tanpa tindak lanjut. Mereka berbicara tentang kemerdekaan Palestina, namun tangan mereka tetap terikat pada kepentingan geopolitik dan diplomasi penuh basa-basi. Tidak ada embargo, tidak ada tekanan nyata, tidak ada langkah konkret yang bisa mengubah penderitaan menjadi pembebasan Palestina dari penjajahan dan genosida. Dunia Islam benar-benar telah dilemahkan oleh sistem yang ada. Padahal, diamnya pemimpin sama mematikannya dengan senjata para penjajah.
Palestina Butuh Tentara, Bukan Sekadar Doa
Genosida tidak bisa dihentikan hanya dengan doa bersama dan long march. Dalam sejarah dunia, penjajahan hanya bisa diakhiri melalui dua jalan, yaitu diplomasi yang kuat dan kekuatan bersenjata.
Kita mengingat bagaimana bangsa Vietnam mempertahankan kemerdekaannya melalui perlawanan bersenjata. Demikian pula Afrika Selatan yang pada akhirnya membebaskan diri dari apartheid, bukan hanya dengan tekanan publik, tetapi dengan dukungan gerakan perlawanan yang konsisten.
Namun ironisnya dunia Islam dengan lebih dari 50 negara anggota OKI dan lebih dari 2 miliar populasi Muslim, benar-benar tidak mampu membentuk kekuatan kolektif untuk menurunkan tentara ke Palestina. 57 negara Muslim hanya bisa mengeluarkan resolusi demi resolusi basa-basi yang tidak pernah berkelanjutan.
Dorongan Simpati Menuju Aksi
Global March to Gaza adalah manifestasi empati dunia. Namun aksi solidaritas tanpa langkah strategis dari para pemimpin hanya akan menjadi tontonan tahunan yang tidak mengubah apa pun. Saat ini, rakyat telah melakukan perannya. Kini giliran pemimpin dunia untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya pandai berretorika
Karena pada akhirnya, hanya kekuatan yang bisa menghentikan kekerasan. Dan hanya keberanian yang bisa membebaskan Palestina. Seruan Global March to Gaza sudah sepatutnya memantik semangat para pemimpin negara Muslim untuk bersatu, berlepas diri dari berbagai ikatan kepentingan dan menghimpun persatuan politis di bawah kalimat "Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" .
Derita warga Gaza bukan hanya menembus nurani, tetapi menembus akhirat. Wahai para penguasa Muslim, jawaban apa yang akan kalian siapkan ketika Allah swt bertanya, "Di mana kamu saat saudara Muslimmu dibantai dan diluluhlantakkan?"
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh akan merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan merasa demam." (HR. Muslim)
Wallahu a'lam bishawab.
